Bank Indonesia Lakukan Empat Langkah Moneter Guna Jaga Rupiah

Smallest Font
Largest Font

Bank Indonesia menyiapkan empat strategi moneter strategis di luar penyesuaian BI-Rate guna meredam pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Langkah ini diumumkan di Jakarta pada Selasa (9/6/2026) sebagai upaya memperkuat masuknya investasi asing dan menjaga likuiditas domestik.

Strategi pertama difokuskan pada peningkatan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk seluruh tenor, yaitu 6, 9, dan 12 bulan. Kebijakan ini diambil agar imbal hasil investasi portofolio di dalam negeri tetap menarik bagi investor global.

"Kenaikan struktur suku bunga SRBI dimaksud dilakukan sesuai mekanisme pasar dan untuk menjadikan investasi portofolio di Indonesia tetap kompetitif dengan negara lain," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, Selasa (9/6/2026).

Sebagai langkah kedua, bank sentral memberikan insentif pemotongan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) sebesar 10% bagi investor asing. Fasilitas swap lindung nilai ini disalurkan melalui bank-bank domestik sebelum diteruskan ke Bank Indonesia, sementara regular swap tetap mengikuti mekanisme pasar.

Langkah ketiga menyasar penguatan likuiditas perbankan melalui pembukaan kembali window lelang instrumen repurchase agreement (repo) tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan. BI menargetkan penyediaan likuiditas ini mampu mempertahankan pertumbuhan Uang Primer (M0) tetap di atas 10%.

"Perluasan fasilitas repo ini akan menjadi instrumen utama dalam pengelolaan likuiditas moneter dibandingkan dengan mekanisme lain, termasuk melalui pembelian SBN dari pasar sekunder yang selama ini ditempuh Bank Indonesia," lanjut Ramdan Denny Prakoso.

Pada strategi keempat, intensitas operasi moneter diperkuat melalui lelang SRBI dua kali seminggu serta intervensi valuta asing di pasar spot, DNDF, dan NDF luar negeri. Di samping itu, sinergi fiskal-moneter bersama Kementerian Keuangan ikut dipacu melalui pengelolaan kas negara di bank sentral agar selaras dalam menjaga stabilitas makroekonomi.

"Koordinasi fiskal-moneter yang sudah kuat selama ini terus akan diperkuat dari waktu ke waktu dan dilakukan secara berkesinambungan untuk saling mendukung dan seirama dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi, dengan keyakinan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga kuat dan berdaya tahan dalam menghadapi gejolak global," tutup Ramdan Denny Prakoso.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed