Remaja Bogor Tewas Terkena Gigitan Ular Weling Saat Buat Konten

Smallest Font
Largest Font

Seorang remaja berinisial UZS (18) meninggal dunia dan rekannya H (21) dalam kondisi kritis setelah terkena gigitan ular berbisa di Desa Pasir Jaya, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, pada Selasa (12/5/2026) sekitar pukul 23.00 WIB.

Insiden maut tersebut terjadi saat kedua korban sedang berkumpul di area persawahan dan mencoba berinteraksi dengan ular bercorak hitam-putih yang belakangan diketahui sebagai jenis weling. Kejadian ini sempat terekam kamera ponsel dan videonya menjadi viral di media sosial setelah diunggah sejumlah akun informasi lokal.

Pakar Herpetologi IPB University, Prof Mirza Dikari Kusrini, mengidentifikasi satwa tersebut sebagai ular berbisa tinggi yang memiliki racun jenis neurotoksin. Racun ini diketahui menyerang sistem saraf dan memiliki potensi fatal bagi manusia karena dapat melumpuhkan otot pernapasan secara cepat.

"Meski gejala awal bisa ringan atau tertunda, efeknya bisa fatal jika tidak segera ditangani," kutip Mirza Dikari Kusrini melalui laman resmi ipb.ac.id.

Pakar tersebut juga memberikan penegasan mengenai durasi krusial bagi keselamatan korban yang terpapar bisa ular tersebut. Faktor usia dan lokasi gigitan sangat menentukan tingkat bahaya bagi korban yang tidak segera mendapatkan anti-bisa.

"Kadang ular berbisa menghasilkan gigitan kering (dry bite), artinya menggigit tanpa mengeluarkan bisa. Tapi jika benar-benar tergigit dan tidak mendapat penanganan medis, korban bisa mengalami gagal napas dalam waktu 4–24 jam," jelas Mirza Dikari Kusrini.

Lurah Pasir Jaya, Rizki Dwi Nugraha, mengungkapkan kronologi singkat di mana kedua korban sempat membawa ular tersebut dan memainkannya sebelum dipatuk secara agresif. Setelah kejadian, kedua pemuda itu sempat kembali ke kediaman masing-masing sebelum gejala keracunan mulai muncul.

"Nah dia itu tidak sengaja melihat ular. Si ular ini langsung macok (matuk) agresif," kata Rizki Dwi Nugraha mengutip laporan TribunnewsBogor.com.

Pihak kelurahan menyebutkan bahwa efek bisa ular baru terlihat jelas pada waktu subuh saat kondisi fisik korban mulai menurun drastis. Keduanya dilaporkan mengalami dehidrasi berat dan kulit yang berubah pucat sebelum dilarikan ke rumah sakit.

"Sempet pulang. Lalu ada gejala seperti dehidrasi baru dibawa ke rumah sakit. Sudah pucat, mungkin racunnya baru masuk subuh infonya," lanjut Rizki Dwi Nugraha.

Keterangan lebih lanjut datang dari pihak keluarga UZS yang baru menyadari kondisi darurat tersebut saat hendak membangunkan korban di pagi hari. Ibu korban, Aye (47), mengaku awalnya tidak mengetahui sang anak telah dipatuk ular saat sedang keluar malam sebelumnya.

"Tapi, kok gak bangun-bangun. Matanya juga gak melek-melek terus kaya sesak nafas gitu," ucap Aye.

Informasi mengenai gigitan ular tersebut baru diketahui pihak keluarga dari laporan para tetangga sekitar. Meskipun sempat diupayakan pertolongan medis ke rumah sakit, nyawa UZS tidak dapat tertolong dan dinyatakan meninggal dunia oleh tim dokter.

"Waktu dibawa keluar dari RS UMMI taunya itu kata dokter udah gak ada." ucap Aye saat menceritakan peristiwa tersebut.

Pihak medis kemudian memberikan penjelasan resmi kepada keluarga saat proses pengurusan berkas administrasi rumah sakit dilakukan. Keluarga menyatakan telah menerima musibah tersebut dengan lapang dada.

"Waktu saya isi berkas kan dokter bilang ke saya. Katanya ini mah udah gak ada (meninggal). Saya pasrah aja," pungkas Aye.

Jenazah UZS saat ini telah dimakamkan oleh pihak keluarga di wilayah Desa Ciapus, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, sementara rekannya masih dalam pemantauan medis intensif.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed