BMKG Ungkap Penyebab Perubahan Suhu Drastis di Wilayah Bekasi
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan fenomena bediding akibat pengaruh Angin Monsun Australia menjadi penyebab suhu udara di wilayah Bekasi dan sekitarnya terasa sangat terik pada siang hari namun berubah menjadi dingin menusuk pada malam hingga dini hari sepanjang Juli 2026. Kondisi cuaca ekstrem dalam sehari ini memicu keluhan dari masyarakat setempat yang merasakan perbedaan temperatur udara secara drastis saat beraktivitas di luar ruangan. Seorang warga Bekasi, Saiful, menceritakan bahwa perubahan suhu udara tersebut sangat terasa menjelang pergantian hari hingga waktu subuh tiba.
"Kalau malam hari jadi terasa dingin. Biasanya sampai subuh, cuaca lebih dingin," kata Saiful kepada CNNIndonesia.com, Jumat (10/7).
Perubahan temperatur yang mencolok ini juga mengganggu kenyamanan warga lain saat harus berkendara menggunakan sepeda motor pada malam hari. "Siang panas banget, apalagi kalau kena matahari langsung. Tapi kalau malam saat naik motor justru terasa lebih dingin, sampai harus pakai jaket,” ujar Achmad kepada Kompas.com.
Situasi ini memaksa masyarakat untuk lebih waspada dalam menjaga kesehatan serta menyiapkan perlengkapan tambahan demi mengantisipasi dampak buruk cuaca. “Kayaknya harus sedia obat dan vitamin. Soalnya cuacanya berubah drastis dalam sehari,” kata Achmad.
Selain mempersiapkan suplemen tubuh, ia juga rutin membawa persediaan air minum tambahan guna mencegah dehidrasi ketika berada di bawah terik matahari siang. “Kalau siang harus lebih siap, seperti bawa minum dan mengurangi terlalu lama di bawah matahari langsung,” ucap Achmad. Kondisi serupa dialami oleh Nadiyah, warga Bekasi Utara, yang merasakan kegerahan luar biasa saat menjalankan aktivitas di luar ruangan pada siang hari.
“Paling kerasa kalau lagi aktivitas di luar rumah. Jadi lebih sering gerah dan cepat haus,” ujar Nadiyah saat dikonfirmasi Kompas.com melalui pesan WhatsApp, Jumat (10/7/2026).
Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Agita Vivi, memberikan penjelasannya mengenai proses fisis pelepasan panas bumi yang mendasari fenomena atmosfer di musim kemarau ini. "Kondisi inilah yang seringkali disebut sebagai bediding, di mana kondisi suhu udara terasa lebih dingin, terutama pada malam hingga dini hari, yang kerap terjadi saat musim kemarau," ujar Agita Vivi dalam keterangan tertulis, Jumat (10/7/2026). Vivi menambahkan bahwa meluasnya musim kemarau di wilayah selatan Indonesia memicu hembusan angin kering yang membatasi pertumbuhan awan hujan.
"Akibatnya, proses pemanasan permukaan berlangsung lebih kuat, terutama di wilayah dataran rendah, pesisir, dan kawasan perkotaan seperti Bekasi," jelas Agita.
Langit yang bersih tanpa tutupan awan membuat radiasi matahari langsung membakar permukaan bumi pada siang hari, namun panas tersebut langsung lolos kembali ke atmosfer luar pada malam hari. "Kondisi siang hari yang panas dan malam hari yang dingin masih termasuk dinamika cuaca normal saat musim kemarau," jelas Agita.
BMKG memperkirakan dinamika cuaca ini akan terus berlangsung mengingat masa puncak kemarau baru saja dimulai di sebagian besar Pulau Jawa. "Secara klimatologis, puncak musim kemarau diprediksi berlangsung pada Juli hingga September 2026," ujar Agita dalam keterangan tertulis, Jumat (10/7/2026).
Data BMKG menunjukkan suhu harian di wilayah Bekasi Raya berada pada rentang 22 derajat hingga 35 derajat Celsius, sementara analisis iklim jangka panjang ERA5 mencatat rata-rata suhu di Kota Bekasi telah mengalami kenaikan sebesar 1,4 derajat Celsius dalam kurun waktu 87 tahun terakhir.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
1
Wow