Harga Emas Antam dan Pegadaian Kompak Turun Tajam

Smallest Font
Largest Font

Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk atau Antam mengalami penurunan sebesar Rp31.000 menjadi Rp2.754.000 per gram di gerai Logam Mulia pada Kamis, 28 Mei 2026, menyusul pelemahan harga logam mulia di pasar global.

Penurunan ini menggenapi pelemahan harga emas Antam selama empat hari perdagangan beruntun dengan total akumulasi mencapai Rp49.000 per gram. Berdasarkan data dari situs resmi logammulia.com yang dikutip CNBC Indonesia, nilai pembelian kembali atau buyback juga merosot Rp37.000 ke level Rp2.557.000 per gram.

Kondisi tersebut menyebabkan selisih harga jual dan buyback atau spread di gerai Logam Mulia melebar hingga Rp197.000 per gram. Menurut laporan Kontan.co.id, besarnya spread ini membuat instrumen emas batangan lebih disarankan untuk investasi jangka panjang guna menutup potensi kerugian dari selisih transaksi harian.

Koreksi harga juga melanda emas batangan yang dijual di Pegadaian untuk tiga merek utama, yakni UBS, Antam, dan Galeri24. Dilansir Liputan6.com dari Antara, emas UBS hari ini dihargai Rp2.825.000 per gram, Antam Pegadaian Rp2.897.000 per gram, dan Galeri24 berada di angka Rp2.774.000 per gram.

Di pasar internasional, harga emas dunia merosot ke level terendah dalam dua bulan terakhir setelah ditutup melemah 1,09% ke posisi US$4.457,03 per troy ons pada perdagangan Rabu, 27 Mei 2026. Data Refinitiv menunjukkan bahwa tekanan dipicu oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga ketat dari bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.

Ketegangan geopolitik akibat konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir Februari turut memperparah ketidakpastian pasar. Blokade di Selat Hormuz menyebabkan harga minyak mentah Brent melonjak 31%, sehingga meningkatkan risiko inflasi global yang memaksa bank-bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi.

Meskipun situasi memanas, televisi pemerintah Iran mengabarkan adanya draf kesepakatan awal tidak resmi dengan Amerika Serikat untuk memulihkan aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz dalam waktu satu bulan. Sentimen ini sempat menahan kejatuhan emas lebih dalam, walau pergerakan pasar secara umum masih didominasi tren negatif.

Wakil Presiden sekaligus analis senior logam mulia di Zaner Metals, Peter Grant menjelaskan situasi Timur Tengah menjadi faktor dominan pergerakan komoditas ini.

"Masih ada sedikit optimisme di pasar sebelumnya, tetapi semakin lama konflik berlangsung, optimisme tersebut mulai memudar," ujar Peter Grant.

Ia menuturkan bahwa perang yang berkepanjangan tersebut memicu kecemasan terhadap eskalasi inflasi global.

"Masih ada sedikit optimisme di pasar sebelumnya, tetapi semakin lama konflik berlangsung, optimisme tersebut mulai memudar," kata Peter Grant.

Para pelaku pasar saat ini tengah mengantisipasi rilis data indeks harga Personal Consumption Expenditures atau PCE April dari Amerika Serikat yang dijadwalkan terbit pada hari Kamis ini. Data inflasi tersebut diproyeksikan akan menjadi indikator utama bagi arah kebijakan moneter serta penentuan suku bunga acuan The Fed selanjutnya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed