IHSG Ambles 4,39 Persen Pagi Ini Akibat Serangan Rudal Iran ke Israel
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ambles hingga 4,39 persen atau merosot 245,82 poin ke level 5.348,95 pada perdagangan Senin pagi, 8 Juni 2026. Koreksi tajam ini terjadi hanya dalam kurun waktu 10 menit setelah pasar dibuka akibat kepanikan investor terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.
Sentimen pasar saham Indonesia langsung tertekan hebat menyusul aksi militer Iran yang meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel pada Minggu, 7 Juni 2026. Gelombang aksi jual masif dari para pelaku pasar membuat mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia bertumbangan ke zona merah dalam waktu singkat.
Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 10.30 WIB, indeks sempat bergerak fluktuatif dengan menyentuh level tertinggi intraday di posisi 5.523,94. Namun, tekanan jual yang bertubi-tubi memaksa IHSG terjungkal ke level terendah intraday pada posisi 5.346,34.
Rincian Data Perdagangan Bursa
Kemerosotan indeks kali ini menyeret ratusan saham ke posisi terendah. Tercatat sebanyak 606 saham bergerak melemah, sementara hanya 57 saham yang berhasil menguat, dan 296 saham lainnya stagnan.
Aktivitas perdagangan di bursa membukukan nilai transaksi total mencapai Rp2,85 triliun. Volume perdagangan saham yang ditransaksikan tercatat sebanyak 3,77 miliar lembar saham dengan frekuensi perdagangan mencapai 279 ribu kali.
Kondisi pasar yang memburuk ini memicu pertanyaan besar di kalangan investor mengenai "kenapa IHSG turun drastis" pada awal pekan ini. Selain kepanikan global, pelemahan mata uang domestik turut memperparah kinerja pasar modal dalam negeri.
| Parameter Pasar | Nilai Perdagangan |
|---|---|
| Posisi IHSG | 5.348,95 (Turun 4,39%) |
| Saham Melemah | 606 saham |
| Saham Menguat | 57 saham |
| Saham Stagnan | 296 saham |
| Nilai Transaksi | Rp2,85 triliun |
| Volume Perdagangan | 3,77 miliar saham |
Tekanan Ganda Ekonomi dan Geopolitik
Kejatuhan IHSG terjadi bersamaan dengan merosotnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Kurs rupiah terpantau melemah sebesar Rp128 hingga menyentuh level Rp18.148 per dolar AS, yang menjadi salah satu faktor penekan utama indeks.
Informasi ini bukan saran investasi. Konsultasikan dengan penasihat keuangan.
Di tengah hantaman sentimen eksternal, kondisi fundamental ekonomi domestik sebenarnya memperlihatkan kinerja yang cukup stabil. Berita ekonomi 8 Juni 2026 mencatat bahwa realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN hingga akhir Mei 2026 masih berada dalam tren yang positif.
Kondisi Fiskal Domestik Terkini
Menteri Keuangan sebelumnya telah memaparkan realisasi APBN tersebut dalam Konferensi Pers APBN KiTA pada Jumat, 5 Juni 2026. Pemerintah menyampaikan sejumlah indikator keuangan negara yang relatif terjaga dengan rincian sebagai berikut:
- Defisit APBN hingga akhir Mei 2026 mencapai Rp180,4 triliun.
- Rasio defisit tersebut setara dengan 0,70 persen dari Produk Domestik Bruto atau PDB.
- Angka defisit Mei 2026 ini sedikit lebih tinggi dibandingkan posisi akhir April 2026 yang tercatat sebesar Rp164,4 triliun atau 0,64 persen dari PDB.
Kendati kinerja fiskal dalam negeri menunjukkan pengelolaan yang terukur, kepanikan atas pecahnya konflik bersenjata di Timur Tengah tetap mendominasi pergerakan modal global. Investor cenderung menarik dana dari pasar berkembang untuk mengamankan aset mereka ke instrumen yang dinilai lebih aman.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow