Axel Tuanzebe Dorong Kemajuan Sepak Bola Afrika di Piala Dunia
Tim nasional sepak bola pria Republik Demokratik Kongo bersiap mengukir sejarah dalam penampilan perdana mereka di babak gugur Piala Dunia melawan tim tangguh Inggris pada Rabu, 1 Juli 2026, demi mengangkat marwah sepak bola Afrika.
Dilansir dari laporan sports.yahoo.com, pertandingan ini memikul arti besar bagi seluruh elemen tim nasional, termasuk bagi bek andalan mereka, Axel Tuanzebe, yang berkomitmen membawa perubahan bagi tanah kelahirannya.
"Untuk waktu yang terlalu lama, sepak bola Afrika telah berada di bawah bayang-bayang dan diabaikan," ujar Axel Tuanzebe, bek Republik Demokratik Kongo.
Pemain yang pernah menimba ilmu di akademi Manchester United tersebut merasa momen ini adalah momentum pembuktian identitas bagi para pemain asal Afrika.
"Sudah waktunya untuk menyinari hal tersebut," kata Axel Tuanzebe, bek Republik Demokratik Kongo.
Lahir di Kongo sebelum pindah ke Inggris sejak kecil, Tuanzebe memiliki rekam jejak panjang di kompetisi elite Eropa sebelum akhirnya memilih memperkuat RD Kongo pada tahun 2024 setelah sempat membela tim muda Inggris.
"Sangat menyenangkan. Saya ingat selalu ada teman-teman yang datang, bermain dengan saudara-saudara saya. Saya masih sangat muda, jadi tidak banyak yang bisa diingat, sayangnya, tetapi saya selalu diingatkan melalui foto-foto yang disimpan orang tua saya, dan hanya melihat bahwa kehidupan di sana baik. Itu adalah sesuatu yang selalu saya bawa — untuk selalu mengingat warisan saya dan dari mana saya berasal," ujar Axel Tuanzebe, bek Republik Demokratik Kongo.
Tuanzebe juga mengenang masa-masa awal kepindahannya ke Rochdale, sebuah wilayah di utara Manchester, yang berjalan lancar berkat dukungan lingkungan sekitar.
"Transisinya cukup lancar. Saya pikir sifat ramah dari tempat kami ditempatkan — kami akhirnya tinggal di Rochdale, beberapa mil di utara Manchester — sangat membantu. Sekolah tempat saya belajar, St.
John's, memiliki orang-orang dan guru-guru yang luar biasa. Saya masih berhubungan dengan mereka hari ini. Mereka membuat transisi itu sangat lancar bagi keluarga saya dan saya.
Saya suka mencoba memberi kembali dan pergi menemui mereka," kata Axel Tuanzebe, bek Republik Demokratik Kongo.
Menurutnya, sepak bola menjadi jembatan universal yang membantunya beradaptasi dengan budaya baru dan membangun hubungan pertemanan jangka panjang.
"Itu pasti membantu saya untuk berintegrasi. Menjadi bisa bermain sepak bola yang baik di usia muda, Anda hanya bertemu orang-orang baru, mencari teman baru, dan orang-orang selalu menyambut. Saya akhirnya bergabung dengan klub lokal, dan melalui sepak bola, saya dapat mengekspresikan diri, dan saya telah mendapatkan teman seumur hidup melalui klub tersebut.
Hubungan awal ini masih bersama saya hingga hari ini, dan saya masih menghargainya karena saya pikir itu sangat penting. Mereka membantu saya menjadi pribadi saya yang sekarang ini," ujar Axel Tuanzebe, bek Republik Demokratik Kongo.
Lebih lanjut, ia mengapresiasi segala pengorbanan besar kedua orang tuanya yang rela meninggalkan segalanya di Kongo demi memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka di Inggris.
"Pengorbanannya adalah meninggalkan seluruh dunia mereka — apa yang mereka ketahui — dan harus mempelajari sesuatu yang baru serta menjadi kuat demi kami anak-anak agar memiliki peluang yang lebih baik dalam hidup, dan pada akhirnya, itu membuahkan hasil. Saya sangat berterima kasih kepada orang tua saya, karena tanpa mereka, saya tidak akan berada di posisi saya sekarang ini. Saya akan selamanya berterima kasih atas jumlah dukungan yang mereka berikan kepada kami untuk memiliki peluang yang lebih baik dalam hidup," kata Axel Tuanzebe, bek Republik Demokratik Kongo.
Keberhasilannya menembus kasta tertinggi sepak bola Inggris menjadi kebanggaan tersendiri, khususnya bagi sang ayah yang selalu mendampinginya sejak masa-masa awal pelatihan.
"Saya pikir ayah saya adalah yang paling bangga. Ketika dia membicarakannya, dia selalu tersenyum karena dia banyak berkorban — semua perjalanan ke tempat latihan, jumlah kendaraan yang kami lalui karena jarak tempuh yang kami kumpulkan untuk pergi latihan — dia ada di sana dalam setiap langkah. Dia sangat kritis ketika saya masih muda, tetapi dia sudah melunak sekarang, dan dia selalu mendorong saudara laki-laki saya dan saya dalam sepak bola untuk melangkah sejauh yang kami bisa.
Ini membuahkan hasil, dan dia memetik hasilnya sekarang. Dia pria yang sangat bahagia," ujar Axel Tuanzebe, bek Republik Demokratik Kongo.
Tuanzebe menegaskan bahwa keputusannya membela tim nasional RD Kongo didasari atas keinginan kuat untuk menginspirasi generasi muda dan menyeimbangkan peta kekuatan sepak bola dunia.
"Ini adalah tempat dari mana saya berasal pertama dan terpenting. Saya juga ingin [menginspirasi] lebih banyak pemain untuk bermain demi warisan asli mereka. Tingkah laku dan cara hidup saya masih orang Kongo.
Budaya saya masih Kongo, dan saya ingin mewakili dari mana saya berasal. Saya pikir banyak pemain bisa semacam takut untuk melangkah ke sesuatu yang berbeda — sesuatu yang tidak biasa bagi mereka. Tetapi ketika mereka melihat seseorang yang mereka kenal atau tumbuh bersama melakukannya, itu sedikit lebih mendorong mereka untuk maju dan melakukannya.
Keputusan saya adalah tentang keinginan untuk mengangkat sepak bola Afrika, karena ada banyak pemain berbakat yang memilih bermain untuk tim Eropa. Saya telah memiliki kesempatan untuk bermain bagi tim Eropa, jadi saya dapat memahami insentifnya, tetapi pada akhirnya, kami ingin menyamakan kedudukan dan benar-benar menunjukkan apa yang dapat dilakukan Afrika. Saya pikir untuk waktu yang terlalu lama, itu telah berada di bawah bayang-bayang dan diabaikan, dan sudah waktunya untuk menyinari hal tersebut," kata Axel Tuanzebe, bek Republik Demokratik Kongo.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow