Kurs Dolar AS di BCA Mandiri BRI dan BNI Bergerak Fluktuatif Menjelang Akhir Pekan
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di sejumlah perbankan papan atas seperti BCA, Bank Mandiri, BRI, dan BNI bergerak fluktuatif pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Pergerakan ini terjadi di tengah dinamika pasar spot yang sempat membawa mata uang Garuda menguat di pagi hari sebelum kembali tertekan menjelang penutupan sore.
Berdasarkan data pasar yang dihimpun dari perbankan nasional, masing-masing bank menerapkan kuotasi nilai tukar yang beragam untuk transaksi e-Rate, Bank Notes, maupun TT Counter. Fluktuasi ini dipicu oleh sentimen global serta kondisi likuiditas valuta asing di dalam negeri.
Bagi nasabah yang ingin melakukan transaksi valuta asing, baik untuk keperluan bisnis maupun remitansi, berikut adalah rincian kurs dolar AS yang berlaku di empat bank utama nasional pada hari ini:
| Nama Bank | Jenis Kurs | Harga Beli (IDR) | Harga Jual (IDR) |
|---|---|---|---|
| BCA | e-Rate | 17.795 | 17.825 |
| Bank Mandiri | TT Counter | 17.750 | 17.850 |
| BRI | e-Rate | 17.780 | 17.815 |
| BNI | Bank Notes | 17.730 | 17.880 |
Secara umum, angka kuotasi di atas menunjukkan bahwa perbankan mengantisipasi volatilitas tinggi yang terjadi di pasar spot internasional. Selisih atau spread antara harga beli dan harga jual dijaga pada rentang yang aman guna memitigasi risiko perubahan harga yang cepat.
Dinamika Pergerakan Rupiah di Pasar Spot
Menurut laporan dari Bloomberg, pergerakan rupiah pada hari ini sebenarnya dibuka menguat di level Rp17.827 per dolar AS pada perdagangan pagi. Sentimen positif sempat berembus ke pasar keuangan domestik seiring adanya kabar baik dari geopolitik global.
Pada siang hari tepatnya pukul 12.45 WIB, rupiah terus merangkak naik hingga menyentuh level Rp17.814 per dolar AS. Penguatan ini dilaporkan terjadi akibat adanya sentimen positif terkait rencana gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Namun, situasi berbalik menjelang akhir perdagangan. Memasuki sore hari sekitar pukul 16.54 hingga 17.10 WIB, mata uang rupiah kembali mendapat tekanan berat dari dolar AS hingga menembus ke atas level Rp17.800 per dolar AS, bahkan sempat menyentuh titik terlemahnya di posisi Rp17.877 per dolar AS.
Kondisi ini berbanding terbalik jika melihat data historis tahun lalu. Melansir laporan keuangan dari pasar spot, pada 23 Juli 2025 rupiah tercatat sempat menguat ke level Rp16.303 per dolar AS, sementara kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia berada di level Rp16.298.
Kinerja Sektor Riil dan Penyaluran Kredit Perbankan
Meskipun pasar valuta asing sedang mengalami tekanan volatilitas, sektor perbankan tetap aktif menyalurkan pembiayaan untuk mendorong perekonomian domestik. Salah satu fokus utama perbankan saat ini adalah memperkuat sektor produksi guna menjaga daya tahan ekonomi nasional.
Sebagai contoh, berdasarkan data dari Finansial Bisnis, laporan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) oleh BRI hingga bulan April 2026 menunjukkan angka yang impresif. Total akumulasi kredit yang dikucurkan telah mencapai Rp65,95 triliun kepada sekitar 1,3 juta debitur di seluruh Indonesia.
Sebagian besar dari dana KUR tersebut mengalir ke sektor riil dengan rincian sebagai berikut:
- Sektor produksi (pertanian, perikanan, industri pengolahan) mendominasi dengan porsi penyaluran mencapai 66,47%.
- Sektor pertanian menjadi kontributor tunggal terbesar yang menyerap dana hingga Rp27,95 triliun atau setara dengan 42,38%.
Langkah penyerapan modal kerja ke sektor produktif ini diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan pangan dan barang di dalam negeri, sehingga dapat meredam dampak negatif dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap inflasi domestik.
Informasi nilai tukar ini dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan pasar finansial global dan domestik. Transaksi valuta asing sebaiknya dilakukan dengan memantau pergerakan angka kurs secara langsung pada aplikasi atau situs resmi masing-masing perbankan terkait.
Hingga saat ini, pelaku pasar masih terus mencermati arah kebijakan suku bunga acuan dari bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, serta langkah-langkah intervensi yang akan diambil oleh Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas moneter di tanah air.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow