Jerome Powell Akhiri Jabatan sebagai Ketua Federal Reserve
Ketua Federal Reserve Jerome Powell resmi menyelesaikan masa jabatannya pada Jumat, 15 Mei 2026, setelah memimpin bank sentral Amerika Serikat melalui periode penuh gejolak ekonomi, termasuk pandemi dan lonjakan inflasi.
Dilansir dari NPR, Powell akan tetap berada di dalam jajaran dewan gubernur Federal Reserve hingga tahun 2028 mendatang. Selama kepemimpinannya, ia mengawasi ekonomi AS saat inflasi melonjak hingga 9,1 persen sebelum akhirnya turun mendekati target 2 persen.
Masa jabatan Powell juga diwarnai ketegangan politik yang tinggi dengan pihak eksekutif. Mantan Presiden Donald Trump, yang awalnya menominasikan Powell, berulang kali melontarkan kritik tajam secara terbuka terkait kebijakan suku bunga.
Ketegangan antara pemerintah dan bank sentral ini mulai menarik perhatian publik sekitar 10 bulan setelah Powell menjabat pada tahun 2018. Saat itu, Federal Reserve telah menaikkan suku bunga beberapa kali di tengah situasi inflasi yang cukup tinggi.
Tepat sehari sebelum pertemuan penting Federal Reserve diadakan, tensi politik meningkat setelah presiden mengunggah pernyataan protes melalui media sosial.
"incredible," kata Donald Trump, Mantan Presiden Amerika Serikat.
Pemerintah AS kemudian melanjutkan tekanan pada hari berikutnya dengan mengeluarkan peringatan tertulis agar bank sentral tidak mengambil langkah yang dinilai keliru.
"the Fed is even considering yet another interest rate hike," cuit Donald Trump, Mantan Presiden Amerika Serikat.
Pihak administrasi mendesak agar institusi tersebut menahan diri dari kebijakan pengetatan moneter lebih lanjut.
"make yet another mistake," tambah Donald Trump, Mantan Presiden Amerika Serikat.
Meskipun menerima tekanan bertubi-tubi dari pihak Gedung Putih, Federal Reserve tetap memutuskan untuk menaikkan suku bunga pada hari itu dan terkesan mengabaikan intervensi politik demi menjaga independensi lembaga.
Mantan pejabat bank sentral turut memberikan pandangan mengenai pentingnya menjaga institusi dari intervensi politik jangka pendek agar kebijakan ekonomi tetap objektif.
"This is Janet Yellen, former chair of the Board of Governors of the Federal Reserve. I want to wish everybody a very happy Fed Independence Day." ujar Janet Yellen, Mantan Ketua Federal Reserve.
Sejarah independensi bank sentral AS sendiri tercatat bermula dari nota kesepahaman antara Departemen Keuangan dan Federal Reserve pada 4 Maret 1951, setelah inflasi pasca-Perang Dunia II sempat menyentuh angka 21 persen akibat intervensi presiden.
Sebelum kesepakatan tahun 1951 tersebut tercapai, Presiden Lyndon B. Johnson juga tercatat pernah melakukan komunikasi langsung untuk mendekati pimpinan bank sentral yang baru menjabat.
"Bill, I just wanted to thank you for your most thoughtful and generous letter, and I appreciate it so much. And--" kata Lyndon B. Johnson, Mantan Presiden Amerika Serikat.
Dalam dialog awal tersebut, pihak eksekutif menyatakan posisinya untuk mendengarkan masukan terkait kebijakan moneter dari otoritas yang berwenang.
"Well, you just assume that you're starting with someone who doesn't know much about your shop. And then you start to tell me what I ought to know about it." tutur Lyndon B. Johnson, Mantan Presiden Amerika Serikat.
Menanggapi pernyataan dari kepala negara, pimpinan bank sentral saat itu menyatakan komitmennya untuk memberikan dukungan penuh bagi stabilitas negara.
"Well, I certainly will help in every way that I can, Mr. President." jawab William McChesney Martin, Mantan Ketua Federal Reserve.
Kini, seiring masuknya Ketua Federal Reserve yang baru dinominasikan oleh Trump, publik dan pelaku ekonomi global tengah memperhatikan tanda-tanda apakah independensi bank sentral AS akan tetap bertahan kuat atau justru melemah.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow