FIFA Batalkan Sanksi Folarin Balogun Menjelang Laga Melawan Belgia

Smallest Font
Largest Font

Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) membatalkan hukuman kartu merah penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, menjelang pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 melawan Belgia di Stadion Lumen Field, Seattle, pada Senin, 6 Juli 2026. Keputusan penangguhan sanksi tersebut memicu kontroversi besar karena diambil setelah adanya intervensi dan permintaan tinjauan langsung dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Sebelumnya, Balogun menerima kartu merah langsung dalam laga melawan Bosnia dan Herzegovina akibat pelanggaran studs-up terhadap Tarik Muharemovic, yang membuatnya sempat absen di babak 32 besar.

Langkah FIFA memulihkan status penyerang yang telah mencetak tiga gol tersebut menuai reaksi keras dari pejabat sepak bola Belgia serta memicu perdebatan sengit di kalangan pendukung domestik.

Gelombang protes dan dukungan mengalir dari berbagai pihak di Amerika Serikat, mulai dari para penggemar di area Washington DC hingga jajaran komentaris olahraga serta politisi publik. "I think it’s bull****," kata Cesar Espino, seorang pendukung timnas Amerika Serikat kepada Al Jazeera.

Espino menilai kemenangan AS justru akan ternoda karena kontroversi ini dan membuat tim tuan rumah semakin tidak disukai setelah sebelumnya didera isu pembatasan perjalanan terhadap tim Iran. "I think most people, including myself, believe the red card was unfair; it was unjust," ujar Oscar Ramirez, pendukung berusia 23 tahun.

Ramirez secara bergembira mendukung keputusan tersebut demi memperbesar peluang kemenangan Amerika Serikat yang dinilainya sangat bergantung pada kehadiran Balogun di lini depan. "I’m American, and I want our best chances. And without him, we don’t have a good chance," tutur Oscar Ramirez. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi keterlibatan dirinya yang meminta FIFA mengevaluasi keputusan wasit karena menganggap insiden tersebut bukan pelanggaran berat.

"All I did – I asked for a review because I didn’t think it was a foul," kata Donald Trump kepada media.

Trump bahkan mengklaim bahwa pihak Amerika Serikat telah memeriksa rekam jejak wasit yang mengeluarkan kartu merah tersebut dan menyebut latar belakang sang pengadil lapangan sangat mencurigakan. "If you like, I can provide you with the past," ucap Donald Trump. Menanggapi tuduhan intervensi politik, Presiden FIFA Gianni Infantino menegaskan bahwa keputusan pembatalan sanksi murni dikeluarkan oleh panel yudisial independen organisasi tanpa pengaruh luar.

"During our conversation, I explained that there was an ongoing legal process involving FIFA’s independent judicial bodies and that the case would be decided in due course by the competent bodies," ujar Gianni Infantino dalam pernyataan resminya.

Infantino menambahkan bahwa sistem tersebut merupakan prinsip utama FIFA yang akan selalu ia pertahankan dari segala bentuk intervensi kekuasaan. "That is how FIFA’s system works, and it is a principle that I will always uphold," kata Gianni Infantino.

Meskipun demikian, dukungan politik tetap mengalir di dalam negeri AS, termasuk dari Senator Republik Tom Cotton dan analis Fox Sports Alexi Lalas yang memuji langkah federasi menegakkan haknya. "What happened here is America stood up for itself," kata Alexi Lalas kepada Fox News.

Lalas menyebut tindakan Federasi Sepak Bola Amerika Serikat sudah sesuai dengan koridor regulasi yang berlaku demi memberikan kesempatan sukses terbesar bagi tim nasional. "The powers that be when it comes to the United States Soccer Federation did what they needed to do within the rules and regulations that exist in order to give ourselves the best possible chance of being successful," tutur Alexi Lalas. Kritik tajam justru datang dari komentator CBS Sports, Nico Cantor, yang menilai pembatalan sanksi oleh badan yudisial FIFA ini menetapkan preseden buruk yang merusak otoritas keputusan pengadil di lapangan.

"For as much as I believe Balogun didn’t deserve the red, it’s an interpretable decision," tulis Nico Cantor melalui akun X miliknya.

Menurut Cantor, langkah ini membuat keputusan krusial wasit di masa depan menjadi rawan digugat dan dipertanyakan oleh pihak-pihak yang tidak puas atas hasil di lapangan. "Anything can now be questioned after the fact. And it’s up to FIFA’s ‘judicial body’ – whoever that is, wherever they are – to call… critical decisions as they see fit," kata Nico Cantor. Sementara itu, kapten timnas AS Tim Ream memilih fokus pada persiapan tim dan menyambut baik kembalinya Balogun untuk menambah daya gedor serangan dalam menghadapi perlawanan ketat dari Belgia.

Selain urusan lini serang, gelandang Malik Tillman dipastikan memegang peran vital setelah gol tendangan bebas ikoniknya ke gawang Bosnia meniru rekor Eric Wynalda pada Piala Dunia 1994 silam.

Pertandingan ini juga diwarnai keputusan unik FIFA yang meminta Amerika Serikat mengenakan jersei tandang berwarna biru demi menghindari tabrakan warna visual dengan jersei merah milik Belgia. "A lot of times you get the ball and you look up, you can't really lock in on something. You only can base it off the colour of the shirt. That's how it works," kata Christian Pulisic, kapten timnas AS dilansir dari Reuters mengenai evaluasi laga persahabatan kedua tim di Atlanta Maret lalu.

Pulisic menjelaskan kemiripan warna jersei sangat menyulitkan pergerakan pemain di lapangan, sehingga penggunaan jersei biru diharapkan memberi kenyamanan bagi pemain maupun jutaan penonton televisi. "And when it's very similar, it's difficult," tutur Christian Pulisic.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed