IHSG Anjlok 4,37 Persen ke Level 6.431 pada Sesi I Akibat Tensi AS Iran

Smallest Font
Largest Font

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung anjlok signifikan hingga 4,37 persen ke level 6.431 pada perdagangan sesi I hari Senin (18/5/2026) pukul 10.20 WIB. Kejatuhan bursa domestik dipicu oleh kepanikan pasar global setelah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin memanas.

Kondisi pasar modal Indonesia hari ini bergerak sangat rentan sejak bel pembukaan perdagangan dimulai. Sentimen eksternal yang negatif membuat para pelaku pasar melakukan aksi jual massal secara serentak di berbagai sektor saham.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pertengahan sesi pertama, mayoritas saham bergerak di zona merah. Kondisi ini mencerminkan minimnya apresiasi investor terhadap aset berisiko di tengah ketidakpastian global.

Statistik Pergerakan Saham IHSG Sesi I (18 Mei 2026)
Kategori SahamJumlah Emiten
Saham Melemah677
Saham Menguat74
Saham Stagnan62

Sebelum tenggelam lebih dalam pada pertengahan sesi pertama, IHSG sebenarnya sudah dibuka melemah pada awal perdagangan. Indeks langsung turun 94,34 poin atau 1,40 persen ke posisi 6.628,98, sementara indeks LQ45 ikut menyusut 1,42 persen ke level 648,51.

Banyak investor bertanya mengenai "kenapa saham turun hari ini" dengan begitu agresif. Faktor utama yang menggerakkan pasar adalah kecemasan terhadap dampak perang AS Iran ke ekonomi dunia yang berpotensi memicu inflasi global baru.

Kekhawatiran terhadap era suku bunga tinggi kembali mencuat setelah ketegangan di Timur Tengah meningkat. Ekspektasi penurunan suku bunga acuan global kini menjadi pudar, sehingga arus modal keluar dari pasar berkembang semakin deras.

Aksi jual ini merupakan kelanjutan dari tekanan yang sudah terjadi sejak pekan lalu. Pada penutupan pekan sebelumnya, indeks saham domestik tercatat sudah melemah sebesar 1,98 persen akibat aksi lego jangkar oleh investor internasional.

Aksi jual bersih atau net sell oleh investor asing pada pekan lalu mencapai Rp1,35 triliun. Aliran dana keluar tersebut berpusat pada saham-saham berkapitalisasi besar yang biasanya menjadi penopang indeks utama.

Berikut adalah beberapa emiten berkapitalisasi besar yang paling banyak dilepas oleh investor asing dalam beberapa hari terakhir:

  • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI)
  • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI)
  • PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
  • PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
IHSG Terus Anjlok dan Melemah Hingga 3,6 Persen ke Level 6.400 an | CNBC Indonesia

Tekanan Sektor dan Pelemahan Nilai Tukar

Seluruh sektor saham di bursa domestik terbenam di zona negatif tanpa ada yang mampu bertahan. Sektor industri dasar menjadi kelompok saham yang mencatat performa paling buruk setelah ambruk sebesar 8,14 persen.

Keterpurukan pasar saham ini berjalan beriringan dengan depresiasi nilai tukar mata uang di kawasan Asia. Lonjakan mata uang safe haven membuat posisi mata uang negara berkembang menjadi sangat tertekan.

Kondisi eksternal tersebut menjadi penyebab rupiah melemah hingga 0,45 persen ke level Rp17.676 per dolar AS. Pelemahan ini mencerminkan tingginya tekanan jual di pasar keuangan dalam negeri.

Tidak hanya mata uang Garuda, mayoritas mata uang utama di kawasan Asia juga terpantau layu terhadap dolar AS pada hari yang sama. Tekanan merata ini menunjukkan adanya peralihan dana besar-besaran ke aset yang lebih aman.

Pergerakan Nilai Tukar Mata Uang Asia terhadap Dolar AS (18 Mei 2026)
Mata UangPerubahan KursNilai per Dolar AS
Rupiah IndonesiaTurun 0,45%Rp17.676
Yen JepangTurun 0,13%158,95
Dolar SingapuraTurun 0,04%1,2810
Dolar AustraliaTurun 0,24%0,7133
Rupee IndiaTurun 0,32%96,2775
Yuan ChinaTurun 0,02%6,8140

Analisis Teknikal dan Prediksi Pergerakan

Berdasarkan analisis teknikal dari BRI Danareksa Sekuritas, kejatuhan tajam ini terjadi setelah indeks menembus area pertahanan penting. Indeks telah melewati area support kuat di kisaran 6.870 hingga 7.020.

Penembusan area tersebut mengonfirmasi bahwa pergerakan bursa saham domestik kini telah memasuki tren penurunan atau bearish. Struktur grafik harian saat ini terus membentuk pola puncak yang lebih rendah dan lembah yang lebih rendah.

Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) juga terpantau masih berada di area negatif. Area batas bawah atau support berikutnya untuk indeks diperkirakan berada di rentang 6.320 hingga 6.530.

Sementara itu, tim analis dari BNI Sekuritas menetapkan perkiraan batas yang sedikit berbeda untuk perdagangan hari ini. Perhitungan mereka menempatkan level support harian di rentang 6.500 sampai 6.600.

Batas atas atau resistance harian menurut proyeksi pasar berada di kisaran 6.780 hingga 6.850. Upaya pemulihan indeks diperkirakan akan menghadapi menara jual yang cukup tebal di area tersebut.

Informasi ini bukan saran investasi. Konsultasikan dengan penasihat keuangan.

Hingga pertengahan hari, aktivitas perdagangan di bursa saham masih didominasi oleh tekanan jual yang tinggi. Para pelaku pasar disarankan untuk tetap mencermati perkembangan geopolitik global serta rilis data makroekonomi domestik dalam waktu dekat.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed