Mantan Kapten AC Milan Franco Baresi Tinggalkan Warisan di Italia
Meninggalnya legenda AC Milan, Franco Baresi, pada Jumat, 31 Juli 2026, memunculkan kembali berbagai kenangan manis tentang kariernya yang luar biasa di Italia. Jejak peninggalan mantan kapten tim nasional tersebut dihormati oleh berbagai tokoh, mulai dari mantan presiden klub hingga rival terberatnya di lapangan hijau.
Penghormatan terhadap pemain kelahiran Travagliato ini turut datang dari memori lawas bersama Diego Maradona usai pertandingan Napoli melawan Milan pada tahun 1989. Saat itu, bintang Argentina tersebut langsung bertukar jersey dan mengenakannya di ruang ganti.
"Bek terhebat sepanjang masa," puji Diego Maradona, mantan pemain Napoli.
Tindakan spontan sang bintang lawan tersebut terekam oleh kamera televisi pada masa itu. Momen tersebut menjadi bukti pengakuan tertinggi atas kualitas pertahanan sang pemain bernomor punggung enam.
"bek terhebat," tegas legenda asal Argentina tersebut.
Di lingkungan internal klub, sosok yang dijuluki menteri pertahanan Milan ini selalu tampil sebagai pemimpin yang tenang namun tegas bak seorang jenderal. Karisma tersebut membuatnya mendapat tempat khusus di hati para pendukung setia yang menempatinya di tribun selatan stadion.
"Kaiser Franz," juluk para pendukung Curva Sud.
Kemampuan taktisnya dalam membaca alur serangan lawan menjadikannya pilar utama dalam skema permainan tim selama dua dekade. Posisi spesifik yang diembannya mengharuskan tanggung jawab besar yang sering kali hanya dipercayakan kepada pemain senior menjelang akhir karier.
"libero," sebut pengamat sepak bola Italia.
Meski demikian, pria kebanggaan Brescia ini mampu membuktikan kematangannya jauh lebih cepat dari standar pemain pada umumnya. Ia mengambil peran tersebut sejak usia muda dan mempertahankannya hingga pensiun.
"Sebaliknya saya bermain lebih awal juga dalam hal ini, saya mulai bermain sebagai libero pada usia 18 tahun dan tidak pernah berhenti sampai hari perpisahan saya dari sepak bola, pada usia 37 tahun," jelas Franco Baresi, mantan kapten AC Milan.
Kesuksesan panjang sang pemain tidak bisa dilepaskan dari peran Silvio Berlusconi yang mulai membangun kejayaan klub sejak Februari 1986. Hubungan erat keduanya melahirkan dominasi di Italia dan Eropa.
"Tanpanya saya merasa lebih sendirian. Silvio Berlusconi itu unik dan penyayang kepada semua orang. Bagi saya dia seperti seorang ayah: dia mewujudkan semua impian saya dan mewariskan kepada kami semua pemain, dari era sepak bola yang berbeda, mentalitas pemenangnya," kenang Franco Baresi, mantan pemain timnas Italia.
Kehangatan hubungan mereka terbukti saat sang pemain gagal meraih penghargaan individu tertinggi di Eropa meski tampil luar biasa. Sang pemilik klub tetap memberikan apresiasi khusus untuk menghibur kapten andalannya.
"Pada edisi Ballon d'Or 1989 saya menempati posisi kedua di belakang Van Basten dan di depan Rijkaard, podium semuanya milik Milan. Namun pada kesempatan itu Presiden Berlusconi memberi saya versi asli dari Ballon d'Or," ungkap Franco Baresi, legenda AC Milan.
Trofi replika bernilai tinggi tersebut kini tersimpan rapi di lemari pajangannya sebagai bukti cinta sang patron. Dedikasi tanpa batas yang ditunjukkannya mengukuhkan status abadinya di mata publik.
"legenda," puji media cetak Italia.
Dalam karya tulis terakhirnya, ia sempat mencurahkan perjalanan batin serta pandangannya mengenai nilai kehidupan. Literatur tersebut menjadi sebuah wasiat emosional tentang dedikasinya di dunia olahraga.
"Ancora in gioco," tulis Franco Baresi sebagai judul bukunya.
Karya tersebut juga merekam bagaimana ia merespons segala penderitaan penyakitnya dengan semangat positif menjelang akhir hayatnya. Perjalanan emosional itu ditandai dengan sikap optimis.
"Hidup kehidupan," ucap Franco Baresi dalam catatan akhirnya.
Kutipan penutup dari sang tokoh bertahan mencerminkan kebanggaan atas warisan yang telah ia bangun selama dua dekade di lapangan hijau. Ia meyakini bahwa dampak yang diberikannya jauh melampaui hitungan durasi permainan, meninggalkan warisan tak lekang oleh waktu.
"Kebesaran sejati tidak terletak pada bagaimana kita mengukur waktu - jam tangan sepuluh euro menunjukkan waktu yang sama dengan jam tangan sepuluh ribu euro - tetapi pada ruang yang kita ciptakan… Saya merasa terhibur mengetahui bahwa saya telah meninggalkan jejak di mana waktu tidak akan pernah bisa mencapainya," pungkas Franco Baresi, sang maestro pertahanan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow