Zidane Iqbal Catat Sejarah Keturunan Pakistan di Piala Dunia 2026
Gelandang tim nasional Irak Zidane Iqbal bersiap mengukir sejarah sebagai pemain keturunan Pakistan pertama yang tampil di Piala Dunia pria saat menghadapi Norwegia pada laga pembuka grup di Boston Stadium pada Selasa, 16 Juni 2026. Pemain berusia 23 tahun yang kini membela FC Utrecht tersebut lahir dan dibesarkan di Manchester dengan ayah seorang warga Pakistan dan ibu berasal dari Irak. Meskipun memilih memperkuat tanah kelahiran ibunya sejak debut senior pada 2022, mantan pemain akademi Manchester United ini tetap membawa identitas ganda tersebut dengan memasang bendera Irak di sepatu kiri dan bendera Pakistan di sepatu kanan.
Zidane Iqbal mengaku terkejut saat pertama kali mengetahui bahwa dirinya mencatatkan tonggak sejarah baru bagi komunitas sepak bola Asia Selatan.
"To be honest, I didn't even know it myself," kata Zidane Iqbal kepada BBC Sport. Informasi mengenai rekor sejarah itu ia ketahui melalui unggahan di sebuah akun media sosial, yang kemudian langsung ia teruskan kepada sang ayah.
"I followed the account that posted it [that he was the first player of Pakistani heritage to play at a men's World Cup] and sent it to my dad straight away. I think we were both surprised. When I tried to qualify for the World Cup with Iraq, I didn't think of anything like this," ujar Zidane Iqbal menambahkan. Ia menegaskan bahwa ayahnya adalah figur yang paling dihormati dan memiliki peran paling besar dalam mendukung perjalanan karier sepak bola profesionalnya.
"My dad is Pakistani. He's my father, the man I respect the most in my life, who helped me so much in my career," tutur Zidane Iqbal. Pemain yang pernah menjadi orang Asia Selatan Inggris pertama dalam dua dekade yang tampil di Liga Champions saat membela Manchester United ini menyatakan rasa hormat yang mendalam bagi garis keturunan ayahnya.
"I play for Iraq, grew up in England, but my dad was born in Pakistan. My grandad was a first-generation there, so I have a lot of respect for that side of my family," ucap Zidane Iqbal.
Terkait keputusan mengenakan simbol kedua negara di sepatunya, Zidane Iqbal menjelaskan hal itu dilakukan demi menunjukkan rasa hormat yang setara kepada latar belakang keluarganya.
"I wear the Iraqi flag on my left side and the Pakistani flag on my right side," kata Zidane Iqbal. Dirinya mengaku tidak bisa memilih salah satu negara ketika orang-orang bertanya tentang keterikatan emosionalnya. "I think that's because I respect both sides," tutur Zidane Iqbal.
Baginya, identitas dari kedua belah pihak orang tuanya memiliki kedudukan yang sama penting.
"When people ask me what I feel more connected to, I can't answer. For me, they're both equal. It's about respect and something I carry with a lot of pride," ungkap Zidane Iqbal. Zidane Iqbal menyampaikan harapan agar pencapaian historis ini mampu memotivasi anak-anak muda dari berbagai latar belakang untuk berani mengejar mimpi di dunia sepak bola.
"I'm still young, but I'll be the first Pakistani player to play in the World Cup, so hopefully a few kids that aspire to be a footballer will look at that and believe they can do it too, because football is a hard journey," kata Zidane Iqbal. Ia mengingatkan bahwa jalur menjadi pesepak bola profesional menuntut kerja keras serta konsistensi yang sangat tinggi.
"I think if you ask any professional, it's not easy at all and everyone has their ups and downs," ucap Zidane Iqbal. Zidane Iqbal meyakini anak-anak dari komunitas Asia Selatan maupun latar belakang agama apa pun bisa menembus level tertinggi asalkan memiliki komitmen kuat. "A lot of commitment and hard work is needed.
So hopefully when kids see people trying to be a professional footballer, or me, they see those of South Asian heritage or even of any heritage, that you can make it from any background, any area, wherever you're from, any religion. Hopefully they see that, and it inspires them," jelas Zidane Iqbal.
Berdasarkan data FIFA, Pakistan saat ini berada di peringkat 198 dunia dan baru memenangkan satu pertandingan kualifikasi sepanjang sejarahnya, sehingga kehadiran Iqbal menjadi inspirasi besar bagi para penggemar di sana.
Pengelola akun media sosial Pakistani Talents, Ahmed Shahzad, memaparkan bahwa seluruh pencinta sepak bola di Pakistan mengenal sosok Zidane Iqbal dan kini memberikan dukungan penuh kepada timnas Irak. "Every Pakistani football fan knows about Zidane Iqbal," kata Ahmed Shahzad kepada BBC Sport. Menurutnya, representasi pemain Pakistan di panggung tertinggi dunia seperti Piala Dunia sangat minim sepanjang sejarah olahraga negara tersebut.
"Historically, there's been very little Pakistani representation at the top level of football, especially on the global stage like the World Cup - the highest global stage," urai Ahmed Shahzad.
Kehadiran Iqbal dinilai membuat impian berkarier di sepak bola internasional menjadi lebih realistis bagi diaspora maupun warga lokal Pakistan. "And that is a big inspiration for a lot of young Pakistanis, even locally and in the diaspora - the British Pakistanis - and seeing someone openly embrace their identity, as Zidane Iqbal does about competing at the highest level, makes football feel a lot more believable for us of Pakistani backgrounds who play football and want to make it in football," tambah Ahmed Shahzad.
Fenomena ini membuat publik Pakistan merasa memiliki tim nasional yang bisa mereka jagokan di turnamen akbar ini. "I see a lot of people saying that Pakistan now has a nation to support at the World Cup, and they won't be just backing Zidane Iqbal, they will be backing Iraq to go as far as they can in that tournament," kata Ahmed Shahzad.
Dampak dari lonjakan prestasi ini juga dirasakan langsung oleh para pemain sepak bola di tingkat klub lokal Pakistan. Faheem, seorang pemain tingkat klub dari wilayah lembah pegunungan Hunza, mengungkapkan kepada Muslim Network TV bahwa perjalanan karier gelandang Irak tersebut memberikan dampak psikologis yang besar. "Zidane’s story has been really inspiring for us all," kata Faheem.
Keberhasilan seorang pemain berdarah Pakistan menembus turnamen paling bergengsi di dunia dirasa telah memperluas batas batasan ambisi mereka.
"We feel that we too might make it some day," tambah Faheem. Di sisi lain, potret keberhasilan ini memicu refleksi kritis mengenai tipisnya infrastruktur dan sistem pembinaan sepak bola domestik di Pakistan. Ibrahim, seorang pesepak bola klub asal kota Karachi, menyuarakan kebahagiaannya sekaligus menyoroti kenyataan pahit bahwa talenta Pakistan harus berkembang di luar negeri untuk sukses.
"I’m happy for Zidane," ujar Ibrahim.
Ia melihat kasus ini menjadi bukti bahwa pemain lokal sulit bersaing jika hanya mengandalkan sistem sepak bola dalam negeri yang belum mapan. "But his case also shows that if you want to make it, you have to represent some other team," kritik Ibrahim.
Ia berharap ke depan ada perubahan nyata agar para pemain sepak bola lokal bisa membawa nama negara mereka sendiri ke turnamen internasional. "We want to see players in our own colours. We want to see Pakistan on the big stage," tegas Ibrahim.
Langkah Irak di turnamen ini dipastikan tidak mudah karena mereka tergabung di grup berat bersama juara dunia dua kali Prancis, Senegal, dan Norwegia. Irak melaju ke putaran final Piala Dunia 2026 setelah melewati fase kualifikasi panjang sebanyak 21 pertandingan, yang merupakan jumlah laga terbanyak dibanding negara lain. Piala Dunia kali ini merupakan penampilan kedua Irak setelah debut pertama mereka terjadi 40 tahun lalu pada edisi Meksiko 1986.
"I think we've got a free shot," kata Zidane Iqbal mengenai peta persaingan di fase grup.
Iqbal melihat adanya sebuah keindahan historis karena penampilan perdana Irak pada tahun 1986 berlangsung di Meksiko, dan kini mereka kembali bermain di negara yang sama. "We go there, it's our first World Cup in 40 years. Funnily enough, that 1986 World Cup was in Mexico, and now this World Cup is in Mexico.
I think that's beautiful as well," kata Zidane Iqbal. Gelandang FC Utrecht ini menegaskan bahwa Irak datang dengan status tidak diunggulkan sehingga mereka dapat bermain tanpa beban menghadapi tim-tim raksasa dunia.
"But for us, I think we're going there," pungkas Zidane Iqbal.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow