Zidane Iqbal Siap Cetak Sejarah Pakistan di Piala Dunia 2026
Gelandang tim nasional Irak Zidane Iqbal bersiap mengukir sejarah baru sebagai pemain keturunan Pakistan pertama yang merumput di Piala Dunia pria saat menghadapi Norwegia pada laga pembuka grup, Rabu (17/6/2026).
Pemain klub FC Utrecht berusia 23 tahun tersebut lahir dan besar di Manchester dengan ayah seorang warga Pakistan dan ibu berasal dari Irak. Mantan penggawa akademi Manchester United ini membawa identitas gandanya ke lapangan hijau dengan memasang simbol kedua negara di sepatunya.
Iqbal mengaku sempat terkejut saat pertama kali mengetahui bahwa dirinya mencatatkan tonggak sejarah baru bagi komunitas sepak bola Asia Selatan melalui unggahan di media sosial.
"To be honest, I didn't even know it myself," kata Zidane Iqbal kepada BBC Sport.
Informasi tersebut langsung ia teruskan kepada sang ayah yang diakuinya sebagai figur paling dihormati dan memiliki peran paling besar dalam mendukung perjalanan karier sepak bola profesionalnya.
"I followed the account that posted it [that he was the first player of Pakistani heritage to play at a men's World Cup] and sent it to my dad straight away. I think we were both surprised. When I tried to qualify for the World Cup with Iraq, I didn't think of anything like this," ujar Zidane Iqbal menambahkan.
Pemain yang pernah menjadi orang Asia Selatan Inggris pertama dalam dua dekade yang tampil di Liga Champions bersama Manchester United ini menyatakan rasa hormat mendalam bagi garis keturunan ayahnya.
"My dad is Pakistani. He's my father, the man I respect the most in my life, who helped me so much in my career," tutur Zidane Iqbal.
Terkait keputusan mengenakan simbol kedua negara di sepatunya, Iqbal menjelaskan hal itu dilakukan demi menunjukkan rasa hormat yang setara kepada latar belakang keluarganya.
"I play for Iraq, grew up in England, but my dad was born in Pakistan. My grandad was a first-generation there, so I have a lot of respect for that side of my family," ucap Zidane Iqbal.
Gelandang yang sempat mengalami cedera lutut dan situasi sulit di bawah pelatih Ron Jans di Utrecht musim ini mengaku tidak bisa memilih salah satu negara ketika orang-orang bertanya tentang keterikatan emosionalnya.
"I wear the Iraqi flag on my left side and the Pakistani flag on my right side," kata Zidane Iqbal.
Baginya, identitas dari kedua belah pihak orang tuanya memiliki kedudukan yang sama penting dan dibawa dengan penuh kebanggaan.
"I think that's because I respect both sides," tutur Zidane Iqbal.
Iqbal menyampaikan harapan agar pencapaian historis ini mampu memotivasi anak-anak muda dari berbagai latar belakang, termasuk komunitas Asia Selatan dan Arab, untuk berani mengejar mimpi di dunia sepak bola.
"When people ask me what I feel more connected to, I can't answer. For me, they're both equal. It's about respect and something I carry with a lot of pride," ungkap Zidane Iqbal.
Ia juga mengingatkan bahwa jalur menjadi pesepak bola profesional tidaklah mudah dan menuntut kerja keras serta konsistensi yang sangat tinggi.
"I'm still young, but I'll be the first Pakistani player to play in the World Cup, so hopefully a few kids that aspire to be a footballer will look at that and believe they can do it too, because football is a hard journey," kata Zidane Iqbal.
Iqbal meyakini anak-anak dari latar belakang agama apa pun bisa menembus level tertinggi asalkan memiliki komitmen kuat.
"I think if you ask any professional, it's not easy at all and everyone has their ups and downs," ucap Zidane Iqbal.
Pemain yang menyebut asisten pelatih René Meulensteen berhasil membuat perbedaan dalam kualifikasi Irak berkat pengalamannya dari Australia ini berharap kelolosan ke Piala Dunia menjadi hal biasa.
"A lot of commitment and hard work is needed. So hopefully when kids see people trying to be a professional footballer, or me, they see those of South Asian heritage or even of any heritage, that you can make it from any background, any area, wherever you're from, any religion. Hopefully they see that, and it inspires them," jelas Zidane Iqbal.
Iqbal mengungkapkan kepada The Athletic bahwa ia ingin memberikan dampak yang lebih menyentuh hati bagi generasi baru yang menonton turnamen akbar ini.
"Pemain-pemain baru akan mengagumi kami karena kami telah melakukannya, dan begitulah cara meneruskannya dari generasi ke generasi. Semoga lolos ke Piala Dunia menjadi hal yang biasa di Irak."
Ia juga mengenang masa kecilnya sendiri yang tidak memiliki sosok panutan dengan latar belakang serupa.
"Banyak anak-anak—orang Irak, Asia, Arab—menonton Piala Dunia dan berpikir: bisakah saya melakukannya juga? Saya harap mereka melihat saya dan menyadari: itu bisa. Itu benar-benar mungkin."
Iqbal menambahkan bahwa melihat seseorang dengan kesamaan identitas budaya dan keseharian akan membuat aspirasi tersebut terasa lebih dekat.
"Saat saya tumbuh besar, saya tidak punya siapa pun yang benar-benar bisa saya jadikan panutan," lanjutnya.
Di sisi lain, status underdog Irak yang tergabung dalam Grup I bersama Prancis, Norwegia, dan Senegal dinilai Iqbal memberikan keuntungan tersendiri.
"Jika Anda melihat seseorang yang mirip dengan Anda, memiliki potongan rambut yang sama, berpakaian seperti Anda, berbicara bahasa yang sama, dan kemungkinan kemungkinan besar makan makanan yang sama di rumah, hal itu tentu lebih menyentuh hati. Anda bisa lebih mudah mengidentifikasikan diri dengan orang tersebut."
Iqbal menegaskan skuadnya akan tampil lepas tanpa beban di turnamen ini, bahkan saat menghadapi tim bertabur bintang seperti Prancis.
"Prancis punya segalanya untuk dipertaruhkan. Kami masuk tanpa tekanan. Mereka yang harus mengalahkan kami."
Ia menyimpulkan pandangannya mengenai peluang mengejutkan dunia dalam persaingan ketat di fase grup tersebut.
"Kami pergi ke sana tanpa tekanan. Jika kami kalah, orang memang mengharapkan itu. Tapi jika kami menang, kami akan mengejutkan dunia," pungkas Iqbal.
Dampak psikologis dari perjalanan karier Iqbal turut dirasakan oleh komunitas sepak bola di Pakistan, negara berpenduduk 240 juta jiwa yang berada di peringkat 198 FIFA.
Ahmed Shahzad, pengelola platform Pakistani Talents, memaparkan kepada BBC Sport bahwa seluruh pencinta sepak bola di Pakistan mengenal sosok Zidane Iqbal dan memberikan dukungan penuh kepada timnas Irak.
"Every Pakistani football fan knows about Zidane Iqbal," kata Ahmed Shahzad kepada BBC Sport.
Menurutnya, representasi pemain berdarah Pakistan di panggung tertinggi dunia seperti Piala Dunia sangat minim sepanjang sejarah olahraga negara tersebut.
"Historically, there's been very little Pakistani representation at the top level of football, especially on the global stage like the World Cup - the highest global stage," urai Ahmed Shahzad.
Kehadiran Iqbal dinilai membuat impian berkarier di sepak bola internasional menjadi lebih realistis bagi diaspora maupun warga lokal Pakistan.
"And that is a big inspiration for a lot of young Pakistanis, even locally and in the diaspora - the British Pakistanis - and seeing someone openly embrace their identity, as Zidane Iqbal does about competing at the highest level, makes football feel a lot more believable for us of Pakistani backgrounds who play football and want to make it in football," tambah Ahmed Shahzad.
Fenomena ini membuat publik Pakistan merasa memiliki tim nasional yang bisa mereka jagokan di turnamen akbar ini.
"I see a lot of people saying that Pakistan now has a nation to support at the World Cup, and they won't be just backing Zidane Iqbal, they will be backing Iraq to go as far as they can in that tournament," kata Ahmed Shahzad.
Inspirasi ini juga menjangkau langsung para pemain lokal di tingkat klub Pakistan.
Faheem, seorang pemain tingkat klub dari wilayah lembah pegunungan Hunza, mengungkapkan kepada Muslim Network TV bahwa perjalanan karier gelandang Irak tersebut memberikan dampak psikologis yang besar.
"Zidane’s story has been really inspiring for us all," kata Faheem.
Keberhasilan seorang pemain berdarah Pakistan menembus turnamen paling bergengsi di dunia dirasa telah memperluas batas batasan ambisi mereka.
"We feel that we too might make it some day," tambah Faheem.
Kini, penantian panjang Irak selama 40 tahun sejak penampilan terakhir mereka di Meksiko 1986 akan diuji dalam persaingan Grup I melawan kekuatan tim-tim tangguh dunia.
| Lawan Irak di Grup | Pemain Kunci Lawan |
|---|---|
| Prancis | Kylian Mbappe |
| Norwegia | Erling Haaland, Martin Odegaard |
| Senegal | Sadio Mane (Konteks Skuad) |
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow