Insiden Cepirit Mewarnai Kemenangan Joanna Wietrzyk di HYROX Beijing

Smallest Font
Largest Font

Ajang HYROX Beijing 2026 diwarnai insiden tidak biasa ketika atlet wanita asal Australia, Joanna Wietrzyk, mengalami gangguan pencernaan berupa cepirit saat bertanding. Meski demikian, ia memilih untuk tidak berhenti dan terus melanjutkan kompetisi hingga garis finis.

Aksi pantang menyerah Joanna tersebut memicu beragam reaksi. Sebagian pihak memberikan apresiasi atas kegigihannya, sementara sebagian lainnya menyampaikan kritik karena khawatir tindakan itu memicu kontaminasi di arena pertandingan.

Sebagaimana dilansir dari Detik Health, Joanna berhasil keluar sebagai juara pada kategori Women's Pro Solo di HYROX Beijing pada September 2026. Ia membukukan catatan waktu 1 jam 1 menit 23 detik.

Hasil tersebut mengungguli atlet asal Amerika Serikat, Alyssa Mcelheny, yang finis di urutan kedua dengan durasi 1 jam 2 menit 8 detik. Sementara itu, posisi ketiga ditempati oleh wakil Jepang, Aki Yoshida, yang mencatatkan waktu 1 jam 4 menit 52 detik.

Kondisi medis yang dialami Joanna dikenal dengan istilah encopresis atau inkontinensia tinja, yaitu ketidakmampuan mengendalikan pengeluaran feses. Berdasarkan penjelasan Mayo Clinic, gangguan ini umumnya timbul akibat penumpukan feses yang mengeras di usus besar serta rektum.

Penumpukan tersebut membuat usus besar menjadi sangat penuh, sehingga feses cair merembes melalui celah di sekitar tinja yang tertahan. Kondisi ini dapat memicu peregangan atau distensi pada usus yang berujung pada hilangnya kontrol buang air besar.

Spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi, dr. Aru Ariadno, SpPD-KGEH, mengonfirmasi bahwa aktivitas fisik berintensitas tinggi memang berpotensi memicu timbulnya masalah pencernaan tersebut pada seseorang.

Ia menjelaskan bahwa HYROX tergolong sebagai cabang olahraga berat karena menggabungkan latihan kekuatan fungsional dengan lari secara intensif.

"Aktivitas fisik yang berat dan berintensitas sangat tinggi dapat memicu masalah pencernaan. Akibat aktivitas ini, aliran darah tubuh akan dialihkan dari organ tubuh lainnya menuju ke otot yang bekerja keras," kata dr Aru.

Goncangan pada area perut saat berlari serta tekanan fisik yang kuat turut mengganggu kestabilan fungsi usus. Risiko tersebut semakin meningkat apabila atlet mengonsumsi asupan yang sulit dicerna secara cepat sebelum bertanding, seperti gel energi.

Kendati demikian, munculnya gangguan ini sebenarnya dapat diantisipasi. dr. Aru menekankan pentingnya pemilihan asupan nutrisi yang tepat sebelum memulainya kompetisi.

"Sebaiknya mengonsumsi makanan yang tidak tinggi serat dan cukup cairan pada waktu sebelum dan saat melakukan kegiatan Hyrox perlu diperhatikan," kata dr Aru.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed