Profesor Jason Arday Mengundurkan Diri di Tengah Dugaan Plagiarisme di Cambridge
Profesor Jason Arday mengundurkan diri dari jabatannya di Universitas Cambridge setelah penyelidikan terkait dugaan plagiarisme dan kualifikasi akademiknya muncul. Pengunduran diri ini diumumkan pada 5 Agustus 2026 dan berlaku segera, menyusul laporan adanya informasi baru yang memicu penyelidikan internal universitas. Arday dikenal sebagai profesor kulit hitam termuda yang diangkat di Cambridge pada 2023 dan sempat menerima berbagai tuduhan plagiarisme dalam tesis doktoral dan karya penelitiannya.
Dalam surat pengunduran diri yang dipublikasikan melalui Good Law Project, Arday menyatakan bahwa tekanan akibat tuduhan dan sorotan publik telah berdampak besar bagi dirinya dan keluarganya.
"Meskipun kritik merupakan bagian tak terelakkan dari kehidupan akademis, apa yang saya alami telah jauh melampaui sekadar perbedaan pendapat ilmiah," ujar Arday menurut The Independent. Arday menegaskan bahwa pengunduran dirinya bukanlah pengakuan atas tuduhan yang beredar, melainkan langkah untuk mengakhiri polemik dan menjaga kesejahteraan pribadi serta keluarganya.
"Tuduhan, spekulasi, dan komentar publik yang tiada henti telah memberikan dampak yang sangat berat bagi saya dan orang-orang yang saya cintai," tambahnya. Arday juga mengisahkan perjalanan hidupnya sebagai anak dengan autisme yang baru bisa berbicara pada usia 11 tahun, serta pencapaiannya sebagai profesor yang hampir tidak pernah ia bayangkan saat kecil.
"Respons dari begitu banyak orang di seluruh dunia sungguh luar biasa," kata Arday, menambahkan bahwa pengangkatannya menjadi simbol bahwa bakat dan harapan dapat mengalahkan berbagai kesulitan. Dalam wawancara dengan The Times, Arday membantah tuduhan plagiarisme dan menyebut perlakuan yang diterimanya tidak dapat diterima. "Kita berbicara tentang dunia akademis di sini, saya tidak membunuh orang," ujar Arday.
Universitas Cambridge menyatakan penyelidikan dibuka setelah menerima informasi baru terkait kualifikasi akademik dan gelar kehormatan Arday, dan tidak akan memberikan komentar lebih lanjut selama proses berlangsung.
Jesus College, tempat Arday menjadi fellow, juga membuka pemeriksaan terpisah dan menyatakan akan memberikan dukungan selama proses berjalan. Sejumlah tuduhan dilontarkan oleh Nathan Cofnas, mantan peneliti Cambridge, yang menemukan kemiripan dalam karya Arday dengan sumber lain menggunakan perangkat pemindai plagiarisme. Selain tuduhan plagiarisme, klaim pribadi Arday seperti lari maraton dan penggalangan dana amal juga dipertanyakan, dan beberapa universitas membantah pernah memberikan jabatan yang diklaim Arday.
Arday mengakui ada kesalahan dalam karya akademiknya namun membantah sebagai pembohong atau pelaku kecurangan, serta menduga adanya motif rasial di balik serangan tersebut.
Polemik ini memicu perdebatan luas mengenai integritas akademik, proses pemeriksaan yang adil, dan unsur rasial dalam kasus Arday, dengan ribuan pendukung yang menandatangani petisi untuk mendukungnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow