Peneliti Ungkap Lima Faktor Pemicu Berulangnya Wabah Ebola di Afrika
Para peneliti mengungkapkan bahwa kombinasi kondisi ekologi hutan tropis, keberadaan reservoir alami, deforestasi, tradisi lokal, serta lemahnya sistem kesehatan menjadi penyebab utama virus Ebola terus mewabah di Kawasan Afrika Tengah dan Barat.
Penjelasan para ahli tersebut mengemuka setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan status darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (PHEIC) pada Minggu (17/5/2026) akibat lonjakan kasus Ebola varian Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda.
Berdasarkan data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) per Minggu (17/5/2026), jumlah kasus di DRC telah melonjak menjadi 10 kasus terkonfirmasi, 336 kasus suspek, dan 88 korban jiwa.
Kelelawar buah spesies Eidolon helvum diidentifikasi sebagai kandidat terkuat inang alami virus ini karena mampu membawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit, dengan peta persebaran habitat yang sama persis dengan histori lokasi wabah.
Faktor ini diperparah oleh tingginya laju deforestasi yang menipiskan batas antara manusia dan satwa liar, di mana data World Wide Fund for Nature menunjukkan korelasi kuat antara kerusakan hutan dan titik penularan awal dari hewan ke manusia.
Selain itu, tradisi berburu dan mengonsumsi daging satwa liar (bushmeat) sebagai sumber protein utama di pedesaan Afrika turut membuka jalur penularan langsung melalui kontak darah selama proses pengulitan dan pemotongan.
Penyebaran antarmanusia kemudian dipercepat oleh faktor sosial budaya, terutama praktik pemakaman tradisional yang melibatkan aktivitas memandikan jenazah pasien terinfeksi.
WHO mencatat hampir 60% kasus Ebola di Guinea berkaitan langsung dengan tradisi penghormatan terakhir tersebut, mengingat jenazah pasien Ebola memiliki konsentrasi virus yang sangat tinggi.
Skala penyebaran dari kasus tunggal hingga menjadi epidemi besar pada akhirnya ditentukan oleh kualitas sistem kesehatan setempat, seperti yang terbukti pada pemandangan wabah besar di Afrika Barat periode 2014–2016.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow