Elena Rybakina Juarai US Open 2026 Usai Tundukkan Sabalenka
Petenis Kazakhstan Elena Rybakina merebut gelar juara tunggal putri US Open 2026 usai mengalahkan petenis nomor satu dunia Aryna Sabalenka di Stadion Arthur Ashe, New York, pada Sabtu malam waktu setempat. Kemenangan tiga set 6-4, 5-7, 6-2 dalam laga berdurasi dua jam 21 menit tersebut sekaligus memastikan Rybakina mengambil alih posisi peringkat satu dunia dari Sabalenka yang telah bertahan selama 99 minggu berturut-turut. Petenis berusia 27 tahun itu meraih gelar Grand Slam keduanya tahun ini setelah Australia Open, meskipun sempat mengalami cedera kaki yang membuatnya kesulitan berjalan sebelum turnamen dimulai.
Rybakina tampil dominan pada set penentu dengan mencetak 12 servis as, 36 winner, dan mengatasi servisnya yang sempat tidak konsisten pada set pertama.
"Jujur, sangat sulit menemukan kata-kata saat ini," kata Rybakina. Ia menambahkan bahwa dirinya tidak menyangka bisa mencapai hasil ini setelah sempat mengalami kendala fisik menjelang kejuaraan.
"Saya tidak mengharapkan hal seperti ini datang ke turnamen ini. Saya telah berurusan dengan sedikit cedera, tetapi entah bagaimana semuanya menyatu di pihak saya," kata Rybakina. Keberhasilan ini menjadikan Rybakina wanita ketiga sejak tahun 2000 yang menjuarai Australia Open dan US Open pada tahun kalender yang sama, menyamai pencapaian Angelique Kerber dan Sabalenka.
Ia kini hanya membutuhkan gelar French Open di Roland Garros untuk melengkapi pencapaian Career Grand Slam. "Ini akan sangat berbeda untuk bangun besok pagi dengan mengetahui bahwa Anda baru saja memenangkan US Open, mencapai peringkat nomor satu," kata Rybakina. Ia menceritakan kondisi kakinya yang sempat memburuk usai mengundurkan diri pada perempat final di Cincinnati sebelum bertolak ke New York.
"Saya sangat kecewa. Saya sebenarnya tidak tahu bagaimana rasanya dari hari ke hari," kata Rybakina.
Ia menjelaskan pemeriksaan medis dilakukan sesampainya di New York untuk menentukan langkah perawatan bersama tim dokter. "Kami tiba di New York dan melakukan MRI. Hasilnya tidak terlihat begitu bagus," kata Rybakina. Kondisi tersebut membuatnya sempat tidak dapat melangkah tanpa rasa sakit selama beberapa hari.
"Saya bahkan tidak bisa berjalan selama beberapa hari berikutnya tanpa rasa sakit," kata Rybakina.
Penanganan intensif dari tim medis Australia membantunya menyusun rencana pemulihan tanpa latihan di lapangan selama sepekan. "Saya sangat beruntung memiliki dokter yang sangat baik di Australia. Dia tersambung di telepon dengan kami sepanjang waktu dan entah bagaimana, bersama tim, kami membuat rencana," kata Rybakina.
Meski sempat mengalami hambatan cedera, Rybakina mengaku bangga atas daya juang yang ditunjukkannya selama dua pekan kompetisi. "Saya sangat tidak beruntung dengan cedera ini, tetapi saya sangat bangga," kata Rybakina.
Ia menuturkan masih merasa tidak percaya atas pencapaian gelar Grand Slam ketiganya tersebut. "Saya masih tidak bisa mempercayainya," kata Rybakina. Usai memastikan kemenangan melalui as ke-12 di poin akhir, Rybakina meluapkan kegembiraannya di lapangan.
"Masih sangat sulit untuk memproses apa yang terjadi," kata Rybakina.
Ia merasa puas dengan seluruh kerja keras yang membuahkan hasil optimal di Flushing Meadows. "Terlalu banyak pencapaian dalam beberapa minggu ini. Saya sangat bahagia, sangat bangga dengan semua kerja keras.
Ya, ini luar biasa. Sulit menemukan kata-kata, tetapi sangat bahagia," kata Rybakina. Di sisi lain, kekalahan ini menggagalkan ambisi Aryna Sabalenka untuk mencetak tiga gelar US Open berturut-turut.
Sabalenka mencatatkan lebih banyak kesalahan sendiri ketimbang winner dan hanya mendapatkan tiga kesempatan break point sepanjang pertandingan.
"Sejujurnya, pada satu titik saya merasa, 'Ya Tuhan, saya merasa seperti orang Amerika di sana,'" kata Sabalenka. Ia mengapresiasi dukungan penonton yang memadati tribune namun menyayangkan hasil akhir pertandingan.
"Saya hanya berharap saya bisa, Anda tahu, memenangkannya dan merasakan dukungan lebih banyak lagi. Ya, bukan tahun ini," kata Sabalenka. Petenis asal Belarus itu mengakui keunggulan permainan lawannya yang tampil lebih agresif.
"Saya jelas tidak sangat senang dengan level permainan saya hari ini, tetapi dia melepaskan servis yang luar biasa," kata Sabalenka. Ia menilai Rybakina layak keluar sebagai pemenang dalam laga puncak tersebut. "Dia bermain sangat agresif, tenis yang hebat. Ya, dia secara sederhana adalah pemain yang lebih baik hari ini daripada saya," kata Sabalenka.
Sabalenka menegaskan dirinya telah berjuang maksimal di lapangan terlepas dari kendala teknis yang dihadapi.
"Saya hanya berada di luar sana bersaing, mencoba melakukan yang terbaik dengan apa yang saya miliki hari ini," kata Sabalenka. Kekalahan ini dinilainya menjadi motivasi tambahan untuk menghadapi musim kompetisi berikutnya. "Saya pikir secara keseluruhan saya harus bahagia dengan level permainan saya, dan ada banyak hal yang bisa diambil dari turnamen ini," kata Sabalenka.
Ia optimistis dapat bangkit kembali setelah mengambil pelajaran dari kegagalan ini.
"Seperti yang ditunjukkan oleh pengalaman, bahwa saya hanya akan kembali lebih kuat dan semua pelajaran musim ini pasti sudah membuat saya lebih kuat, tetapi pasti bakal memotivasi saya untuk tahun depan untuk melakukan pekerjaan yang lebih baik," kata Sabalenka. Mengenai luapan emosinya di pinggir lapangan seusai laga, Sabalenka menjelaskan alasan di baliknya.
"Sangat sulit untuk mengendalikan emosi Anda ketika Anda kalah di final Grand Slam dan ketika Anda mencoba untuk meraih kemenangan tiga kali beruntun," kata Sabalenka. Ia memilih mengekspresikan kekecewaannya agar tidak mengganggu komunikasinya dengan pihak lain.
"Jadi saya hanya ingin melepaskannya, karena jika saya menahannya di dalam, saat ini atau di sana di lapangan, saya tidak akan bisa mengucapkan sepatah kata pun atau saya hanya akan berbuat tidak menyenangkan di sana. Jadi saya hanya ingin membiarkan semua agresi dan kekecewaan itu keluar," kata Sabalenka. Ketika diberi tahu bahwa masa kepemimpinannya di puncak peringkat WTA bertahan selama 99 minggu berturut-turut, Sabalenka menanggapi pencapaian Rybakina dengan kelakar. "Mari kita lihat apakah Elena bisa mengalahkan saya dalam hal itu," kata Sabalenka.
Ia menambahkan kesadarannya akan ancaman persaingan dari Rybakina di masa mendatang.
"Jika dia terus bermain seperti itu, maka ya, saya dalam masalah," kata Sabalenka. Meskipun Sabalenka masih memimpin rekor pertemuan keseluruhan 10-8, Rybakina kini unggul 5-2 dalam partai final turnamen di antara keduanya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow