Arsenal Menjuarai Liga Inggris Setelah Menanti Selama 22 Tahun

Smallest Font
Largest Font

Arsenal resmi memastikan diri sebagai juara Premier League musim 2025/2026 sekaligus mengakhiri penantian panjang selama 22 tahun setelah rival terdekat mereka, Manchester City, ditahan imbang 1-1 oleh AFC Bournemouth pada Kamis dini hari.

Klub berjuluk Meriam London tersebut mengunci takhta tertinggi sepak bola Inggris setelah mengalahkan Burnley dengan skor 1-0 di Stadion Emirates pada pekan ke-37. Tim asuhan Mikel Arteta kini mengoleksi 82 poin dan tidak mungkin lagi terkejar oleh Manchester City yang tertahan di posisi kedua dengan raihan 78 poin.

Gelar ini menjadi trofi Liga Inggris ke-14 sepanjang sejarah Arsenal, sekaligus menyudahi paceklik juara sejak era "Invincibles" pada musim 2003/2004 di bawah arahan Arsene Wenger. Sepanjang musim ini, Arsenal tampil konsisten dengan mengemas 25 kemenangan, tujuh hasil imbang, dan hanya menelan lima kekalahan dari 37 pertandingan liga yang telah dijalani.

Keberhasilan merengkuh gelar juara ini membawa suntikan dana merit payment bagi manajemen klub yang diperkirakan mencapai Rp1,26 triliun. Selain itu, kesuksesan ini juga memberikan kepastian langkah bagi Arsenal untuk kembali bersaing di panggung UEFA Champions League musim depan dengan lencana emas Premier League di lengan jersey mereka.

Di balik performa impresif tersebut, manajemen klub memberikan apresiasi berupa kuasa penuh kepada manajer Mikel Arteta yang kini menginjak usia 44 tahun. Arteta menahbiskan diri sebagai pelatih termuda dalam sejarah klub yang mampu mempersembahkan gelar liga, sekaligus mencatatkan rasio kemenangan tertinggi dalam sejarah Arsenal sebesar 60,4 persen dari 351 pertandingan.

Arteta menegaskan bahwa keharmonisan dan kesatuan tim merupakan fondasi utama dari filosofi kepelatihannya sejak awal menangani klub. Ia tidak segan mendepak pemain dengan ego tinggi demi menjaga kekompakan skuad yang kini diisi pemain bintang seperti Kai Havertz, Declan Rice, hingga Victor Gyökeres.

"Ini tentang budaya. Kamu harus mempersiapkan tanahnya sedemikian rupa sehingga siapa pun yang ingin berkembang memahami lingkungannya, apa yang kami harapkan, dan standar yang kami tetapkan," ungkap Mikel Arteta dalam salah satu wawancara.

Filosofi kebersamaan yang dibangun Arteta kemudian berkembang menjadi kebebasan berekspresi keimanan bagi para pemain di dalam skuad. Praktik spiritual dan dukungan emosional antar-pemain seperti yang dilakukan Bukayo Saka, Gabriel Jesus, Jurrien Timber, hingga pemain baru Noni Madueke dinilai memperkuat kohesi sosial serta ketahanan kolektif tim di bawah tekanan.

"Saya menyukainya karena saya pikir itu lebih membuat mereka terhubung satu sama lain. Beberapa dari mereka memiliki keyakinan yang sama, atau keyakinan yang kuat, dan itu membantu kesejahteraan mereka, sisi mental, dan apa yang dibawanya bagi mereka sebagai manusia. Saya pikir itu fenomenal," kata Mikel Arteta.

Meskipun sempat menelan kekalahan beruntun dari Bournemouth dan Manchester City pada musim ini, Arteta mengaku mentalitas kuat timnya tidak goyah. Dilansir dari Sky Sports, Arteta menyatakan bahwa ia merasakan getaran yang berbeda dan keyakinan yang lebih kuat untuk mengangkat trofi pada musim ini dibandingkan dengan tiga musim sebelumnya saat mereka harus puas menjadi runner-up.

"Saya sering membayangkan memenanginya. Terutama karena kami sudah sangat nyaris dalam beberapa musim," ujar Arteta dikutip Sky Sports.

Arteta menambahkan bahwa visualisasi mengenai momen kemenangan tersebut terus hadir dalam beberapa bulan terakhir sebelum gelar juara resmi dipastikan.

"Tapi kali ini, khususnya, ada sesuatu yang terasa berbeda. Saya sudah melakukan banyak visualisasi dalam beberapa bulan terakhir," kata Arteta.

Perasaan berbeda tersebut diakui Arteta mulai muncul secara intens mendekati akhir musim kompetisi.

"Saya bisa menutup mata saya dan mendapatkan gambaran itu seketika, and itu berbeda dari musim-musim sebelumnya. Bukan dari awal musim ya, lebih ke sekitar Maret, April saat mulai begitu," tutur Arteta.

Setelah penyerahan trofi resmi usai laga melawan Crystal Palace, Arsenal dijadwalkan terbang ke Paris untuk melakoni partai final Liga Champions melawan Paris Saint-Germain pada Sabtu, 30 Mei mendatang. Laman resmi klub juga telah mengonfirmasi akan menggelar parade juara Liga Inggris di London Utara pada Minggu, 31 Mei, yang berpotensi menjadi perayaan double winners terbesar dalam beberapa dekade terakhir.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed