Soekarno Pernah Minta Ahmad Yani Bersiap Jadi Presiden

Smallest Font
Largest Font

Presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno, pernah memanggil Jenderal Ahmad Yani ke Istana Negara untuk memintanya bersiap menggantikan jabatannya sebagai kepala negara. Permintaan tersebut disampaikan Soekarno setelah mengaku menerima wangsit dalam tidur siangnya pada masa Demokrasi Terpimpin.

Kisah sejarah tersebut diungkapkan oleh Ahmad Yani kepada Menteri Pengairan Dasar Kanisius Haryasudirja Sasraningrat. Catatan pertemuan itu tertera dalam buku Haryasudirja: Tokoh Pejuang Kemerdekaan, Pembangunan dan Pendidikan yang terbit pada tahun 2005.

Saat dipanggil mendadak usai Soekarno terbangun dari tidur siang, sang presiden menegaskan bahwa petunjuk yang diterimanya terkait penerus kepemimpinan nasional sangat jelas.

"Yani, saya baru tidur siang dan dalam tidur saya menerima wangsit dari Yang Maha Kuasa, yaitu kalau ada apa-apa dengan saya, sehingga saya tidak dapat menjalankan tugas kepresidenan, ataupun saya mati, maka kau harus menggantikan saya menjadi Presiden Republik Indonesia," kata Soekarno seperti dituturkan Ahmad Yani kepada Kanisius Haryasudirja Sasraningrat.

Instruksi tersebut membuat Ahmad Yani terkejut hingga tidak langsung mengamininya. Ahmad Yani menilai masih banyak tokoh senior lain yang memiliki posisi politik lebih kuat serta senioritas tinggi, seperti Jenderal A.H. Nasution dari lingkungan militer. Namun, Soekarno tetap bersikukuh pada pilihannya karena menyukai karakter Ahmad Yani yang dinilai lebih fleksibel dibanding jenderal lainnya.

Hubungan keduanya makin erat setelah Ahmad Yani dilantik menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada tahun 1962, terutama usai memimpin operasi penumpasan PRRI di Sumatra. Pengamat politik Harold Crouch dalam buku Militer dan Politik di Indonesia (1999) turut mencatat kekaguman Soekarno terhadap karakter fleksibel Yani.

Kedekatan tersebut juga dikonfirmasi oleh ajudan presiden, Maulwi Saelan, dalam bukunya Maulwi Saelan: Penjaga Terakhir Soekarno (2015). Peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang menewaskan Ahmad Yani membuat Bung Karno sangat terpukul.

"Presiden sedih sekali atas nasib para jenderal yang diculik, khususnya Jenderal Ahmad Yani, jenderal yang paling disayanginya," tulis Maulwi Saelan.

Harapan Soekarno agar Ahmad Yani melanjutkan kepemimpinan nasional pada akhirnya tidak pernah terwujud setelah sang jenderal gugur dalam peristiwa G30S. Pasca-peristiwa tersebut, arah peta politik nasional berubah hingga Soeharto tampil memimpin Indonesia sebagai presiden kedua.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed