Rupiah Anjlok ke Rp17.704 per Dolar AS pada 24 Mei 2026
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini Minggu, 24 Mei 2026 terpantau bertengger di level Rp17.704,00 per dolar AS berdasarkan penutupan kurs spot akhir pekan terupdate. Angka ini mencerminkan pelemahan sebesar 0,31 persen dari sesi perdagangan sebelumnya yang memicu kekhawatiran pelaku pasar domestik.
Kondisi ini memperparah tren negatif mata uang Garuda yang terus tertekan dalam beberapa waktu terakhir. Berdasarkan data ekonomi terbaru, performa nilai tukar rupiah terupdate mencatat penyusutan yang cukup signifikan, yakni melemah hingga 2,12 persen dalam kurun waktu satu bulan terakhir.
Jika ditarik secara tahunan berjalan atau year-to-date (ytd), mata uang Indonesia telah mengalami penurunan performa mendekati 6 persen, atau tepatnya berada di angka 5,6 persen ytd. Tekanan eksternal yang kuat ditengarai menjadi alasan utama mengapa nilai mata uang turun secara drastis.
Secara historis dalam rentang waktu yang panjang dari tahun 1994 hingga 2026, nilai tukar saat ini mendekati rekor terendah sepanjang masa. Rekor pelemahan rupiah paling dalam terhadap dolar AS berada di angka Rp17.829 yang juga terjadi pada bulan Mei 2026 ini, sementara level terkuatnya pernah berada di angka Rp2.096,00.
Pengamat pasar keuangan menilai terdapat kesenjangan indikator makroekonomi yang lebar antara Indonesia dan Amerika Serikat. Salah satu pemicu utamanya adalah kondisi inflasi di negara paman sam tersebut yang masih berada di level tinggi.
Tingkat inflasi Amerika Serikat tercatat menyentuh angka 3,80 persen per April 2026. Angka tersebut memicu spekulasi bahwa bank sentral AS akan mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam jangka waktu yang lebih lama dari perkiraan semula.
Kenaikan inflasi global ini berbanding terbalik dengan kondisi domestik di mana tingkat inflasi Indonesia justru terjaga rendah di angka 2,42 persen per April 2026. Kendati inflasi domestik terkendali, daya tarik aset investasi AS yang menawarkan imbal hasil tinggi membuat aliran modal keluar dari pasar keuangan dalam negeri.
Perbandingan Indikator Ekonomi Indonesia dan Amerika Serikat
Faktor lain yang memengaruhi cara menghitung kurs spot dan forward di pasar valuta asing adalah kebijakan suku bunga acuan kedua negara. Saat ini, Bank Indonesia menerapkan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas nilai tukar dengan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.
Berikut adalah rincian data indikator ekonomi dan keuangan terkini antara Indonesia dan Amerika Serikat per April-Mei 2026:
| Indikator Ekonomi | Indonesia | Amerika Serikat |
|---|---|---|
| Tingkat Inflasi (April 2026) | 2,42% | 3,80% |
| Suku Bunga Acuan (Mei 2026) | 5,25% | 3,75% |
| Tingkat Pengangguran | – | 4,30% |
| Pelemahan Rupiah (12 Bulan) | 8,97% | – |
Meskipun suku bunga Indonesia berada di angka 5,25 persen atau lebih tinggi dari suku bunga Amerika Serikat yang sebesar 3,75 persen, sentimen pasar global masih cenderung memilih dolar AS sebagai aset aman (safe haven). Terlebih, tingkat pengangguran Amerika Serikat berada di angka 4,30 persen yang menunjukkan kondisi ekonomi mereka masih relatif solid.
Daftar Kurs Transaksi Bank Indonesia Hari Ini
Bank Indonesia mempublikasikan nilai tukar mata uang asing sebagai acuan transaksi bagi masyarakat maupun pelaku usaha. Untuk pecahan selain Yen Jepang (JPY), nilai satuan mata uang asing menggunakan nilai dasar 1, sedangkan JPY menggunakan nilai satuan 100.
Berikut beberapa daftar mata uang asing yang tercatat resmi dalam kurs transaksi Bank Indonesia:
- USD (Dolar Amerika Serikat)
- SGD (Dolar Singapura)
- EUR (Euro)
- GBP (Poundsterling Inggris)
- AUD (Dolar Australia)
- JPY (Yen Jepang - per 100 JPY)
- CNY (Yuan China)
- MYR (Ringgit Malaysia)
- THB (Baht Thailand)
- SAR (Riyal Arab Saudi)
Harga komoditas dan nilai tukar valuta asing dapat berfluktuasi sewaktu-waktu secara dinamis. Berbelanja dan bertransaksi dengan bijak serta pantau informasi harga resmi dari otoritas perbankan.
Dalam kurun waktu 12 bulan terakhir, total penyusutan nilai rupiah sudah menyentuh angka 8,97 persen. Pelaku industri manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor kini mulai mengantisipasi lonjakan biaya produksi akibat terus melonjaknya harga dolar hari ini di pasar spot valas.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow