Eropa Dilanda Gelombang Panas Ekstrem, Suhu Tembus 43,8 Derajat Celsius
Gelombang panas ekstrem kini melanda dan menyebar luas di wilayah Eropa. Fenomena alam ini memecahkan rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah di berbagai negara serta memicu kekhawatiran besar terkait dampak kesehatan masyarakat dan kerugian ekonomi.
Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO bersama para anggota dan mitranya kini bergerak cepat memobilisasi sistem peringatan dini serta rencana aksi kesehatan. Langkah ini diambil demi meminimalkan dampak buruk dari bencana iklim tersebut.
Berdasarkan laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim atau IPCC, fenomena suhu ekstrem ini diprediksi akan terjadi dengan frekuensi, intensitas, dan durasi yang terus meningkat. Saat ini, Eropa tercatat sebagai benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia.
"Gelombang panas seperti ini adalah apa yang kita perkirakan akan terjadi dalam iklim yang berubah," ujar John Kennedy, Kepala Informasi Iklim di WMO, dilansir dari laman resminya.
"Dalam 50 tahun sejak gelombang panas bersejarah pada tahun 1976, Eropa secara keseluruhan telah menghangat sekitar dua derajat. Ini adalah benua dengan pemanasan tercepat dan suhu ekstrem pun turut meningkat," lanjut John Kennedy.
Lonjakan Suhu dan Korban Jiwa di Sejumlah Negara
Dampak mematikan dari cuaca ekstrem ini sudah mulai terlihat di masyarakat. Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan data terkait dampak fatal dari suhu panas yang melonjak ini.
Lebih dari 1.300 kematian berlebih telah tercatat sejak 21 Juni yang dikaitkan langsung dengan suhu panas ekstrem di Eropa. Melalui unggahannya di media sosial X pada 28 Juni, Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebutkan lebih dari 150 juta orang di benua tersebut terdampak langsung.
WMO sendiri terus memperbarui data sementara terkait lonjakan suhu udara yang terjadi di sejumlah negara. Berbagai stasiun cuaca mencatat angka yang belum pernah terjadi sebelumnya.
| Negara | Lokasi / Detail Wilayah | Suhu Tertinggi | Keterangan Rekor |
|---|---|---|---|
| Jerman | Kota Coschen (Jerman Timur) | 41,7 derajat Celsius | Pecah rekor 3 hari beruntun, 46 stasiun di atas 40 derajat Celsius |
| Perancis | Kota Pulluau (Perancis Barat) | 43,8 derajat Celsius | Hari terpanas dalam sejarah rata-rata nasional mencapai 30,0 derajat Celsius |
| Spanyol | Kota Bilbao | 42,7 derajat Celsius | Hari Juni terpanas dalam sejarah pada 23 dan 24 Juni |
| Inggris Raya | Inggris Selatan | 37,3 derajat Celsius | Memecahkan rekor suhu bulan Juni selama tiga hari berturut-turut |
Kondisi serupa juga terjadi di Belanda, di mana dinas meteorologi nasional KNMI mengeluarkan Red Alert perdana untuk delapan provinsi pada 26 Juni. Belanda mencatatkan rekor suhu nasional baru sebesar 39,4 derajat Celsius.
Daftar Rekor Suhu Juni di Negara Eropa Lainnya
Panas yang menyengat terus bergerak ke wilayah Eropa Timur dan Tengah. Beberapa negara lain ikut melaporkan lonjakan suhu yang signifikan dan mengeluarkan peringatan bahaya kepada warga.
| Negara | Lokasi Spesifik | Suhu Tertinggi | Tanggal Pencatatan |
|---|---|---|---|
| Hungaria | Budapest | 40,7 derajat Celsius | 28 Juni 2026 |
| Polandia | Wilayah Pantauan | 40,5 derajat Celsius | Data Sementara 2026 |
| Austria | Kota Wina | 40,0 derajat Celsius | 29 Juni 2026 (Status Siaga Merah) |
| Swiss | Kota Basel | 39,0 derajat Celsius | Data Meteo-Suisse Juni 2026 |
| Denmark | Dua Lokasi Berbeda | 37,0 derajat Celsius | Memecahkan rekor lama sejak 1975 |
Panas ekstrem ini sering kali dijuluki sebagai pembunuh senyap karena dampaknya yang kerap kurang terlaporkan. Berdasarkan estimasi model data, terdapat sekitar 489.000 kematian terkait panas yang terjadi setiap tahunnya antara tahun 2000 hingga 2019.
Bahaya Stres Panas dan Suhu Malam Hari
Stres panas terjadi ketika tubuh menyerap atau menghasilkan lebih banyak panas daripada yang bisa dilepaskannya. Dalam kondisi normal, tubuh mendinginkan diri melalui keringat, namun mekanisme alami ini gagal berfungsi saat udara sangat panas dan lembap.
"Paparan berkepanjangan selama beberapa hari, terutama ketika suhu tetap tinggi di malam hari, membuat tubuh memasuki hari baru dalam kondisi yang sudah stres," kata Lachlan McIver, Penasihat Kesehatan di Kantor Bersama Iklim dan Kesehatan WHO-WMO.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow