Donald Trump Tuai Kecaman Internal Terkait Kesepakatan Damai Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendapat kecaman keras dari internal partainya sendiri setelah menandatangani nota kesepahaman (MoU) damai secara jarak jauh dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu (17/6/2026). Dilansir dari AFP melalui detikcom pada Sabtu (20/6/2026), kesepakatan tersebut dirancang untuk mengakhiri permusuhan secara permanen di seluruh front, memulai gencatan senjata 60 hari, serta memulihkan lalu lintas komersial di Selat Hormuz demi menstabilkan pasar energi dunia. Langkah penandatanganan kesepakatan di Prancis tersebut memicu kemarahan dari sejumlah senator Partai Republik karena dinilai memberikan pelonggaran sanksi dan akses pasar minyak kepada Iran tanpa jaminan komitmen tegas terkait pengayaan uranium dan rudal balistik.
Trump memberikan pembelaan bahwa keputusan ini diambil untuk menjaga pasokan minyak global dan mencegah krisis ekonomi yang meluas.
"Satu-satunya cara saya bisa bersikap lebih keras adalah jika saya masuk ke sana selama dua atau tiga minggu lagi dan terus membombardir mereka habis-habisan. Benar? Tetapi apa yang akan kita dapatkan?
Selat Hormuz tidak akan dibuka. Kita tidak akan memiliki minyak selama berbulan-bulan, Ini adalah jenis hal yang dapat menyebabkan depresi di seluruh dunia," sebut Trump. Senator Republik Bill Cassidy merespons keras kebijakan tersebut melalui media sosial X dan menyebutnya sebagai kegagalan besar dalam politik luar negeri.
"Sebelum perang, selat itu terbuka, Iran dihancurkan oleh sanksi-sanksi dan 13 anggota militer masih hidup," tulis Cassidy. Ia menambahkan bahwa saat ini belasan warga Amerika Serikat telah gugur, masyarakat membayar biaya bahan bakar yang tinggi, sanksi dicabut, sedangkan aksi pengeboman justru dihentikan.
Kritik serupa disampaikan oleh Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat Roger Wicker yang menilai pencairan dana rekonstruksi senilai US$ 300 miliar bagi Iran sangat bertolak belakang dengan target awal Trump. "Secara khusus, dana US$300 miliar untuk rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran -- meskipun tidak didanai oleh pembayar pajak AS -- akan membuat pembayaran Iran berdasarkan kesepakatan Presiden Obama tahun 2015 terlihat seperti jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan," kata Wicker dalam sebuah pernyataan resmi. Senator Texas John Cornyn turut menyatakan kekhawatirannya kepada awak media bahwa kesepakatan ini hanya akan menjadi masa jeda bagi Iran untuk membangun kembali kekuatan militernya.
Penolakan juga datang secara kompak dari kubu Partai Demokrat yang menganggap Trump hanya mengembalikan situasi ke status quo sebelum perang namun memberikan posisi tawar baru bagi Teheran.
"Semua orang yang membeli bukunya Trump 'The Art of the Deal' seharusnya meminta pengembalian dana karena apa yang telah dilakukan Trump di Iran adalah 'The Art of the Disaster'," cetus Chuck Schumer, Pemimpin Partai Demokrat di Senat, saat berpidato dalam sidang pleno. Hingga saat ini, pihak Gedung Putih menegaskan bahwa kesepakatan tersebut belum bersifat final dan Amerika Serikat siap melanjutkan serangan militer jika proses negosiasi selama masa gencatan senjata mengalami kegagalan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow