BMKG Peringatkan El Nino Kuat Picu Kekeringan Ekstrem di Indonesia
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk mengantisipasi ancaman kekeringan ekstrem akibat fenomena El Niño intensitas sangat kuat yang diprediksi bertahan hingga awal tahun 2027.
Pemutakhiran data BMKG menunjukkan sebanyak 76,5 persen wilayah Indonesia atau 535 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau pada Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 48,84 persen wilayah daratan telah mencapai puncak kemarau.
Anomali suhu di kawasan Nino3,4 mencatatkan indeks Sea Surface Temperature Anomaly (SSTA) sebesar +2,77, dipadu dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif sebesar +0,457. Kondisi atmosfer ini secara signifikan mengikis pasokan uap air di seluruh wilayah nusantara.
Hasil pemetaan BMKG menempatkan delapan provinsi dalam status peringatan tertinggi atau kategori Awas kekeringan meteorologis. Wilayah tersebut meliputi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dampak kondisi kering berkepanjangan ini tercatat sangat signifikan di wilayah Kabupaten Bima, NTB, di mana periode tanpa hujan telah berlangsung selama hampir tiga bulan.
"Kecamatan Belo dan Kecamatan Bolo di Kabupaten Bima menempati daerah paling lama tanpa hujan," kata Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Suci Agustiarini, melansir Antara.
Durasi musim kemarau tahun ini bervariasi di berbagai pulau, seperti di Jawa yang diprediksi berlangsung 110 hingga 300 hari, sementara di Sumatra berkisar antara 30 sampai 280 hari. Musim kemarau secara umum diperkirakan baru berakhir pada pertengahan hingga akhir Oktober 2026.
"BMKG memprediksi fenomena El Niño akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98% dan kategori kuat sebesar 62%, namun demikian dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika bertemu periode musim kemarau hingga pertengahan bulan Oktober," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, dikutip dari laman resmi BMKG.
Selain kekeringan di daratan, fenomena El Niño juga berdampak serius pada ekosistem laut akibat kenaikan suhu air yang memicu pemutihan terumbu karang. Kerusakan fisik karang turut diperparah oleh insiden kapal terdampar seperti yang terjadi di perairan Maratua, Kabupaten Berau, pada Juni lalu.
Ancaman iklim global ini juga menjadi perhatian khusus pemerintah pusat dalam memetakan strategi ketahanan nasional.
"Kita akan mampu menghadapi tantangan-tantangan termasuk tantangan El Niño," kata Prabowo dalam pidatonya.
BMKG meminta masyarakat serta pemerintah daerah untuk menghemat air bersih, tidak melakukan pembakaran sampah atau lahan secara sembarangan, dan segera melaporkan indikasi titik api di daerah rawan kebakaran hutan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow