Senator AS Lindsey Graham Meninggal Dunia Akibat Sakit Mendadak
Senator senior Partai Republik dari South Carolina, Lindsey Graham, meninggal dunia pada usia 71 tahun di Washington, Amerika Serikat, setelah menderita penyakit singkat dan mendadak pada Sabtu, 11 Juli 2026 malam waktu setempat. Pihak kantor resmi Lindsey Graham mengonfirmasi kabar duka ini melalui sebuah pernyataan tertulis yang diunggah pada hari Minggu. "Senator Graham’s family appreciates prayers at this time and asks for privacy during this incredibly difficult period," kata pihak kantor Lindsey Graham, perwakilan South Carolina.
Petugas darurat sempat merespons panggilan terkait kondisi gagal jantung di kediaman Graham yang berada di Capitol Hill pada Sabtu malam berdasarkan rekaman audio pemindai polisi yang diperoleh NBC News.
Foto-foto yang ditinjau oleh NBC News memperlihatkan petugas paramedis mengangkut seseorang menggunakan tandu dari dalam rumah Graham menuju ambulans yang sudah menunggu dengan pengawalan mobil polisi serta truk pemadam kebakaran. Sebelum meninggal dunia, politisi berpengaruh dalam bidang pertahanan dan kebijakan luar negeri ini baru saja kembali dari kunjungan kerja ke Kyiv dan bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada hari Jumat.
Komitmen Graham terhadap bantuan internasional untuk Ukraina sempat ia tegaskan dalam sebuah wawancara media beberapa tahun sebelumnya. "Putin will not stop in Ukraine," tutur Lindsey Graham, Senator AS.
Ia juga menilai bahwa posisi Amerika Serikat di wilayah lain akan ikut terpengaruh oleh situasi konflik yang sedang berlangsung tersebut. "To be weak in Ukraine means that you lose in Taiwan," ucap Lindsey Graham, Senator AS. Selain aktif dalam urusan luar negeri, Graham yang menjabat sebagai Ketua Komite Anggaran Senat juga kerap memicu perhatian publik internasional lewat berbagai pandangan politiknya yang kontroversial.
Melalui akun media sosial X pada Februari tahun ini, Graham menyoroti kebijakan tarif yang diterapkan oleh Donald Trump terhadap Delhi sebagai contoh langkah diplomasi yang efektif.
"Clearly, the pressure we're applying to (Russian President Vladimir) Putin to come to the peace table and stop massive attacks against Ukraine is not working. President Trump's idea of going after Putin's oil customers who prop up his war machine should be pursued with vigour by the US and Europe,” tulis Lindsey Graham, Senator AS. Pada awal tahun yang sama, Graham bahkan sempat menyuarakan seruan agresif kepada Trump dalam sebuah wawancara di program Fox News yang ditujukan kepada pemimpin Iran kala itu.
"If I were you, Mr. President, I would kill the leadership that are killing the people. You’ve got to end this," cetus Lindsey Graham, Senator AS.
Sentimen blak-blakan juga sempat ia tunjukkan saat merespons kekhawatiran para sekutu Eropa mengenai polemik wilayah Greenland dalam gelaran Munich Security Conference di Jerman.
"Greenland is behind us, but the goal is to get outcomes. Who gives a s*** who owns Greenland? I don’t," pungkas Lindsey Graham, Senator AS. Kepergian Graham terjadi di tengah situasi ketika rekan sesama partai, Senator Mitch McConnell, masih menjalani perawatan di rumah sakit setelah sempat dilarikan akibat serangan jantung pada bulan lalu.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow