Suporter Skotlandia Padati Providence Jelang Laga Piala Dunia 2026

Smallest Font
Largest Font

Ribuan suporter tim nasional sepak bola Skotlandia, yang dikenal sebagai Tartan Army, memadati kota Providence, Rhode Island, Amerika Serikat menjelang pertandingan pembuka Grup C Piala Dunia 2026 melawan Haiti pada Sabtu (13/6/2026). Langkah ini diambil akibat lonjakan tarif hotel dan akomodasi Airbnb di Boston yang menjadi lokasi utama dua dari tiga pertandingan fase grup mereka di Stadion Gillette, Foxborough, Massachusetts. Menurut laporan The Athletic, tarif hotel di sekitar lokasi pertandingan pembuka melonjak rata-rata hingga lebih dari 300 persen, sehingga membuat para pendukung mencari alternatif di kota tetangga.

Paul Goodwin, pendiri Asosiasi Suporter Sepak Bola Skotlandia, mengonfirmasi kekhawatiran finansial yang dihadapi para penggemar akibat tingginya biaya akomodasi di kota-kota tuan rumah.

"There will be a lot of second mortgages and costs being put on credit cards," kata Paul Goodwin, co-founder of the Scottish Football Supporters Association kepada wartawan pada April. Goodwin menambahkan bahwa meskipun situasi ini memicu tawa, ada kekhawatiran nyata mengenai beberapa orang yang memaksakan pengeluaran mereka secara berlebihan.

"You can laugh about it, but there is a worry that some people are actually going to overextend themselves," ujar Paul Goodwin, co-founder of the Scottish Football Supporters Association. Menghadapi kendala tersebut, salah satu suporter bernama Gregor Cowan menginisiasi pembentukan grup WhatsApp bernama "Providence Tartan Army" yang kini beranggotakan sekitar 1.000 orang.

Grup ini mengoordinasikan pemesanan lebih dari 20 bus sekolah sewaan dengan tarif sekitar 50 dolar AS per kursi pulang-pergi demi menekan biaya transportasi resmi yang jauh lebih mahal. "No extortion from the Tartan Army," kata Gregor Cowan, salah satu suporter Skotlandia kepada Boston.com. Cowan menyatakan bahwa kapasitas bus sekolah tersebut mungkin sempit bagi fisik warga Skotlandia, namun persediaan bir yang cukup akan membuat perjalanan tetap menyenangkan.

"Size-wise, I don’t know what they're like inside. Maybe a few Scots struggling to keep their knees out of somebody else. But it’ll be absolutely fine—we’ve plenty of beer. I don’t think we'll even realize that we're on these school buses," tutur Gregor Cowan, salah satu suporter Skotlandia.

Selain masalah logistik, suporter Skotlandia juga meluncurkan Tartan Army App untuk memantau jejak karbon perjalanan mereka yang hasilnya disumbangkan ke badan amal anak-anak. Goodwin menjelaskan kepada stasiun berita Skotlandia STV bahwa perluasan turnamen di tiga negara memicu isu lingkungan serius terkait dampak perjalanan tim dan suporter. "The World Cup has really raised serious issues around the environmental impact caused by the expanded tournament and the essential travel for teams and supporters across three countries," papar Paul Goodwin, co-founder of the Scottish Football Supporters Association.

Asosiasi suporter terus berdialog dengan anggota Tartan Army mengenai langkah nyata yang dapat dilakukan oleh penggemar biasa untuk meminimalkan dampak buruk tersebut.

"We have been in dialogue with many members of the Tartan Army about what we as ordinary fans can do to negate some of the problems caused by the environmental impact of the tournament," pungkas Paul Goodwin, co-founder of the Scottish Football Supporters Association. Inisiatif pelestarian lingkungan melalui aplikasi sumbangan karbon ini memicu perbandingan dengan aksi suporter Jepang yang terkenal rajin membersihkan sampah di stadion pada Piala Dunia 2022.

Sementara itu, Direktur Pemasaran VisitScotland Jill Walker menilai karakter ramah para suporter dapat membantu mempromosikan citra hangat Skotlandia di panggung internasional. "The Tartan Army epitomize our world-renowned warm Scottish welcome, which can help us break through the noise," kata Jill Walker, director of marketing at VisitScotland kepada Town & Country.

Pihak VisitScotland berharap kehadiran para penggemar dengan atribut kilt dan syal tartan tradisional ini kembali memeriahkan turnamen serta meninggalkan kesan positif yang mendalam. "We hope they will once again light up the international stage and leave a lasting impression," ungkap Jill Walker, director of marketing at VisitScotland. Meski analisis olahraga menilai peluang Skotlandia cukup berat karena berada satu grup dengan Brasil dan Maroko, antusiasme pendukung tetap tinggi setelah penantian selama 28 tahun.

Jason Waddleton, pemilik The Haven yang merupakan satu-satunya restoran Skotlandia di Boston, menegaskan bahwa atmosfer perayaan akan tetap meriah.

"There is a term, ‘No Scotland, no party,’" ujar Jason Waddleton, owner of The Haven kepada NBC 10 Boston. Waddleton memastikan bahwa area sekitar pertandingan akan dipenuhi oleh pakaian kilt tradisional, wajah-wajah tersenyum, dan interaksi hangat antar suporter. "We’re gonna have kilts, smiling faces and a lot of great people," ucap Jason Waddleton, owner of The Haven.

Setelah menghadapi Haiti pada pertandingan pertama di Foxborough, tim nasional Skotlandia dijadwalkan terbang ke Miami untuk melawan Brasil di Stadion Hard Rock pada 24 Juni.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed