Anak Krakatau Alami Lonjakan Erupsi Besar Pasca Keruntuhan 2018

Smallest Font
Largest Font

Anak Krakatau mengalami peningkatan erupsi yang luar biasa setelah keruntuhan sebagian tubuh gunungnya pada 2018, di mana magma yang keluar dalam waktu singkat setara dengan jumlah magma selama 10 tahun sebelumnya. Informasi ini disampaikan Prof Sebastian Watt dari University of Birmingham dalam webinar tentang karakteristik vulkanik Gunung Krakatau, seperti dikutip dari Detik iNET. Keruntuhan lateral pada 2018 menyebabkan hilangnya sekitar 350 meter batuan dari atas saluran magma, mengakibatkan pelepasan beban pada sistem magma di bawah gunung tersebut.

Kondisi ini memicu laju erupsi yang sangat tinggi dalam waktu sekitar satu hingga dua pekan. Prof Watt menjelaskan, "Sekitar 350 meter batuan hilang dalam keruntuhan lateral dari atas saluran. Setelah itu terjadi laju erupsi yang sangat tinggi, dengan magma yang mungkin setara dengan sekitar 10 tahun magma dari periode sebelum keruntuhan sejak 1960-an, yang keluar dalam waktu sekitar satu atau dua pekan."

Analisis petrologi atas material erupsi menunjukkan adanya dekompresi pada sistem magma, memungkinkan magma naik dengan cepat ke permukaan. Setelah lonjakan tersebut, laju erupsi Anak Krakatau selama 2019 hingga 2023 masih cukup tinggi, namun menunjukkan tanda perlambatan.

Watt memperkirakan jika pola pertumbuhan erupsi mengikuti tren sebelumnya, maka laju erupsi akan semakin melambat meskipun hal ini belum pasti. Ia menambahkan bahwa sebelum 2018, laju pertumbuhan Anak Krakatau relatif stabil hingga sekitar 1960 dan kemudian mulai melambat, yang mungkin menandakan lebih banyak magma tersimpan di dalam kerak bumi. Penyimpanan magma dalam waktu lama memungkinkan evolusi kimia magma, termasuk peningkatan kandungan silika yang berpotensi menghasilkan gaya erupsi lebih eksplosif. Namun, hingga kini belum ada bukti jelas bahwa Anak Krakatau telah mengalami perubahan tersebut.

Watt menegaskan, lonjakan erupsi pasca keruntuhan 2018 bukan berarti Anak Krakatau berubah menjadi gunung api dengan gaya erupsi baru. Para peneliti masih perlu memantau perkembangan aktivitas gunung ini dari waktu ke waktu untuk memahami pola dan perubahan yang terjadi. "Laju naiknya magma dan erupsi telah menurun sejak 2019, dan karakter magma yang naik mulai mirip dengan sampel dari sekitar 1960. Pola ini menjadi alasan saya memperkirakan laju erupsi bisa terus melambat, tapi tentu saja belum pasti," ujar Watt.

Aktivitas Anak Krakatau perlu terus dibandingkan dengan rekam jejak sebelumnya. Data erupsi terbaru akan membantu para ilmuwan memastikan apakah gunung api ini masih mengikuti pola lama atau mulai menunjukkan perilaku berbeda. "Masih ada kebutuhan dan kepentingan untuk menilai erupsi terbaru dan masa depan, guna melihat apakah perkiraan kami tepat atau gunung api berperilaku berbeda dari aktivitas sebelumnya," tambah Watt.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed