Kemendikdasmen Integrasikan Asesmen Nasional ke TKA SMA 2026
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah merancang penggabungan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA/SMK/sederajat tahun 2026 dengan Asesmen Nasional (AN). Melalui skema ini, seluruh peserta TKA otomatis menjadi sampel dalam pengujian AN, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen Rahmawati menjelaskan bahwa integrasi materi AN tersebut diterapkan pada tiga mata pelajaran wajib, yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika.
Sementara itu, komponen Survei Karakter serta Survei Lingkungan Belajar tetap disajikan sebagai subtes terpisah. "Saat ini di tahun 2026, pelaksanaan TKA diintegrasikan dengan Asesmen Nasional. Jadi, semua peserta TKA secara otomatis menjadi sampel Asesmen Nasional," tutur Rahmawati dalam Webinar Bincang SMA TKA.
Ujian hari pertama diisi mata pelajaran Bahasa Indonesia wajib yang disisipi soal literasi membaca. Komponen ini dirancang selaras untuk mengukur kemampuan peserta didik mulai dari pengaksesan hingga evaluasi wacana.
"Apa sih bedanya mengerjakan soal bahasa Indonesia TKA dengan literasi membaca di Asesmen Nasional? Nyaris tidak ada bedanya," ungkap Rahmawati. Materi yang disajikan mencakup teks sastra, nonfiksi, maupun teks informasi. Siswa diuji melalui beragam tingkatan soal guna menilai kompetensi pemahaman bacaan.
"Dari level hanya mengakses informasi yang ada di wacana sampai menginterpretasi atau mengintegrasikan informasi yang ada di wacana, sampai kemudian yang terakhir diharapkan juga mampu mengevaluasi teks yang disajikan. Semua kompetensi yang diukur ini sangat selaras antara TKA dengan literasi membaca," bebernya. Pelaksanaan dilanjutkan pada hari kedua untuk mata pelajaran Bahasa Inggris wajib yang memuat integrasi AN. Selanjutnya pada hari ketiga, siswa menghadapi mata pelajaran Matematika wajib untuk mengukur kemampuan numerasi melalui teks, grafik, infografis, dan tabel.
"Nah, bedanya apa antara matematika TKA dengan numerasi? Jadi sebenarnya perbedaan utamanya adalah ketika kemampuan matematika itu diujikan dalam konteks keseharian, soal-soal cerita sehari-hari, permasalahan sehari-hari, maka sebenarnya sedang dilakukan pengukuran numerasi," papar Rahmawati. Pihak Kemendikdasmen mengimbau para siswa agar tidak merasa khawatir dalam menghadapi format ujian baru ini.
Metode pembelajaran mendalam yang diterapkan di sekolah diyakini sudah membekali para siswa secara optimal. "Apakah menakutkan? Tidak perlu takut ya, karena kami menyakini dengan pembelajaran mendalam, teman-teman sebelum belajar suatu topik, kita akan berupaya untuk sadar, kita mindful, kita belajar ini sebenarnya untuk apa, manfaatnya bagaimana," jelasnya.
Penerapan materi secara mendalam diharapkan mampu membantu para peserta memahami implementasi konsep dalam kehidupan sehari-hari secara menyenangkan.
"Kita juga meaningful, kita mengetahui betul konsep yang kita pelajari ini bagaimana implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Sangat sesuai dengan numerasi dan pada akhirnya kita akan joyful dengan apa yang kita pelajari," tegas Rahmawati lagi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow