Dolar Amerika Serikat Menembus Rp17.949 dan Tekan Rupiah
Nilai tukar dolar Amerika Serikat melonjak hingga menyentuh level Rp17.949 pada Kamis, 28 Mei 2026, yang memperparah kejatuhan rupiah ke titik terendah sepanjang masa akibat eskalasi perang AS-Iran di Timur Tengah dan keraguan pasar terhadap kredibilitas fiskal domestik.
Dilansir dari data Investing dan Google Finance, mata uang Paman Sam tersebut bergerak dalam rentang harian Rp17.772 hingga Rp17.995, setelah sebelumnya Refinitiv mencatat rupiah ditutup melemah 0,28% ke level Rp17.780 per dolar AS pada Selasa, 26 Mei 2026.
Tekanan berat ini terus berlanjut secara global dan domestik meskipun Bank Indonesia telah menguras cadangan devisa untuk melakukan intervensi pasar spot, pasar obligasi, Non-Deliverable Forward, serta menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%.
Merespons situasi ekonomi global, André Perfeito, ekonom asal Brasil yang memimpin firma konsultan APCE memberikan pandangannya terkait fluktuasi komoditas.
"mempengaruhi semua orang… fluktuasi mata uang dapat memperkuat atau meredam dampak tersebut" kata André Perfeito, ekonom asal Brasil yang memimpin firma konsultan APCE.
Gejolak geopolitik di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dunia, mempercepat inflasi, dan mendorong investor global mengalihkan dana ke aset aman seperti dolar AS, sehingga memukul mata uang negara pengimpor energi seperti India, Filipina, Thailand, Mesir, dan Indonesia.
Di sisi lain, perusahaan investasi global asal Inggris, AllianceBernstein, memproyeksikan pergerakan jangka panjang mata uang AS terhadap pasar negara berkembang dalam laporan terbaru mereka.
"Dolar yang lebih lemah biasanya berarti kondisi moneter yang lebih longgar, ruang lebih besar untuk pemotongan suku bunga di negara berkembang, dan penurunan penghindaran risiko—semuanya menguntungkan pasar negara berkembang," kata ekonom di perusahaan investasi global Inggris, AllianceBernstein.
Kondisi pasar saat ini juga diperberat oleh proyeksi Dana Moneter Internasional terkait dampak buruk dari gangguan distribusi energi di Timur Tengah.
Pengamat Komoditas dan Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah merupakan dampak simultan dari sentimen eksternal berupa ketegangan geopolitik dan kebijakan suku bunga tinggi Bank Sentral AS.
"Tekanan terhadap rupiah saat ini berasal dari faktor eksternal dan internal yang terjadi secara bersamaan," ujar Ibrahim Assuaibi, Pengamat Komoditas dan Mata Uang.
Selain faktor global, Ibrahim Assuaibi menambahkan bahwa kebutuhan dolar di dalam negeri melonjak tajam demi memenuhi kegiatan impor minyak, repatriasi dividen perusahaan, pembayaran utang jatuh tempo, serta keperluan musiman ibadah haji.
"BI sudah melakukan intervensi semaksimal mungkin, tetapi tekanan pasar memang masih cukup besar," ujarnya.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa kebijakan pengetatan moneter yang diambil institusinya berfokus pada mitigasi risiko global terhadap stabilitas domestik.
"keputusan ini diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah, sekaligus menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap dalam sasaran 2,5±1%." jelas Perry Warjiyo, Gubernur BI.
Berdasarkan data CNBC Indonesia, sentimen negatif di dalam negeri diperparah oleh kedekatan angka defisit APBN 2025 yang mencapai 2,92% dari PDB terhadap batas undang-undang sebesar 3%, sehingga memicu Moody's dan Fitch Ratings memangkas prospek utang Indonesia menjadi negatif.
Pelaku pasar kini juga mengantisipasi implementasi kebijakan baru pemerintah per 1 Juni 2026 yang mewajibkan eksportir sumber daya alam menyimpan penuh devisa hasil ekspor di bank-bank BUMN.
What's Your Reaction?
-
1
Like -
1
Dislike -
1
Funny -
1
Angry -
1
Sad -
1
Wow