Rupiah Melemah ke Rp17.879 per Dolar AS Akibat Tensi Geopolitik

Smallest Font
Largest Font

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tertekan hingga berada di level Rp17.879 per dolar AS pada perdagangan Selasa pagi (2/6/2026) setelah libur panjang akhir pekan. Pelemahannya mencapai 74 poin atau 0,42 persen dibandingkan penutupan sebelumnya akibat peningkatan tensi geopolitik di Timur Tengah dan penguatan data manufaktur Amerika Serikat.

Berdasarkan data Refinitiv yang dikutip CNBC Indonesia, mata uang Garuda sebenarnya sempat dibuka menguat tipis 0,08 persen ke level Rp17.850 per dolar AS pada pembukaan perdagangan perdagangan perdana Juni. Namun, dataAntara mencatat rupiah kemudian bergerak melemah 54,50 poin atau 0,31 persen menjadi Rp17.859 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.805 per dolar AS.

Kondisi pasar global yang tidak menentu ini memicu respons dari para analis keuangan mengenai pergerakan mata uang. Pihak analis memproyeksikan pergerakan nilai tukar hari ini akan sangat bergantung pada respons pasar terhadap konflik internasional.

"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yang menguat merespons pernyataan Iran yang menghentikan perundingan damai dengan Amerika Serikat dan berencana menutup penuh Selat Hormuz. Penguatan dolar AS juga didukung data manufaktur AS yang lebih kuat dari perkiraan," ujar Lukman Leong, Analis mata uang DOO Financial Futures kepada CNNIndonesia.com.

Penutupan jalur pelayaran energi krusial tersebut diprediksi mengganggu distribusi minyak global dan memicu lonjakan permintaan aset aman. Lukman menambahkan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah hari ini diperkirakan akan berfluktuasi dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS.

"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yang menguat merespons pernyataan Iran yang menghentikan perundingan damai dengan AS dan berencana untuk sepenuhnya menutup Hormuz," ujar Lukman Leong kepada ANTARA.

Faktor eksternal ini diperparah oleh data ekonomi domestik yang dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan berat. Situasi di dalam negeri turut membatasi ruang bagi mata uang Garuda untuk menguat lebih jauh terhadap greenback.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dengan kisaran di Rp17.800 - Rp17.950 dipengaruhi oleh risiko geopolitik global adanya ketidakpastian kesepakatan penyelesaian konflik AS dan Iran yg berakibat index dolar naik mendekati 100 dan menaikkan ekspektasi kenaikan harga minyak,” jelas Rully Nova, Analis Bank Woori Saudara kepada ANTARA.

Menurut Rully, pelaku pasar domestik saat ini juga tengah mencermati kondisi fiskal pemerintah serta ketidakpastian arah kebijakan ke depan. Tren inflasi yang diperkirakan masih berlanjut menjadi salah satu faktor yang menekan sentimen pasar di dalam negeri.

Tekanan terhadap mata uang nasional ini juga berimbas pada lonjakan harga barang baku impor yang berpotensi menaikkan laju inflasi. Kondisi ini memaksa Bank Indonesia untuk mengambil kebijakan pengetatan moneter yang berdampak pada sektor riil.

"Misalnya produk elektronik, kemudian beberapa produk pangan seperti katakanlah kedelai dan sebagainya, itu kan pasti ikutan naik. Elektronik akan naik karena sebagian komponennya itu impor. Pokoknya produk-produk impor itu akan naik dan itu akan menyebabkan import inflation," jelas Tauhid Ahmad, Ekonom Senior INDEF kepada detikcom.

Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia hingga berada di angka 5,25 persen berpotensi membebani pengeluaran masyarakat. Tauhid mengingatkan agar kelompok masyarakat kelas menengah segera mengatur ulang strategi keuangan mereka guna menghadapi lonjakan biaya hidup.

"Otomatis suku bunga di kita akan semakin tinggi, mulai merangkak naik terutama untuk suku bunga pinjaman. Misalnya untuk KPR semakin mahal, untuk kredit konsumtif semakin naik, termasuk juga untuk kredit investasi juga akan semakin mahal. Saya kira konsekuensinya seperti itu," terangnya.

Selain menyarankan pengetatan anggaran belanja untuk barang konsumtif, ia meminta masyarakat menghindari pinjaman jangka panjang yang menerapkan sistem bunga tidak tetap. Penyesuaian skema cicilan menjadi penting agar pengeluaran tetap dapat dikendalikan.

"Kalau mereka punya cicilan ya cari cicilan-cicilan yang katakanlah bunganya tuh fix gitu ya yang mereka bisa jangkau, jangan yang floating. Kalau ada floating ya berarti kenaikan tingkat suku bunga, dia ikut kena. Kalau dia harus cicil misalnya kendaraan, untuk rumah dan sebagainya, cari yang fix. Cari yang manageable bagi mereka gitu," paparnya.

Masyarakat kelas menengah juga diimbau tidak hanya berfokus pada pemangkasan pengeluaran harian. Penambahan sumber pendapatan baru dinilai menjadi solusi krusial agar daya beli tidak tergerus oleh inflasi.

"Sekarang kelas menengah sudah mulai mencari income tambahan apapun bentuknya. Karena kalau hanya mengendalikan konsumsi tapi pendapatan tidak ada upaya tambahan maka juga bisa kalah," kata Tauhid Ahmad.

Kondisi tekanan ekonomi ini menuntut sikap waspada dari masyarakat dalam mengelola aset dan konsumsi. Pembatasan pembelian barang non-primer yang berasal dari luar negeri menjadi prioritas utama saat ini.

"Kelas menengah harus menyiapkan payung sebelum hujan. Beli yang perlu-perlu saja untuk kebutuhan harian. Jangan tergoda promosi, apalagi barang-barang impor," tutur Bhima Yudhistira, Founder dan Direktur Eksekutif CELIOS kepada detikcom.

Di tengah tekanan ini, Bank Indonesia terus melakukan kalibrasi instrumen di pasar valuta asing, termasuk memperketat batas transaksi pembelian dolar AS tanpa dokumen underlying menjadi US$25.000 per pelaku per bulan mulai awal Juni 2026. Selain itu, optimalisasi skema Local Currency Transaction (LCT) terus didorong, di mana volume transaksinya telah mencapai US$22,61 miliar hingga April 2026.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed