Disbun Sumsel Ungkap Penyebab Harga TBS Sawit Turun Saat Dolar Menguat
Dinas Perkebunan Provinsi Sumatra Selatan mengungkap pemicu utama penurunan harga tandan buah segar atau TBS kelapa sawit pada periode II Mei 2026. Penurunan harga komoditas andalan ini tetap terjadi di tingkat peternak dan kemitraan meskipun mata uang dolar Amerika Serikat dilaporkan tengah mengalami penguatan di pasar global.
Berdasarkan hasil rapat penetapan harga pada Kamis, 21 Mei 2026, Dinas Perkebunan Sumatra Selatan atau Disbun Sumsel mengumumkan bahwa penurunan ini dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil yang mengalami koreksi di pasar internasional. Melemahnya harga kontrak CPO global secara langsung menekan harga pembelian TBS di tingkat lokal.
Kondisi pasar yang dinamis ini membuat para petani kelapa sawit harus menerima kenyataan bahwa penguatan mata uang asing tidak serta-merta mengerek pendapatan mereka. Tren penurunan harga komoditas ini menjadi perhatian serius bagi pelaku usaha perkebunan di wilayah Sumatra Selatan.
Rincian Harga TBS Sawit Sumatra Selatan Berdasarkan Kelompok Usia Tanam
Penurunan harga komoditas ini terjadi secara merata pada seluruh kelompok umur tanam kelapa sawit di Sumatra Selatan. Untuk tanaman usia produktif yakni 10 hingga 20 tahun, harga ditetapkan sebesar Rp3.864,31 per kilogram, mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode I Mei 2026 yang sempat mencapai Rp3.898,14 per kilogram.
Sementara itu, angka tertinggi pada periode ini tercatat pada kelompok usia tanam 22 tahun yang dihargai Rp3.868,17 per kilogram. Nominal tersebut juga terpantau melandai dari periode sebelumnya yang bertengger di angka Rp3.905,44 per kilogram.
Disbun Sumsel merilis daftar lengkap harga TBS sawit untuk memberikan transparansi informasi bagi seluruh petani dan perusahaan kemitraan di daerah tersebut. Berikut adalah rincian harga pembelian TBS kelapa sawit yang berlaku untuk periode II Mei 2026:
| Umur Tanaman (Tahun) | Harga per Kilogram (Rp) |
|---|---|
| 3 Tahun | 3.237,61 |
| 4 Tahun | 3.339,51 |
| 5 Tahun | 3.480,81 |
| 6 Tahun | 3.514,35 |
| 7 Tahun | 3.509,47 |
| 8 Tahun | 3.643,74 |
| 9 Tahun | 3.721,77 |
| 10–20 Tahun | 3.864,31 |
| 21 Tahun | 3.855,35 |
| 22 Tahun | 3.868,17 |
| 23 Tahun | 3.841,52 |
| 24 Tahun | 3.735,99 |
Faktor Eksternal Penentu Fluktuasi Pasar CPO Global
Pihak berwenang menjelaskan bahwa mekanisme pasar kelapa sawit sangat bergantung pada serapan ekspor dan kondisi stok di negara-negara tujuan utama. Meskipun nilai tukar dolar Amerika Serikat naik, jika permintaan global melambat atau pasokan melimpah, harga jual otomatis akan terkoreksi ke bawah.
Selain dinamika harga global, para petani kelapa sawit saat ini juga tengah mengamati berbagai wacana kebijakan tata niaga di tingkat nasional. Salah satu sentimen yang berkembang di industri kelapa sawit adalah adanya rencana ekspor sawit lewat bumn satu pintu yang terus dikaji pemerintah.
Rencana sentralisasi tersebut memicu beragam reaksi dari asosiasi dan pelaku usaha kelapa sawit karena dikhawatirkan dapat memengaruhi pola kemitraan yang sudah berjalan. Kendati demikian, Disbun Sumsel memastikan proses penetapan harga TBS di tingkat daerah akan tetap mengacu pada regulasi serta formula indeks K yang berlaku adil bagi korporasi maupun petani swadaya.
Harga komoditas dapat berfluktuasi sewaktu-waktu. Berbelanja dengan bijak dan pantau informasi harga resmi dari pemerintah.
Melalui pemantauan rutin ini, Disbun Sumsel berharap fluktuasi harga kelapa sawit dapat diantisipasi dengan baik oleh para petani melalui efisiensi biaya produksi di lapangan. Rapat penetapan harga berikutnya dijadwalkan akan kembali digelar pada awal bulan depan guna menyesuaikan perkembangan pasar minyak nabati dunia terbaru.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow