Timothy Weah Lanjutkan Warisan Keluarga di Piala Dunia 2026

Smallest Font
Largest Font

Penyerang tim nasional sepak bola pria Amerika Serikat, Timothy Weah, melanjutkan warisan besar keluarganya dengan berlaga di Piala Dunia keduanya pada Kamis, 18 Juni 2026. Pemain berusia 26 tahun asal klub Prancis Olympique De Marseille tersebut kini menjadi andalan lini depan Amerika Serikat setelah mengasah kemampuan awalnya di Rosedale, Queens, New York.

Timothy merupakan putra dari ikon sepak bola dunia peraih Ballon d'Or 1995 sekaligus mantan Presiden Liberia, George Weah. Dilansir dari mediakompeten.co.id, Timothy menceritakan masa kecilnya yang dikelilingi oleh jejak karier sang ayah.

"Growing up, you have the pictures all over the house and his jersey, so you kind of have an idea of what his career was like," kata Timothy dalam program "My New Favorite Futbolista" milik NBC dan Telemundo.

Ketenaran sang ayah dirasakan langsung oleh Timothy saat keluarga mereka menghadiri Piala Dunia di Afrika Selatan.

"We went to the World Cup in South Africa and just seeing his interaction with people and fans, you kind of pick up on, ‘Ok, he was pretty much a big deal.’" ujar Timothy.

Melalui berbagai momen sepanjang hidupnya tersebut, penyerang timnas Amerika Serikat ini mengaku dapat melihat langsung popularitas sang ayah.

"experienced my dad’s stardom." tutur Timothy.

Kini, Timothy memanfaatkan popularitasnya sendiri sebagai bintang sepak bola dari Queens untuk memberikan inspirasi kepada para pemain muda di komunitas asalnya.

"It's just beautiful being at the forefront of the national team and being able to influence the younger generation," kata Timothy.

Ia menilai bahwa tayangan di televisi memiliki pengaruh besar karena anak-anak dapat melihat langsung dan terdorong untuk mengikuti jejaknya.

"Because that's literally it. That's who you have to influence. Once kids see you on TV, once kids can relate, that's what they're going to want to become." ujar Timothy.

Bakat sepak bola Timothy sendiri sudah disadari oleh pihak keluarga sejak ia baru bisa berjalan.

"As soon as he could walk, he was on the soccer field," kata paman Timothy, Michael Duncan.

Duncan mengaku terkesan saat melihat keponakannya yang masih kecil mampu menendang bola dengan sangat kuat.

"I remember one day I saw him kick the ball and I said that it's amazing that a little boy could kick the ball so hard." kenang Duncan.

Saat menghabiskan waktu bersama kakak-kakak dan sepupunya, Timothy kecil selalu memiliki cara untuk menemukan bola.

"always magically find a ball and end up kicking it." kata Timothy.

Meskipun memiliki gen sepak bola yang kuat dari ayahnya, Timothy menegaskan bahwa keberhasilannya tidak lepas dari peran sang paman yang melatihnya melakukan juggling serta membawanya ke kamp musim panas.

"Definitely takes a village to raise a kid," cetus Timothy.

Lingkungan masa kecil Timothy di Queens dipenuhi keberagaman budaya, yang mencakup latar belakang ibunya dari Jamaika dan ayahnya dari Liberia.

"Culturally you learn a lot because we didn't grow up on the islands," ujar Timothy.

Kondisi wilayah tersebut membuat Timothy dapat mempelajari banyak aspek kultural yang terwakili di satu tempat.

"We didn't grow up in Africa directly, having Jamaica and having Liberia or whatever African country that we had. Everything was represented in that one area." tambah Timothy.

Kawasan tempat tinggalnya itu juga menjadi lokasi dari Rosedale Soccer Club, sebuah program komunitas yang dikelola oleh pamannya sejak tahun 1999.

"I just pretty much grew up out there," aku Timothy.

Program sepak bola komunitas ini awalnya didirikan oleh Duncan dengan tujuan utama untuk memperbaiki lingkungan sekitar melalui olahraga.

"It's my second love and I've been at it forever," kata Duncan.

Duncan memaparkan bahwa klub sepak bola tersebut merupakan urusan keluarga yang melibatkan seluruh anggota keluarga Timothy dari pagi hingga malam hari.

"It was a family thing with Timothy being there, his mother, his brother and his sister. We just didn't go there to play soccer. It was a family environment from morning until evening.

Sometimes we were there from eight o'clock in the morning until six, seven o'clock in the evening. So, it becomes like a way of life for Timothy and the rest of the family." papar Duncan.

Dukungan keluarga tersebut berhasil mengantarkan Timothy mencetak gol pada debut Piala Dunia 2022 melawan Wales, sebuah pencapaian yang belum pernah dirasakan oleh ayahnya. Kini, salah satu pemilik Brooklyn FC sejak 2024 tersebut menargetkan untuk membawa timnya melaju ke babak 16 besar atau lebih jauh.

Di sela-sela kesibukannya, Timothy tetap menyempatkan diri mengunjungi Rosedale Soccer Club guna memotivasi anak-anak di lingkungan asalnya.

"There's some good little players out there and just knowing that they can see someone that came from their community, their skin color, is wonderful," kata Timothy.

Kehadiran tersebut diharapkan mampu memicu semangat juang generasi penerus sepak bola di wilayahnya.

"So, hopefully I can inspire the next generation." pungkas Timothy.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed