Kementan Subsidi Benih Padi 1 Juta Hektare pada 2027
Kementerian Pertanian menyiapkan program subsidi benih padi untuk minimal 1 juta hektare lahan pada 2027 guna mendongkrak produksi gabah nasional. Kebijakan ini disampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Rabu (2/9/2026).
Program penyiapan subsidi benih ini difokuskan untuk memperluas penerapan metode Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS). Melalui strategi tersebut, pemerintah menargetkan kenaikan produksi gabah kering giling hingga 5 juta ton dari asumsi tambahan hasil 5 ton per hektare.
Pemerintah membuka peluang untuk memperluas cakupan area penerima subsidi benih tersebut hingga mencapai 2 juta hingga 4 juta hektare pada masa mendatang. Ekspansi area tersebut diperkirakan mampu menambah produksi gabah nasional hingga 10 juta ton sekaligus mendongkrak pendapatan petani secara signifikan.
"Tahun depan kita anggarkan minimal 1 juta hektar. Kalau 1 juta hektar dikali (tambahan produksi) 5 ton, itu ada 5 juta ton," kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Rabu (2/9/2026).
Menteri Pertanian menambahkan bahwa perluasan area tanam berpotensi meningkatkan nilai ekonomi dan kesejahteraan para petani secara drastis berdasarkan perhitungan harga pembelian pemerintah.
"Kalau 1 juta kali 5 ton, itu 5 juta ton kan? Kalau 2 juta, berarti 10 juta ton kan? 10 juta ton kali Rp 6 juta (HPP per ton) kali Rp 10 triliun, Rp 65 triliun. Rp 65 triliun pendapatan petani," ujar Amran.
Penerapan metode PM-AAS mencatatkan peningkatkan produktivitas tanaman padi di sejumlah kawasan dari rerata awal 5 hingga 6 ton per hektare menjadi 10 hingga 13 ton per hektare. Sementara pada area lahan rawa, tingkat produksi yang semula 3 ton per hektare melambung menjadi sekitar 8 ton per hektare.
"Kalau 4 juta ton kita tanami, itu Rp 130 triliun lebih tambahan pendapatan petani. Tadi 2 kali lipat (peningkatannya) 5 ton sampai 6 ton. Tadi kan ada 10, ada yang 13 ton per ha.
Dulunya 5 ton, 6 ton. Kalau di daerah rawa 8 ton. Dulu 3 ton, meningkatkan juga 5 ton," katanya.
Penggunaan metode PM-AAS saat ini telah disosialisasikan serta diterapkan di 10 hingga 11 provinsi, seperti Jawa Barat, Sumatera Utara, Lampung, Banten, dan Nusa Tenggara Barat. Lonjakan produksi dipicu oleh peningkatkan kerapatan populasi tanaman padi di area persawahan.
"Metode ini meningkatkan populasi, dari yang sebelumnya 360 ribu rumpun menjadi 800 ribu sampai satu juta," kata Amran.
Penambahan jumlah tanaman dalam satu area lahan persawahan terbukti memberikan dampak langsung terhadap kalkulasi total tonase panen gabah secara keseluruhan.
"Satu rumpun itu menghasilkan 13-15 gram, kalau dikalikan 800 atau 1 juta maka hasilnya dapat kelihatan," ujarnya.
Kementerian Pertanian mencatat bahwa pengujian teknis metode pertanian modern tersebut telah dilakukan secara konsisten selama rentang waktu dua tahun terakhir.
"Yang dulu ada jarak 25 cm, 20 cm. Sehingga populasinya 360 ribu (rumpun per ha). Sekarang karena ini rapat, populasinya naik 800 (ribu) sampai 1 juta (rumpun per ha).
Nah, ini meningkatkan 2 kali lipat. Yang biasanya 5 ton-6 ton. 5,5 sekarang 11 ton sampai 13 ton per ha," jelasnya.
Secara teknis, inovasi PM-AAS mengandalkan metode tanam benih langsung atau direct seeding yang secara efektif memangkas durasi proses persemaian dan pemindahan bibit.
"Ini langsung direct seeding, jadi dari padi bibit benih, ini langsung disemai. Tidak ada lagi biaya untuk pembibitan. Ini menguntungkan segi waktu, itu pembibitan kan bisa memakan waktu pembenihan bisa 2-3 minggu dan pindahnya katakanlah habis 1 bulan," jelas Amran saat berada di Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi Sukamandi, Subang.
Efisiensi durasi tanam tersebut membuka ruang bagi para petani untuk meningkatkan frekuensi masa tanam dan panen dalam satu siklus tahunan.
"Nah ini langsung, jadi untuk 3 kali tanam dalam 1 tahun itu sangat memungkinkan," pungkasnya.
Penerapan metode modern ini membutuhkan alokasi biaya tambahan untuk kebutuhan benih dan pemupukan sebesar Rp2 juta per hektare. Meski demikian, potensi pendapatan bersih petani diperkirakan mencapai Rp11 juta per bulan dengan total biaya produksi maksimal Rp20 juta.
"(Biayanya) lebih tinggi Rp2 juta per hektare tetapi penghasilannya naik, kemarin ada sampai Rp65 juta per hektare (dengan asumsi produktivitas 10 ton). Kalau dulu 5 ton per hektare itu nilainya Rp30-35 juta per hektare," tutur dia.
Menteri Pertanian turut memberikan rincian kalkulasi margin keuntungan yang bisa didapatkan oleh petani dari skema sistem pertanian baru tersebut.
"Kalau 5 ton dikali 6 itu Rp 30 juta atau Rp 35 juta tambahannya, tapi itu bisa juga sampai Rp 40 juta. Nah, biayanya tambahannya hanya Rp 2 juta," terangnya.
Amran memperhitungkan bahwa kalkulasi imbal hasil dari metode baru ini jauh melampaui tambahan pengeluaran operasional di tingkat petani.
"Nah, katakanlah dia produksi 10 ton kalau dikali Rp 6.500 (HPP) itu berarti Rp 65 juta, biayanya Rp 15 juta maksimal Rp 20 juta. Berarti ada selisih Rp 45 juta 4 bulan, dapat Rp 11 juta per bulan bersih," bebernya.
Di sisi lain, Amran menanggapi rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai proyeksi penurunan produksi padi sebesar 0,08 persen atau setara 30 ribu ton pada Oktober 2026. Ia menilai estimasi penurunan tersebut tergolong sangat kecil dibanding total produksi nasional.
"0,08 persen kecil sekali, kali 34,6 juta ton aja deh hanya 30 ribu ton, sangat kecil kan," ujarnya.
Menanggapi kebutuhan benih nasional, Kementerian Pertanian menyiapkan pengadaan melalui seed centre Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian. Lembaga tersebut telah memproduksi sekitar 245 ton benih pada tahun ini untuk didistribusikan ke berbagai kawasan di Indonesia.
"Caranya adalah untuk tahun pertama, insyaallah tahun depan kita subsidi benih se-Indonesia minimal 1 juta hektare, tahun depan," kata Amran.
Proses penyaluran pasokan benih unggul tersebut dipastikan mencakup berbagai komoditas pangan untuk mendukung target swasembada nasional.
"Sekarang ini kita sudah produksi tahun ini 245 ton untuk tahun ini. Kalau benih sebar, seluruh komoditas," jelasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow