Drone Rakitan Ini Terbang 4 Jam Nonstop, YouTuber Asal Afrika Selatan Pecahkan Rekor Dunia

Smallest Font
Largest Font

Seorang YouTuber sekaligus pilot drone asal Cape Town, Afrika Selatan, bernama Luke Bell, berhasil memecahkan rekor dunia Guinness World Records dalam kategori penerbangan drone rakitan.

Luke Bell mencatatkan waktu terbang selama 4 jam 21 menit 39 detik secara non-stop tanpa mendarat. Pencapaian ini menempatkan drone hasil modifikasinya sebagai salah satu drone dengan waktu terbang terlama di dunia.

Rekor tersebut dicapai setelah Bell melakukan berbagai pengujian dan penyempurnaan berulang selama berbulan-bulan. Fokus modifikasinya meliputi pengurangan bobot, penguatan struktur rangka, hingga optimasi software pengendali penerbangan.

Spesifikasi Rekor Penerbangan Drone Luke Bell

Sebelum mengajukan rekor resmi, Bell sebenarnya sempat menerbangkan versi awal drone miliknya selama 3 jam 31 menit 6 detik. Namun, ia memilih tidak mendaftarkannya ke Guinness World Records demi mengejar selisih rekor yang lebih besar.

Berikut adalah rincian data pencapaian rekor dunia penerbangan drone yang dilakukan oleh Luke Bell:

Kategori Informasi Detail Pencapaian
Nama Pilot Luke Bell
Asal Kota Cape Town, Afrika Selatan
Durasi Terbang Resmi 4 jam 21 menit 39 detik
Durasi Terbang Versi Awal 3 jam 31 menit 6 detik
Kecepatan Rata-rata 5,5 meter per detik (20 km/jam)

Salah satu perubahan paling signifikan yang dilakukan Bell adalah mengganti dudukan penjepit dua bagian menjadi model penjepit berbentuk huruf C. Langkah sederhana ini sukses memangkas bobot drone hingga 26 gram.

Detail Modifikasi Rangka dan Perangkat Keras

Bell membangun ulang rangka drone menggunakan tabung serat karbon sepanjang 1,88 meter pada setiap lengan baling-baling. Desain baru ini menghilangkan titik sambungan yang sebelumnya menjadi bagian paling lemah pada struktur.

Ia juga menambahkan penguat pada lengan depan serta merancang dudukan khusus untuk menopang baterai berbobot 5 kilogram. Baterai tersebut memiliki kepadatan energi sebesar 380 Wh/kg untuk menyuplai daya selama penerbangan.

Untuk meredam benturan saat mendarat, drone ini dibekali kaki pendaratan hasil cetak 3D. Komponen tersebut menggunakan sambungan berbahan thermoplastic polyurethane (TPU).

Penyempurnaan Software dan Sistem Pengendali

Dari sisi perangkat lunak, Bell mengatasi masalah getaran besar yang sempat mengganggu sensor inersia (IMU) pada sistem kendali. Ia mengganti flight controller bawaan dengan Cube Orange Plus yang memiliki isolasi IMU lebih baik.

Drone ini juga dilengkapi antena eksternal yang terhubung ke sistem Here4 RTK (Real-Time Kinematic). Sistem tersebut memungkinkan drone menentukan posisi penerbangan dengan tingkat akurasi mencapai 1 cm.

Bell selanjutnya menyempurnakan sistem autopilot dengan mengatur notch filter guna menghilangkan frekuensi getaran penyebab ketidakstabilan sekaligus menekan konsumsi daya.

Pengecekan performa dilakukan secara langsung via koneksi Wi-Fi ke pemancar RadioMaster. Data penerbangan menunjukkan konsumsi daya drone mencapai 500 watt saat terbang lurus, dan turun menjadi 450 watt ketika bermanuver.

Temuan teknis tersebut membuat Bell mengubah rute di tengah percobaan dengan menambahkan lebih banyak tikungan agar konsumsi energi baterai menjadi jauh lebih efisien.

Drone kemudian dipacu dengan kecepatan sekitar 5,5 meter per detik atau 20 km/jam sebelum kembali ke titik awal. Bell membiarkan drone melayang sesaat hingga energi baterai benar-benar habis sebelum mendarat.

Menurut Bell, pencapaian ini menunjukkan bahwa daya tahan drone tidak hanya ditentukan oleh kapasitas baterai yang besar, tetapi juga dipengaruhi oleh efisiensi desain, optimalisasi perangkat lunak, dan penyempurnaan sistem penerbangan secara menyeluruh.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed