Jakarta Art House Adaptasi Musikal Film Home Sweet Loan

Smallest Font
Largest Font

Jakarta Art House siap menggelar pertunjukan musikal yang diadaptasi dari kisah Home Sweet Loan di panggung teater mulai 30 September 2026. Adaptasi live ini dihadirkan dengan penggalian karakter yang lebih mendalam serta detail dibanding versi layar lebar, dilansir dari Detikcom.

Tim produksi melakukan sejumlah penyesuaian alur cerita, termasuk meniadakan karakter Hansa yang merupakan kekasih toxic Kaluna pada Act pertama. Keputusan tersebut diambil guna berfokus pada konflik utama sang tokoh utama di dalam rumahnya.

"Mantan yang toxic kita hilangkan, kita mau bicarakan hidup tentang seorang perempuan bontot dengan tiga kepala keluarga yang tinggal di rumahnya. Kalau di film, ada satu scene, di musikal hilang total. Itu perubahan yang kita ambil di musikal," ungkap Produser Christian Immanuel saat sesi latihan di kawasan Kebagusan, Jakarta Selatan, pada Senin (14/9/2026).

Perbedaan lain terletak pada penataan dinamika keluarga. Versi film menampilkan interaksi Kaluna secara terpisah dengan setiap kakaknya, sedangkan versi musikal langsung memperlihatkan riuh suasana rumah tangga secara utuh di atas panggung.

"Riweuhnya dan dinamika naik-turun rumah diperlihatkan dalam panggung musikal," kata Chris.

Inisiatif adaptasi ini diawali dari diskusi antara tim Visinema selaku pemegang hak cipta Home Sweet Loan bersama penulis Almira Bastari. Keduanya sepakat bahwa kisah perjuangan Kaluna mencerminkan realitas dan tekanan finansial yang dihadapi masyarakat modern saat ini.

"Gak ada satu pun orang yang ngomong dengan lantang. Mungkin ada temen kantor kamu yang tertekan dengan cicilan, pinjol, tekanan orang tua sakit. Mungkin yang paling sering bercanda, dia-lah yang paling tertekan.

Jadi, ini masalah manusia modern. Yang paling highlight soal sandwich generations. Mimpinya apa sih, banyak yang mau punya tapi dibilang paling mustahil yaitu punya rumah," tegas Chris.

Penggarapan lakon ini diproyeksikan untuk menyuarakan keresahan generasi impit yang kerap kali tidak memiliki ruang aman pribadi di tengah himpitan beban keluarga.

"Bukan tentang perjalanan cari rumah, berantem dengan keluarga tapi seseorang yang gak pernah punya tempat atau waktu di rumahnya sendiri. Kaluna ini representasi dari karakter di sekitar kita yang gak punya apa-apa," tukas Chris.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed