GSMA Mendorong Konektivitas Satelit untuk Wilayah Blank Spot Indonesia
Konektivitas satelit dinilai menjadi solusi pelengkap penting untuk menjangkau daerah terpencil dan rawan bencana yang belum terjangkau jaringan seluler terestrial di Indonesia, dilansir dari Detik iNET.
Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluler Global (GSMA) mencatat bahwa mayoritas masyarakat Indonesia memang sudah masuk dalam jangkauan sinyal 4G. Namun, perhitungan cakupan tersebut didasarkan pada jumlah populasi dan bukan keseluruhan luas wilayah daratan.
"Angka 98% GSMA mengukur cakupan populasi, bukan cakupan geografis. Angka tersebut menunjukkan proporsi penduduk Indonesia yang tinggal di dalam jangkauan jaringan 4G," kata Direktur Spektrum GSMA Asia Pasifik Yishen Chan.
Kondisi daratan yang belum memiliki akses telekomunikasi sebagian besar berada di pulau-pulau luar serta kawasan berpenduduk sedikit. Hingga saat ini, GSMA belum merilis estimasi pasti terkait total luas wilayah Indonesia yang masih belum terjangkau jaringan terestrial.
Pembangunan base transceiver station (BTS) baru di kawasan terpencil juga terkendala oleh besarnya biaya operasional dan infrastruktur pendukung yang tidak sebanding dengan potensi keuntungan komersial bagi operator.
"Di pulau terpencil dan wilayah berpenduduk jarang atau rawan bencana, biaya menara, listrik, backhaul, dan pemeliharaan dapat melebihi potensi keuntungan komersial," jelas Chan.
Selain masalah efisiensi biaya, tingkat kapasitas jaringan yang dimiliki satelit juga belum mampu menggantikan peran utama dari infrastruktur seluler darat secara menyeluruh.
"Satelit tidak dapat menggantikan jaringan seluler terestrial karena kapasitasnya jauh lebih rendah. Kombinasi konektivitas Indonesia dalam jangka panjang kemungkinan akan mencakup keduanya," ujarnya.
Guna memperluas akses komunikasi dasar, pemanfaatan teknologi direct-to-device (D2D) mulai dilirik karena memungkinkan ponsel terhubung langsung ke satelit tanpa antena tambahan. Pemanfaatan layanan ini dinilai sangat krusial saat terjadi bencana alam yang merusak fasilitas infrastruktur darat.
Meski adopsi D2D sudah dimulai di beberapa negara untuk pesan darurat dan teks, ketersediaan layanan tersebut di Indonesia masih harus menunggu kesiapan regulasi, kemitraan operator, serta dukungan perangkat.
"D2D harus dilihat sebagai layanan pelengkap yang masih berkembang, bukan sebagai pengganti jaringan seluler terestrial," pungkas Chan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow