Jepang Hadapi Tunisia dalam Laga Bersejarah Piala Dunia di Meksiko
Tim nasional Jepang bersiap meningkatkan intensitas permainan saat menghadapi Tunisia pada pertandingan ke-1000 dalam sejarah Piala Dunia di Monterrey, Meksiko, pada Sabtu, 20 Juni 2026. Pertandingan lanjutan Grup F Piala Dunia 2026 ini menjadi krusial bagi kedua tim demi menjaga peluang lolos ke babak 32 besar.
Jepang saat ini mengantongi satu poin setelah bermain imbang 2-2 melawan Belanda, sedangkan Tunisia belum memiliki poin akibat kekalahan telak 1-5 dari Swedia pada laga pembuka. Pelatih Jepang, Hajime Moriyasu, menegaskan bahwa anak asuhnya tidak merasa puas dengan hasil imbang melawan Belanda dan kini membidik kemenangan penuh atas Tunisia.
"The Netherlands played very well, and so did our team, but we are not completely satisfied," kata Hajime Moriyasu, Pelatih Jepang.
Moriyasu mengantisipasi perubahan strategi dari Tunisia yang baru saja mengganti pelatih kepala mereka, Sabri Lamouchi, dengan juru taktik asal Prancis, Herve Renard. "I’m sure that the team is different from the team that went against Sweden," ujar Hajime Moriyasu, Pelatih Jepang.
Menurut Moriyasu, Tunisia memiliki kualitas individu dan pertahanan solid yang dapat memanfaatkan kelengahan lawan menjadi peluang mencetak gol. "They do have solid defense, and they look into the gaps in the opponents so that they could tie that into a scoring position," tutur Hajime Moriyasu, Pelatih Jepang.
Suhu panas di Monterrey juga menjadi tantangan tersendiri bagi skuad Samurai Biru dibandingkan dengan pertandingan pertama mereka yang berlangsung di dalam stadion ber-AC di Dallas.
"Here, the environment is very different," ucap Hajime Moriyasu, Pelatih Jepang. Moriyasu menambahkan bahwa kondisi cuaca ekstrem ini sudah diantisipasi melalui program latihan khusus tim.
"It is hotter here. And so for the players, it would be a more difficult environment," kata Hajime Moriyasu, Pelatih Jepang.
Pertandingan ini juga memiliki makna historis tersendiri karena menjadi laga ke-1000 sepanjang sejarah pelaksanaan Piala Dunia. "We want to make sure that it is a brilliant game which is going to be worthy of being the 1,000th game of the World Cup," sebut Hajime Moriyasu, Pelatih Jepang. Selain mengenai taktik, Moriyasu turut menanggapi sorotan global terhadap tradisi para pemain dan suporter Jepang yang selalu membersihkan stadion serta ruang ganti setelah pertandingan usai.
"Many Japanese know that they want to leave the place in a better state than before," ungkap Hajime Moriyasu, Pelatih Jepang.
Ia menjelaskan bahwa perilaku tersebut mencerminkan budaya gotong royong dan kerja sama yang melekat kuat di masyarakat Jepang. "Always helping each other, doing something together, working together. That’s something that the Japanese do," jelas Hajime Moriyasu, Pelatih Jepang.
Di kubu lawan, pelatih baru Tunisia, Herve Renard, mencoba membangkitkan motivasi timnya dengan berkaca pada keberhasilan Tanjung Verde yang menahan imbang juara Eropa, Spanyol. "When you are organized and together, you are able to compete. We have to follow this example and not be scared of defeat," kata Herve Renard, Pelatih Tunisia.
Renard mengakui keunggulan Jepang yang menempati peringkat 17 FIFA, unggul 37 peringkat di atas Tunisia, serta belum terkalahkan sejak September 2025. "I’ve met with an open-minded group," tutur Herve Renard, Pelatih Tunisia. Pelatih berusia 57 tahun tersebut menyatakan para pemainnya memiliki motivasi tinggi untuk bangkit dan memberikan perlawanan maksimal demi mengamankan poin.
"They want their revenge. We know that we must go above and beyond against this Japanese team," ujar Herve Renard, Pelatih Tunisia.
Meski memiliki rekam jejak impresif seperti menjuarai Piala Afrika bersama Zambia dan Pantai Gading, Renard enggan disebut sebagai juru selamat yang membawa keajaiban instan. "I am no wizard," tegas Herve Renard, Pelatih Tunisia. Menurutnya, hasil pertandingan sepenuhnya berada di tangan para pemain yang bertanding di lapangan hijau.
"The coach is not the key; the key is the players," kata Herve Renard, Pelatih Tunisia.
Di luar lapangan, atmosfer meriah melanda kota Monterrey ketika para pendukung dari kedua negara berkumpul dan berpesta bersama penduduk lokal menjelang pertandingan di Estadio BBVA. "It is a pleasure to be in the World Cup and to interact with other people," kata Hassen Ben Jedidia, Suporter Tunisia.
Suporter Jepang juga menikmati momen kebersamaan ini sebagai pesan perdamaian melalui sepak bola. "I like the unity of everyone, just coming together to watch a beautiful game. We’re all just here to have a good time and I appreciate that a lot," ujar Haruto Kato, Suporter Jepang.
Pesan serupa juga disampaikan oleh pendukung Jepang lainnya yang menilai dunia membutuhkan lebih banyak momen persatuan seperti ini. "A lot more of this: peace," tutur Ken Kousaka, Suporter Jepang. Setelah pertandingan ini, Tunisia dijadwalkan menghadapi Belanda di Kansas City pada 25 Juni, sementara Jepang akan melawan Swedia di Dallas pada hari yang sama.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow