Kurs Rupiah Menguat ke Rp 17.717 per Dollar AS, Dipicu Sentimen Damai AS dan Iran

Smallest Font
Largest Font

Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada awal perdagangan pasar spot Senin (15/6/2026) pagi. Mata uang Garuda terapresiasi sebesar 143 poin atau 0,89 persen ke level Rp 17.717 per dollar Amerika Serikat (AS).

Pergerakan positif ini terpantau berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.24 WIB. Penguatan tersebut sekaligus melanjutkan tren apresiasi yang terjadi pada penutupan akhir pekan lalu.

Pada Jumat (12/6/2026), mata uang rupiah telah ditutup menguat sebesar 128 poin atau 0,71 persen menuju level Rp 17.860 per dollar AS.

Faktor Pemicu Penguatan Rupiah

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan, penguatan rupiah didorong membaiknya sentimen pasar global setelah tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran.

Kesepakatan damai kedua negara tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, penerapan gencatan senjata, dimulainya negosiasi program nuklir Iran, hingga pelonggaran sanksi ekonomi.

Periode Perdagangan Nilai Tukar Rupiah per Dollar AS Perubahan (Poin) Persentase
Jumat (12/6/2026) Rp 17.860 +128 0,71%
Senin (15/6/2026) Rp 17.717 +143 0,89%

Menurut Josua Pardede, perkembangan kondisi tersebut meningkatkan sentimen risk-on di pasar keuangan global. Situasi ini memicu para investor untuk kembali masuk ke aset berisiko.Aset berisiko yang dimaksud mencakup mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Selain sentimen eksternal, mata uang domestik juga mendapatkan dukungan kuat dari kebijakan bank sentral.Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi 5,50 persen pada pekan lalu dinilai meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar.

"Pada hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp 17.725-17.875 per dollar AS," ujarnya kepada Kompas.com, Senin (15/6/2026).

Dampak Pelemahan Dollar AS dan Harga Minyak

Faktor eksternal lain yang menopang penguatan rupiah adalah pelemahan dollar AS di pasar Asia pagi ini. Minat investor terhadap aset berisiko membuat indeks dollar AS tertekan.

Sentimen positif perdamaian ini juga turut menekan harga minyak mentah jenis Brent sekitar 4 persen. Harga komoditas energi tersebut kini berada di bawah 85 dollar AS per barel.

Indikator Pasar Perubahan / Posisi Dampak Sentimen
Indeks Dollar AS (DXY) Melemah 0,32% (Mingguan) Meningkatkan Minat Aset Berisiko
Minyak Mentah Brent Turun ~4% (Di bawah 85 USD) Meredakan Tekanan Inflasi Global

Secara mingguan, dollar AS melemah moderat akibat optimisme damai di Timur Tengah dan rilis data inflasi inti AS yang lebih rendah dari ekspektasi. Indeks Dollar AS (DXY) melemah 0,32 persen.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong juga memproyeksikan bahwa mata uang rupiah memiliki berpotensi untuk kembali melanjutkan penguatan terhadap dollar AS.

Menurut Lukman Leong, optimisme pasar meningkat seiring meredanya konflik di Timur Tengah setelah adanya pernyataan bersama dari pihak AS dan Pakistan mengenai tercapainya kesepakatan damai.

"Rupiah berpotensi kembali menguat terhadap dolar AS di kisaran Rp 17.700-17.800 per dollar AS," ujar Lukman kepada Kompas.com, Senin (15/6/2026).

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed