Gempa Kembar Venezuela Tewaskan 920 Orang dan Pemicu Beruntun Dunia

Smallest Font
Largest Font

Rangkaian gempa susulan sebanyak 302 kali mengguncang Venezuela pascaguncangan gempa kembar bermagnitudo 7,2 dan 7,5 pada Rabu (24/6/2026) petang waktu setempat yang mengakibatkan sedikitnya 920 orang meninggal dunia.

Otoritas penanggulangan bencana setempat melaporkan bahwa bencana ini juga melukai 3.360 orang, sementara 172 orang diperkirakan masih terjebak di bawah puing bangunan dan lebih dari 50.000 warga dinyatakan hilang. Kerusakan parah terjadi di wilayah La Guaira serta ibu kota Caracas, termasuk hancurnya 400 rumah, fasilitas rumah sakit, pusat perbelanjaan, dan penutupan bandara utama.

Badan PBB mengonfirmasi telah mengerahkan hampir 2.000 personel penyelamat internasional ke lokasi terdampak guna membantu evakuasi korban, termasuk penyelamatan dramatis seorang bayi yang berhasil diangkat hidup-hidup dari reruntuhan.

"Sejak pukul 18.03 waktu setempat pada tanggal 24 Juni hingga saat ini, kami telah mencatat total 302 peristiwa seismik. Selain dua gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,2 dan Magnitudo 7,5 tersebut, terdapat 300 peristiwa seismik lainnya, yang merupakan gempa susulan," ujar ketua Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodriguez, dalam pidato yang disiarkan saluran televisi pemerintah, VTV, seperti dilansir RIA Novosti, Sabtu (27/6/2026).

Rodriguez menambahkan bahwa seluruh aktivitas seismik tersebut terkonsentrasi di sepanjang tiga patahan geologis utama yang memotong wilayah negara tersebut.

Di sisi lain, laporan dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menetapkan status waspada merah karena potensi kerugian besar yang ditimbulkan oleh fenomena langka yang terjadi hanya dalam selisih 39 detik ini.

"Korban jiwa yang tinggi dan kerusakan yang luas kemungkinan besar terjadi, dan bencana ini kemungkinan meluas." tulis USGS dalam pernyataan siaga merah yang jarang terjadi.

Peristiwa ini berdekatan dengan guncangan seismik lain di dunia dalam kurun waktu 24 jam, termasuk gempa magnitudo 5,6 di California Utara dan gempa laut magnitudo 6,9 di Kuji, Jepang. Kendati memicu spekulasi global, para ahli memastikan rangkaian gempa di berbagai negara tersebut tidak saling berhubungan secara struktural.

"Gempa bumi terjadi setiap hari di seluruh dunia. Sebagian besar terjadi jauh dari permukiman manusia," kata Barnhart, asisten koordinator program bahaya gempa bumi Survei Geologi AS.

Barnhart menjelaskan bahwa hari tersebut menjadi momentum langka karena beberapa gempa signifikan terjadi di wilayah padat penduduk secara bersamaan.

Pakar teknik dari Universitas California, Los Angeles (UCLA), menilai rambatan gaya dari gempa bumi berjarak ribuan mil sangat kecil kemungkinannya menjadi penyebab langsung.

"Sebuah patahan mungkin sudah siap bergeser, dan kemudian jika terjadi gempa bumi di dekatnya, hal itu menyebabkan patahan tersebut melewati batasnya," kata Martin Hudson, profesor adjung teknik sipil dan lingkungan di UCLA.

Hudson menekankan bahwa secara statistik global, kemunculan puluhan gempa bermagnitudo di atas 7,0 adalah siklus tahunan yang wajar akibat pergeseran lempeng independen.

"Setiap tahunnya, terdapat puluhan gempa bumi dengan magnitudo lebih besar dari 7 di seluruh dunia," kata Hudson.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed