Aktivis Flotila Kemanusiaan Gaza Ungkap Kekerasan Seksual Tentara Israel

Smallest Font
Largest Font

Aktivis kemanusiaan internasional dari armada Global Sumud Flotilla menuduh pasukan keamanan Israel melakukan penyiksaan fisik dan kekerasan seksual berat saat mereka ditahan setelah kapal bantuan menuju Gaza dicegat di perairan internasional.

Aksi pencegatan armada yang membawa ratusan sukarelawan beserta bantuan pangan dan obat-obatan tersebut memicu kecaman luas dari berbagai negara, termasuk Kanada, Jerman, Italia, dan Indonesia. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri telah berhasil mengoordinasikan pembebasan sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang ikut ditahan dalam misi tersebut.

Organisasi hak asasi manusia Adalah yang berbasis di Israel dan mewakili para aktivis menyatakan bahwa para pengacara mereka mendokumentasikan kesaksian korban yang diserang menggunakan alat kejut listrik, peluru karet, hingga pemukulan berat.

Koordinator advokasi internasional Adalah, Miriam Azem, menegaskan tingkat keparahan tindakan aparat dalam insiden kali ini.

"In the past 10 years of Adalah representing activists on flotillas, this is by far the most severe violence and assaults that we’ve encountered," kata Miriam Azem, Koordinator Advokasi Internasional Adalah kepada CNN.

Pihak Adalah menambahkan bahwa beberapa penyintas memilih tidak merinci serangan tersebut secara detail, sementara sebagian lainnya masih berada di tahanan Israel saat berbicara dengan pengacara karena mengkhawatirkan adanya dampak buruk.

Sutradara film sekaligus aktivis asal Australia, Juliet Lamont, membeberkan bahwa dirinya menjadi korban pemukulan dan kekerasan seksual oleh lima pria di dalam sebuah kontainer pengiriman di atas kapal tahanan Israel.

"You know they’ve broken our bones, but they haven’t broken our soul," ujar Juliet Lamont, Aktivis dan Sutradara Film Australia saat berbicara di Bandara Istanbul dengan pakaian tahanan abu-abu.

Pihak Layanan Penjara Israel (IPS) langsung membantah keras seluruh tuduhan sistematis tersebut.

"allegations raised are false and entirely without factual basis," sebut Layanan Penjara Israel (IPS) kepada CNN.

IPS juga menambahkan tanggapan resmi mengenai prosedur penahanan yang mereka lakukan terhadap seluruh sukarelawan armada.

"All prisoners and detainees are held in accordance with the law, with full regard for their basic rights and under the supervision of professional and trained prison staff," tutur Layanan Penjara Israel (IPS).

Lembaga tersebut menyatakan kesiapan untuk memeriksa setiap laporan spesifik yang masuk melalui jalur hukum resmi.

"Any specific complaint or allegation raised through the appropriate legal and official channels is examined by the competent authorities in accordance with applicable procedures," jelas Layanan Penjara Israel (IPS).

Pernyataan IPS ini bertolak belakang dengan kesaksian para korban luka yang mendarat di Turki dan beberapa negara Eropa lainnya.

Warga negara Australia, Zack Schofield, menggambarkan interogasi imigrasi dan penahanan yang diwarnai kebrutalan fisik konstan dari rumah sakit di Istanbul.

"I myself was zip-tied in a torture position with my hands behind my back, for 40 minutes until I almost vomited from the pain. Then I had my head slammed into the table during the immigration process, constant knees to the chest, face, any kind of way they could there were pliers in my ears pulling them back," papar Zack Schofield, Aktivis asal Australia.

Aktivis perempuan asal Prancis, Meriem Hadjal, juga mengaku mengalami pelecehan seksual, pemukulan, hingga penjambakan rambut sesampainya di Paris.

"I was subjected to sexual violence and groping," ungkap Meriem Hadjal, Aktivis Prancis kepada jurnalis.

Kekerasan ini dikonfirmasi pula oleh jurnalis Italia Alessandro Mantovani yang menyebut fasilitas penahanan kontainer besi milik Israel sebagai tempat horor.

Aktivis Inggris Richard Johan Anderson menambahkan bahwa perlakuan kejam yang mereka terima memberikan gambaran kecil dari penderitaan harian warga Palestina.

"We've been beaten, tortured, systematically dehumanised, and... we have just had a little taste of what the Palestinians go through every day," ucap Richard Johan Anderson, Aktivis Inggris di Bandara Istanbul.

Di sisi lain, kehebohan internasional juga dipicu oleh unggahan video Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir yang mengejek para aktivis yang sedang berlutut terikat.

Tindakan Ben-Gvir memicu teguran publik yang langka dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, meskipun Netanyahu tetap mendukung keputusan operasi pencegatan flotila.

"not in line with Israel’s values," sebut Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel merespons video Ben-Gvir.

Kritik tajam dari dalam kabinet juga disampaikan Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar melalui media sosial X.

"You knowingly caused harm to our state in this disgraceful display – and not for the first time," cetus Gideon Saar, Menteri Luar Negeri Israel.

Saar menilai tindakan pamer kekerasan tersebut telah merusak upaya diplomasi profesional yang dibangun negara.

"undone tremendous, professional, and successful efforts made by so many people," tambah Gideon Saar.

Dari dalam negeri, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid memberikan apresiasi tinggi kepada Kementerian Luar Negeri RI atas keberhasilan pemulangan sembilan WNI dari Israel tanpa adanya hubungan diplomatik resmi.

"Despite having no diplomatic relations with Israel, the Foreign Ministry managed to build effective coordination with partner countries such as Türkiye, Egypt, and Jordan," kata Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua MPR RI dalam pernyataan resminya.

Hidayat mendesak pemerintah memanfaatkan posisi kepemimpinan Indonesia di Dewan HAM PBB untuk menggalang sanksi internasional terhadap Israel atas pelanggaran hukum humaniter ini.

"This development will be more meaningful if Indonesia works with other countries to take legal actions, including imposing sanctions on Israel for offending human rights and violating international law," pungkas Hidayat Nur Wahid.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengonfirmasi bahwa sembilan aktivis Indonesia telah tiba dengan selamat di Istanbul pada hari Kamis untuk proses repatriasi ke tanah air.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed