Masyarakat Peringati Hari Perawat Internasional dan Tragedi Trisakti
Masyarakat memperingati Hari Perawat Internasional sekaligus Hari Tragedi Trisakti pada setiap tanggal 12 Mei guna merawat rekam jejak sejarah kemanusiaan dan perjuangan demokrasi di Indonesia. Peringatan ganda ini mengintegrasikan momentum apresiasi kesehatan global dengan refleksi penegakan hak asasi manusia domestik.
Apresiasi terhadap kontribusi tenaga keperawatan global merujuk pada hari kelahiran pelopor keperawatan modern, Florence Nightingale, berdasarkan data organisasi kesehatan dunia WHO yang dilansir kabarnusantara.id. Sementara itu, momentum lokal Tragedi Trisakti menjadi ruang untuk mengenang gugurnya empat mahasiswa akibat tembakan aparat keamanan saat demonstrasi reformasi 12 Mei 1998.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat peristiwa kelam tersebut sebagai pemantik reformasi yang memicu gelombang protes masif hingga mendesak pengunduran diri Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998. Insiden penembakan mahasiswa Universitas Trisakti itu kemudian mengawali mata rantai kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa pada 13 sampai 15 Mei 1998, terutama di wilayah Jakarta, akibat krisis moneter di Asia.
Pesan khusus terkait pemaknaan sejarah 28 tahun silam tersebut disampaikan oleh analis ekonomi senior sekaligus pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI), Christianto Wibisono, kepada generasi milenial dan Gen Z.
"Memang anak muda kadang-kadang masih terbentur, tapi hal itu tidak apa-apa mengenai jatuh bangun tersebut," ujar Christianto Wibisono dalam wawancara bersama IDN Times.
Saksi sejarah Mei 1998 yang pernah menetap di Amerika Serikat pada 1998 hingga 2006 ini menilai dinamika jatuh bangun merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan anak muda.
"Asal semangat idealisme untuk membangun Indonesia ke depannya," ucap Christianto Wibisono.
Mantan jurnalis tersebut juga meminta generasi muda agar selalu menjaga sikap optimis terhadap prospek ekonomi domestik.
"Ramalan yang dimaksud di sini mengenai ramalan ekonomi yang memang menunjukkan hal yang positif. Kita harus percaya dengan hal itu, bahwa akan mengalami pertumbuhan. Kalau tidak ada demo-demo, mungkin pertumbuhannya bisa mencapai 7 persen," ujar Christianto Wibisono.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow