Drone Rusia Hantam Markas Dinas Keamanan Ukraina di Kyiv

Smallest Font
Largest Font

Sebuah drone bertenaga jet milik militer Rusia menghantam markas besar Dinas Keamanan Ukraina (SBU) di pusat Kota Kyiv pada Jumat (4/9/2026) hingga menyebabkan 12 warga sipil mengalami luka-luka. Insiden penyerangan area perkotaan ini terjadi persis menjelang rencana kedatangan utusan Amerika Serikat untuk membahas proses perundingan damai.

Hantaman drone tersebut menyasar gedung SBU di Jalan Volodymyrska yang berlokasi strategis dekat Katedral St. Sophia dan sejumlah hotel internasional. Lembaga SBU sendiri selama ini dikenal sebagai pilar utama pelaksana operasi serangan jarak jauh Ukraina ke wilayah Rusia.

Guna menangani para korban luka akibat ledakan di area padat tersebut, pemerintah Ukraina langsung mengerahkan tim medis ke lokasi kejadian. Pihak berwenang mencatat intensitas serangan udara Rusia di kawasan pemukiman, industri, dan pergudangan Kyiv terus meningkat, di mana sebanyak 53 warga sipil tewas serta 134 lainnya luka-luka sejak Agustus 2026.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengonfirmasi bahwa navigasi drone tempur tersebut secara spesifik diarahkan menuju ruang kerja pimpinan SBU.

"Drone tersebut sengaja diarahkan ke kantor kepala SBU yang berada di gedung itu," kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.

Zelenskyy menambahkan bahwa Pelaksana Tugas Kepala SBU Oleksandr Poklad telah menyampaikan laporan penanganan darurat di lapangan beserta kalkulasi target balasan.

"Sebuah drone Rusia menyerang kantor pusat SBU di Jalan Volodymyrska di Kiev, berseberangan dengan Katedral St. Sophia. Drone tersebut ditujukan kepada kantor Kepala SBU dalam bangunan tersebut," sebut Zelenskyy.

Atas insiden ini, Presiden Ukraina menginstruksikan jajaran militer untuk menyiapkan operasi balasan yang sepadan terhadap pihak Rusia.

"Saya menginstruksikan Poklad untuk mengerahkan respons yang memadai dan memungkinkan, sebuah serangan untuk Rusia yang serupa ketika semua sudah dipersiapkan. Pasukan militer akan mendukung respons ini," tambah Zelenskyy.

Merespons agenda diplomasi mendatang, Zelenskyy mengusulkan adanya penghentian tembakan sementara dan meminta militer Rusia menahan diri dari penyerangan udara selama pembicaraan berlangsung.

"Seperti dalam kunjungan diplomatik sebelumnya dari pihak Amerika, kami akan memastikan wilayah udara Rusia berfungsi secara normal agar para perunding dapat tiba dengan selamat. Kami mengkhawatirkan keselamatan mereka, bukan Rusia," kata Zelenskyy.

Zelenskyy menegaskan komitmen pihaknya untuk tidak melancarkan aksi militer selama utusan diplomatik memfasilitasi dialog di Kyiv.

"Tidak akan ada serangan dari Ukraina dan Rusia harus secara resiprokal menjamin sebuah gencatan senjata tanpa serangan udara selama waktu yang diperlukan untuk melakukan diplomasi," jelas Zelenskyy.

Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menilai pengeboman terhadap markas SBU sebagai langkah provokatif yang merusak momentum negosiasi perdamaian.

"Moskow melancarkan serangan ini di tengah dorongan baru untuk perdamaian—menunjukkan dengan jelas penolakannya terhadap diplomasi," tulis Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha di X.

Sybiha menekankan bahwa aksi sepihak Moskow di Eropa Timur memerlukan tindakan balasan yang tegas dari pihak Ukraina.

"Serangan Rusia terhadap kantor SBU merupakan eskalasi yang memerlukan respons segera. Moskow mengerahkan serangan ini saat upaya-upaya perdamaian berlangsung, menandai penolakan terhadap diplomasi," tegas Sybiha.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi keberangkatan dua utusan khususnya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, untuk melawat ke Moskow serta Kyiv guna membawa draf penyelesaian konflik.

"Mereka membawa proposal untuk mengakhiri perang," kata Presiden AS Donald Trump.

Juru bicara kepresidenan Rusia Dmitry Peskov belum mau memberikan konfirmasi resmi terkait jadwal kedatangan utusan AS di Moskow dan menyatakan keterbukaan informasi akan diberikan jika pertemuan terlaksana. Kunjungan diplomatik ini menjadi yang pertama bagi Witkoff dan Kushner ke Kyiv setelah terakhir kali bertemu Presiden Vladimir Putin di Moskow pada Januari lalu.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed