Kisah Craig Bellamy Bangkit dari Kebangkrutan hingga Latih Timnas Wales
Mantan penyerang Premier League asal Wales, Craig Bellamy, pernah mengalami masa-masa sulit dalam kehidupannya usai memutuskan pensiun dari dunia sepak bola profesional. Sosok yang pernah membela klub-klub besar seperti Newcastle United, Liverpool, hingga Manchester City ini sempat dinyatakan bangkrut.
Karier Bellamy sebenarnya terbilang cemerlang selama hampir dua dekade. Dilansir dari Bola, Bellamy mengawali kiprah profesionalnya di Bristol Rovers sebelum bersinar bersama Norwich City lewat torehan 32 gol dari 85 laga. Potensinya sempat terhambat cedera ACL dan depresi, namun ia berhasil bangkit saat membela Coventry City hingga akhirnya direkrut Newcastle United pada awal 2000-an.
Di St James' Park, Bellamy merasakan persaingan Liga Champions meski kariernya di sana diwarnai perselisihan dengan manajer Graeme Souness. Bellamy kemudian melanglang buana ke Celtic, Blackburn Rovers, West Ham United, dan Liverpool. Di Anfield, ia membantu klub mencapai final Liga Champions, meski sempat terlibat insiden pemukulan menggunakan tongkat golf terhadap rekannya, John Arne Riise.
Setelah mengakhiri kariernya di Cardiff City pada 2014 dengan koleksi dua trofi utama serta 78 caps untuk Timnas Wales, Bellamy justru dihadapkan pada krisis keuangan serius. Berbeda dengan mantan atlet lain yang terperosok karena judi atau alkohol, finansial Bellamy hancur akibat investasi gagal, penasihat keuangan yang salah, dan keterlambatan laporan pajak.
"Saya menjalani lima atau enam tahun terakhir seperti berada di Death Row. Saya hanya menunggu seseorang datang dan mengakhiri semuanya," ujar Bellamy.
"Saya tidak bisa menantikan apa pun. Semua uang yang saya hasilkan, saya bahkan tidak bisa mendapatkan hipotek. Secara finansial, saya tidak punya masa depan.
Saya tidak bisa memiliki apa pun. Semuanya sudah hilang," tuturnya.
Bellamy mengaku sangat naif karena terlalu percaya kepada orang-orang yang mengelola keuangannya serta sulit menolak permintaan bantuan dana dari orang lain. Otoritas Pajak Inggris (HMRC) pun terus mengejarnya hingga ia tidak punya pilihan selain menyatakan bangkrut.
"Saya bukan pengemplang pajak. Namun, saya sangat naif dan HMRC sudah mengejar saya karena pajak yang belum dibayarkan," katanya.
"Jika Anda mendapatkan orang yang wrong untuk memberikan nasihat, semuanya bisa terkuras sedikit demi sedikit. Sampai pada akhirnya, kebangkrutan justru menjadi sebuah kelegaan. Itu berarti saya bisa mulai hidup lagi," ucap Bellamy.
"Orang-orang menganggap Anda seperti mesin ATM berjalan. Saya merasa bersalah ketika mengatakan tidak kepada orang yang menelepon meminta bantuan, jadi saya tidak pernah mengatakan tidak," ujar Bellamy.
Pelajaran pahit tersebut mendorong Bellamy untuk memberikan peringatan keras kepada para pesepak bola muda agar lebih berhati-hati dalam memilih penasihat keuangan independen.
"Saya ingin ini menjadi peringatan bagi pemain lain. Periksa semuanya dan pastikan orang yang memberikan nasihat kepada Anda memiliki izin resmi," katanya.
"Periksa keuangan Anda dengan orang independen, seperti mendapatkan opini kedua. Saya berasal dari generasi pesepak bola ketika semuanya dilakukan klub untuk Anda. Tagihan, keuangan, semuanya. Menurut saya, itu sebuah kesalahan," tutur Bellamy.
Titik balik kehidupannya dimulai saat Vincent Kompany mengajaknya menjadi asisten pelatih di Anderlecht dan Burnley. Bersama Kompany, Bellamy sukses membawa Burnley promosi ke Premier League. Puncak kebangkitannya terjadi pada Juli 2024 ketika ia resmi ditunjuk sebagai kepala pelatih Timnas Wales, sebuah posisi yang diakuinya sebagai pekerjaan impian tertinggi sepanjang kariernya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow