IHSG Berhasil Bangkit ke Level 6162 Setelah Melemah Delapan Hari Beruntun

Smallest Font
Largest Font

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses memutus tren pelemahan dengan ditutup menguat 1,10 persen atau bertambah 67,10 poin ke level 6.162,05 pada perdagangan akhir pekan sebelum Senin (25/5/2026). Penguatan ini menjadi angin segar setelah indeks sempat tertekan hebat akibat sentimen domestik dan global.

Sebelum mencatatkan rebound pada Jumat lalu, bursa saham domestik sempat mengalami koreksi berturut-turut selama delapan hari perdagangan dengan akumulasi penurunan mencapai 16,11 persen. Tekanan tersebut bahkan sempat menyeret indeks ke level terendah tahunannya di posisi 5.966.

Berdasarkan data pasar modal dalam sepekan terakhir, volatilitas tinggi masih membayangi pergerakan saham. Meski demikian, aksi beli bersih oleh investor asing pada saham-saham tertentu ikut menopang indeks dari kejatuhan yang lebih dalam.

Investor asing memanfaatkan momentum koreksi tajam untuk melakukan akumulasi portofolio secara selektif. Beberapa saham komoditas dan perbankan mulai mencatatkan aliran modal masuk (net buy) yang cukup signifikan dalam periode pekan lalu.

Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menjadi salah satu buruan utama dengan catatan aksi beli bersih asing mencapai Rp691 miliar. Sementara itu, saham PT Bank BTPN Tbk (BTPN) juga membukukan pembelian bersih oleh investor asing senilai Rp2,3 miliar.

Berikut adalah tabel ringkasan perbandingan data performa indeks dan aktivitas transaksi pasar modal dalam beberapa periode perdagangan terakhir:

Tabel Performa Pasar Saham dan Transaksi Asing Mei 2026
Indikator PasarPosisi TerakhirPersentase PerubahanKeterangan Penopang
IHSG Penutupan Jumat6.162,05+1,10%Tekanan jual mereda setelah melemah 8 hari
IHSG Akumulasi Pekan Lalu6.162,00-8,35%Dampak kenaikan BI Rate dan rupiah
Net Buy Asing Saham MDKARp691 MiliarAkumulasi sepekan terakhir
Net Buy Asing Saham BTPNRp2,3 MiliarAkumulasi sepekan terakhir

Kondisi ini berbanding terbalik dengan situasi pada awal Mei. Sebagai perbandingan historis, pada perdagangan Kamis (8/5/2025) tahun lalu, indeks ditutup melemah 1,42 persen ke level 6.827 dengan net sell asing mencapai Rp841,59 miliar yang didominasi bank BUMN.

Penyebab Tekanan Pasar dan Kebijakan Makro Ekonomi

Penurunan tajam indeks hingga sempat terdampar di bawah psikologis 6.000 beberapa hari lalu dipicu oleh kombinasi faktor makro dan kebijakan moneter. Kenaikan suku bunga acuan serta pelebaran defisit transaksi berjalan menjadi faktor utama.

Langkah Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,25 persen memicu aksi risk-off investor di pasar ekuitas. Kebijakan ketat ini diambil guna meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terus bergejolak.

Selain faktor suku bunga, Bank Indonesia turut melaporkan kinerja transaksi berjalan kuartal I 2026. Defisit transaksi berjalan Indonesia tercatat melebar menjadi US$4 miliar dari periode kuartal IV 2025 yang sebesar US$2,5 miliar, walaupun hasil ini masih lebih baik dari ekspektasi konsensus sebesar US$4,7 digdaya.

Koreksi mendalam pada awal bulan ini juga sempat dipicu oleh sentimen sektoral. Pada perdagangan Jumat (8/5/2026), IHSG bahkan sempat anjlok tajam hingga 2,82 persen atau runtuh 204,92 poin ke level 6.969,39 akibat bergulirnya rencana kenaikan royalti minerba.

Sinyal Kebangkitan Pasar Saham Setelah Sempat Jebol Level Enam Ribu | IDX CHANNEL

Rekomendasi Sektoral dan Prospek Pasar Saham

Analis Indo Premier Sekuritas menilai pergerakan indeks untuk pekan ini masih akan bergerak volatil namun cenderung berkonsolidasi. Sektor perbankan dan saham berbasis dividen diperkirakan tetap menjadi pilihan aman bagi para pelaku pasar.

Sektor finansial saat ini memegang peranan sangat penting dalam menjaga stabilitas reksa dana berbasis indeks. Tercatat bahwa sektor perbankan mendominasi sekitar 45,6 persen bobot portofolio pada Reksa Dana Saham Premier ETF IDX High Dividend 20.

Beberapa poin strategi investasi yang dapat dipertimbangkan oleh pemodal dalam menghadapi konsolidasi pasar antara lain:

  • Melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki fundamental kuat.
  • Mencermati saham komoditas yang mulai menunjukkan pembalikan arah setelah jenuh jual.
  • Memanfaatkan instrumen reksa dana etf yang terdiversifikasi pada saham-saham likuid pembagi dividen tinggi.

Pasar kini tengah menantikan rilis data ekonomi lanjutan domestik serta pergerakan nilai tukar rupiah untuk menentukan arah pergerakan indeks ke depan. Pelaku pasar diharapkan tetap cermat memantau area resisten terdekat untuk memitigasi risiko volatilitas yang masih tinggi.

Informasi ini bukan saran investasi. Konsultasikan dengan penasihat keuangan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed