Minuman Manis Berisiko Naikkan Risiko Kanker Lambung Dua Kali Lipat
Konsumsi minuman manis saban hari ternyata menyimpan bahaya tersendiri bagi saluran pencernaan. Penyakit kanker lambung kini menjadi salah satu pemicu utama kematian akibat kanker di tingkat global, meskipun frekuensi pembahasannya tak sebanyak kanker paru atau payudara.
Di Indonesia sendiri, tren penyakit kanker terus menunjukkan lonjakan. Data Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) dari laporan GLOBOCAN mencatat lebih dari 408.000 kasus baru kanker di tanah air dengan angka kematian mendekati 243.000 jiwa per tahun, seperti dilansir dari Detik Health.
Kemenkes turut menyoroti pergeseran gaya hidup modern sebagai pemicu utama. Konsumsi minuman manis dan makanan olahan secara berlebihan memperbesar ancaman penyakit ini, bahkan pada kelompok usia muda.
Faktor pembawa risiko kanker lambung sebenarnya telah lama diidentifikasi oleh para medis. Beberapa pemicunya meliputi infeksi bakteri Helicobacter pylori, kebiasaan merokok, kecanduan alkohol, faktor usia, serta jenis kelamin pria.
Asupan harian pun memegang peranan sangat krusial. Konsumsi makanan tinggi garam seperti ikan asin dan daging bakar yang hangus terbukti menaikkan risiko, sedangkan buah dan sayuran bertindak sebagai pelindung tubuh.
Fokus para peneliti kini bergeser ke dampak Sugar-Sweetened Beverages (SSB) atau minuman berpemanis gula. Jenis ini mencakup soda reguler, jus kemasan bernutrisi rendah, hingga minuman berenergi.
Temuan terbaru dalam jurnal Gastro Hep Advances mengungkap korelasi tersebut secara mendalam. Riset ini memanfaatkan data dari Nurses' Health Study dan Health Professionals Follow-up Study yang memantau lebih dari 112.000 partisipan selama beberapa dekade.
Para partisipan mengisi kuesioner frekuensi asupan makanan serta riwayat kesehatan berkala setiap empat tahun sekali. Peneliti membagi kategori menjadi minuman berpemanis gula (SSB) dan minuman dengan pemanis buatan atau Artificially Sweetened Beverages (ASB).
Selama periode pemantauan, tercatat ada 278 kasus kanker lambung. Partisipan yang meminum minimal satu porsi minuman manis per hari (sekitar 240 ml) memiliki risiko terkena kanker lambung 2,45 kali lipat lebih tinggi dibanding mereka yang jarang mengonsumsinya.
Kenaikan risiko ini melonjak lebih dari 100 persen. Jika dirinci berdasarkan gender, peningkatan risiko pada kelompok wanita mencapai hampir tiga kali lipat, sementara pada pria meningkat mendekati dua kali lipat.
Dampak Kandungan Fruktosa dan Pemanis Buatan
Lonjakan risiko akibat minuman manis ini terbukti bekerja melalui jalur independen. Para ahli menemukan bahwa kenaikan angka risiko tidak dipengaruhi oleh ada atau tidaknya infeksi bakteri H. pylori pada pasien.
Kandungan fruktosa yang menjadi jenis pemanis utama pada produk kemasan menunjukkan korelasi positif terhadap kejadian kanker lambung. Zat ini disinyalir menjadi salah satu pemicu utamanya.
Bagi penggemar teh tanpa gula, ada kabar baik dari riset ini. Peneliti tidak menemukan adanya hubungan antara konsumsi minuman berpemanis buatan (ASB) dengan peningkatan risiko kanker lambung.
Walau demikian, para ilmuwan memberikan catatan bahwa studi ini bersifat observasional. Hasil pengamatan baru memetakan hubungan asosiasi atau korelasi, belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.
Jumlah kasus kanker lambung yang diteliti juga terhitung terbatas sebanyak 278 kasus, sehingga masih memerlukan riset lanjutan. Dikutip dari Eating Well, pembatasan asupan gula harian tetap menjadi langkah pencegahan yang sangat krusial.
Pengurangan konsumsi minuman manis menjadi investasi kesehatan yang realistis, terutama saat penyakit tidak menular di Indonesia kian mengincar usia produktif.
"Jika Anda terbiasa minum minuman manis setiap hari, tidak perlu drastis merombak semuanya seketika. Mengganti satu porsi soda harian dengan air putih atau teh tanpa gula adalah langkah awal yang sangat masuk akal untuk menekan risiko," tulis laporan tersebut.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow