Kurs Dollar AS Tembus Rp18065 Hari Ini Rupiah Tertekan Kenaikan Tahunan 11 Persen
Nilai tukar mata uang dollar AS terhadap rupiah berada di angka Rp18.065,5 per dollar AS pada perdagangan Jumat (10/7/2026). Angka ini menunjukkan pelemahan rupiah yang terus bertahan di atas level psikologis baru sejak menembus area pasokan krusial.
Berdasarkan data perdagangan terkini, harga dollar ke rupiah hari ini mencatatkan penurunan harian tipis sebesar -1,5 poin atau setara -0,01 persen. Kendati demikian, kinerja mata uang Garuda dalam jangka panjang menunjukkan tekanan hebat dengan akumulasi pelemahan tahunan yang menembus belasan persen.
Menurut data dari Trading Economics, pergerakan kurs dollar hari ini mengonfirmasi adanya kenaikan tahunan USD/IDR sebesar 11,32 persen. Penguatan dollar AS yang signifikan sepanjang tahun ini memaksa rupiah menjauh dari nilai fundamentalnya.
Jika menilik performa jangka pendek hingga panjang dari TradingView, fluktuasi nilai tukar ini memperlihatkan tren penguatan dollar AS yang sangat konsisten terhadap rupiah dengan rincian persentase pergerakan sebagai berikut:
- Pergerakan 5 hari: naik 0,53 persen
- Pergerakan 1 bulan: turun -0,28 persen
- Pergerakan 6 bulan: naik 7,67 persen
- Pergerakan Year to Date (YTD): naik 8,20 persen
- Pergerakan 1 tahun: naik 11,30 persen
- Pergerakan 5 tahun: naik 25,03 persen
- Pergerakan 10 tahun: naik 38,26 persen
- Pergerakan sepanjang waktu: naik 863,25 persen
Kondisi ini memicu pertanyaan di kalangan pelaku pasar mengenai "kenapa nilai rupiah turun sekarang" secara terus-menerus. Tekanan eksternal dan melebarnya selisih suku bunga disinyalir menjadi pemicu utama fluktuasi ini.
Data historis dari Wise juga menunjukkan bahwa dalam performa 30 hari terakhir, nilai tertinggi dollar AS sempat menyentuh Rp18.130,0000 dengan nilai terendah di rentang Rp17.721,0000. Sementara itu, nilai rata-rata tertimbang sepanjang sebulan ke belakang berada pada level Rp17.902,8333 dengan perubahan persentase sebesar 0,77 persen.
Dampak Dollar Naik Terhadap IHSG dan Aliran Modal
Pelemahan mata uang domestik yang terjadi belakangan ini memberikan dampak dollar naik terhadap ihsg secara langsung. Para investor cenderung mengamankan aset mereka keluar dari pasar keuangan dalam negeri.
Dalam satu minggu terakhir, pasar saham domestik mencatatkan aliran modal keluar atau outflow asing yang cukup besar di Bursa Efek Indonesia. Hal ini terjadi karena posisi rupiah yang rentan memicu aksi jual bersih oleh pemodal internasional.
Intervensi Suku Bunga Bank Indonesia
Merespons situasi tersebut, Bank Indonesia telah mengambil tindakan preventif ekstrem di luar kebiasaan untuk mengawal stabilitas nilai tukar. Langkah cepat ini diambil demi meredam gejolak yang lebih dalam di pasar spot valuta asing.
Bank sentral memutuskan menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) dari 5,25 persen menjadi 5,5 persen pada tanggal 9 Juni 2026 lalu. Langkah mendadak tersebut diambil di luar jadwal resmi Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang semula diagendakan pada 18 hingga 19 Juni 2026.
Untuk memberikan gambaran perbandingan volatilitas jangka menengah, berikut adalah komparasi data pergerakan nilai tukar USD/IDR berdasarkan performa historis 30 hari dan 90 hari terakhir:
| Parameter Kinerja | Periode 30 Hari | Periode 90 Hari |
|---|---|---|
| Nilai Tertinggi | 18.130,0000 | 18.209,0000 |
| Nilai Terendah | 17.721,0000 | 17.089,0000 |
| Nilai Rata-rata | 17.902,8333 | 17.646,7744 |
| Persentase Perubahan | 0,77% | 5,68% |
Informasi nilai tukar dan pergerakan kurs valuta asing dapat berfluktuasi sewaktu-waktu mengikuti kondisi pasar finansial. Transaksi keuangan harap dilakukan dengan memantau pergerakan pasar secara bijak.
Hingga saat ini, pelaku pasar masih mencermati keampuhan transmisi kebijakan kenaikan suku bunga Bank Indonesia tersebut dalam menahan laju depresiasi rupiah. Pasar spot valas domestik terus mengantisipasi rilis data ekonomi global selanjutnya untuk menentukan arah pergerakan mata uang.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow