Longsor TPA di Guinea Tewaskan 30 Orang

Smallest Font
Largest Font

Sebanyak 30 orang dilaporkan tewas akibat runtuhnya tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Dar-es-salam, Distrik Gbessia, Conakry, Guinea, pada Minggu (23/8/2026) pukul 02.00 waktu setempat setelah diguyur hujan lebat. Bencana longsor dahsyat ini juga menyebabkan enam orang mengalami luka serius dan 16 lainnya menderita luka ringan. Tumpukan sampah raksasa tersebut runtuh dan menimpa sejumlah rumah warga serta tenda-tenda di sekitarnya. Pemerintah setempat langsung bergerak cepat mengerahkan berbagai peralatan berat, termasuk ekskavator, guna mencari korban yang masih tertimbun serta mengevakuasi para korban.

"Sumber daya manusia dan peralatan yang signifikan telah dikerahkan untuk mencari orang-orang yang mungkin masih terkubur, menyelamatkan para korban, dan mengevakuasi jenazah," tulis pernyataan pemerintah Guinea.

Selain proses pencarian, pihak berwenang memastikan penanganan medis bagi korban selamat serta penyaluran bantuan darurat. "Langkah-langkah telah diambil untuk memastikan perawatan medis bagi korban luka dan memberikan bantuan bagi mereka yang terdampak tragedi ini," demikian bunyi pernyataan pemerintah.

Perdana Menteri Guinea Amadou Oury Bah turut mendatangi langsung lokasi kejadian guna meninjau proses evakuasi yang disaksikan oleh kerumunan warga. "Tetap tenang, menunjukkan solidaritas, dan secara ketat mengikuti instruksi dari layanan penyelamatan serta pihak berwenang," ujar Amadou Oury Bah, Perdana Menteri Guinea.

Sebelum pengumuman resmi dirilis, tokoh masyarakat setempat sempat mengungkapkan kekhawatiran atas tingginya korban jiwa akibat ambruknya material sampah tersebut. "Kami telah mengevakuasi 18 jenazah yang kemudian dibawa ke kamar jenazah," ujar Lancine Sylla, tokoh masyarakat setempat. Mantan Perdana Menteri sekaligus tokoh oposisi utama Guinea, Cellou Dalein Diallo, menyampaikan rasa duka mendalam dan menyoroti ironi jadwal penutupan TPA tersebut.

"Tragedi ini semakin memprihatinkan karena penutupan tempat pembuangan sampah tersebut sebenarnya telah dijadwalkan pada hari Minggu ini, 23 Agustus," tulis Cellou Dalein Diallo, tokoh oposisi utama Guinea.

Diallo mendesak pihak berwenang untuk mengusut tuntas penyebab bencana kemanusiaan ini secara transparan kepada publik. "Kini giliran pihak berwenang yang berwenang untuk mengungkap, dengan transparansi penuh, situasi yang menyebabkan bencana ini dan mengambil kesimpulan yang diperlukan," tulis Cellou Dalein Diallo, mantan Perdana Menteri Guinea. Dampak kehilangan dirasakan langsung oleh para warga, salah satunya Cire Diallo yang harus kehilangan seluruh anak tercintanya dalam peristiwa tersebut.

"Saya telah kehilangan semua anak saya. Yang bisa saya lakukan hanyalah mempercayakan diri kepada Tuhan," kata Cire Diallo, warga setempat.

Menteri Administrasi Wilayah dan Desentralisasi Dienabou Touré menyatakan bahwa pemerintah berencana memindahkan pembuangan sampah ke luar Conakry dan merelokasi warga yang tersisa. "Kami akan memastikan keluarga-keluarga yang tersisa direlokasi ke tempat lain," ujar Djenab Toure, Menteri Administrasi Wilayah Guinea.

Meskipun Guinea memiliki cadangan bauksit terbesar di dunia serta deposit bijih besi yang melimpah di Simandou, negara ini masih menghadapi tantangan berat berupa kemiskinan luas dan buruknya infrastruktur perkotaan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed