Aktivitas Perdagangan BEI Meningkat Saat IHSG Anjlok ke Level Terendah

Smallest Font
Largest Font

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan rata-rata frekuensi transaksi harian saham naik 14,11 persen menjadi 2,41 juta kali dan volume perdagangan tumbuh 8,66 persen menjadi 33,63 miliar saham pada periode 2 hingga 5 Juni 2026.

Dilansir dari siaran pers resmi BEI melalui Bareksa, peningkatan aktivitas pasar tersebut terjadi di tengah anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 8,69 persen dalam sepekan ke level 5.594,765 yang merupakan titik terendah sejak November 2020.

Data perdagangan menunjukkan kapitalisasi pasar BEI menyusut 8,59 persen menjadi Rp9.807 triliun, sementara rata-rata nilai transaksi harian turun 5,71 persen menjadi Rp26,97 triliun dengan aksi jual bersih investor asing mencapai Rp3,73 triliun dalam sehari.

Secara tahun berjalan (YTD), akumulasi net sell investor asing menembus Rp61,36 triliun, di mana penurunan indeks dari rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.174,47 pada 19 Januari 2026 kini mencapai 36,04 persen.

Kejatuhan indeks turut didorong oleh merosotnya harga saham bank berkapitalisasi besar, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang turun 10,96 persen sepekan ke Rp5.075 dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang melemah 7,12 persen ke Rp2.740.

Analis Korea Investment dan Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi menjelaskan bahwa pelepasan saham kelompok perbankan besar ini bukan disebabkan oleh penurunan kinerja internal perusahaan.

"BBCA dan BBRI dijual asing bukan karena fundamental memburuk. Dua-duanya adalah saham paling likuid di IHSG sehingga jadi instrumen exit pertama kalau asing cash out dari Indonesia," kata Wafi saat dihubungi Kontan.

Menurut catatan performa keuangan per April 2026, BBCA membukukan laba bersih Rp20,81 triliun dan BBRI mengantongi laba bersih Rp15,89 triliun di tengah kondisi Price to Book Value (PBV) BBRI yang menyentuh 1,32 kali.

"Kondisi BBCA dan BBRI saat ini bukan value trap, tapi forced selling yang bikin diskon ekstrem pada bisnis yang fundamentalnya tidak berubah," kata Wafi menambahkan.

Aksi jual massal oleh pemodal internasional ini memposisikan kinerja bursa saham Indonesia di peringkat ke-35 dari 36 bursa dunia per 5 Juni 2026, berada di bawah pertumbuhan positif negara ASEAN lain seperti Thailand dan Singapura.

Founder Republik Investor, Hendra Wardana menyatakan bahwa fluktuasi jangka pendek pasar modal domestik saat ini masih berada dalam fase konsolidasi yang menantang.

“Pergerakan IHSG dalam jangka pendek masih berpotensi fluktuatif dengan kecenderungan berada dalam fase konsolidasi,” ungkap Hendra kepada Kontan.

Ia menggarisbawahi bahwa koreksi yang berlangsung dipengaruhi oleh bertahannya era suku bunga tinggi global dalam jangka waktu lama yang mengurangi daya tarik instrumen ekuitas.

“Potensi rebound tetap ada apabila muncul sentimen positif seperti stabilisasi rupiah, meredanya tekanan global, atau kebijakan yang mampu meningkatkan kepercayaan investor,” jelasnya.

Kenaikan suku bunga tersebut memicu pemindahan aset oleh pemodal menuju instrumen pendapatan tetap dan obligasi.

“Suku bunga tinggi membuat instrumen seperti obligasi dan pendapatan tetap menjadi lebih menarik, sehingga daya tarik saham berkurang,” katanya.

Hendra memproksimasi aliran dana dari pelaku pasar global akan bersikap konservatif terhadap aset berisiko di negara berkembang.

“Arus dana asing akan sangat ditentukan oleh kebijakan suku bunga The Fed dan persepsi terhadap stabilitas ekonomi Indonesia,” imbuhnya.

Investor disarankan untuk terus melakukan diversifikasi portofolio pada emiten sektor perbankan, konsumer, dan telekomunikasi yang memiliki rasio utang rendah.

“Bagi investor jangka panjang, fase koreksi yang dalam justru bisa demanfaatkan untuk akumulasi saham berkualitas dengan valuasi yang lebih menarik,” tegasnya.

Penurunan indeks saham domestik ini juga berimbas pada pelemahan mata uang rupiah yang terdepresiasi 0,84 persen dalam sepekan ke level Rp18.015 per dolar AS akibat penguatan dolar global.

“Ketika kepercayaan investor menurun, dampaknya tidak hanya pada IHSG, tetapi juga pada rupiah dan arus modal keluar,” jelasnya.

Kondisi bearish pasar keuangan turut diiringi rilis data Badan Pusat Statistik yang menunjukkan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Mei 2026 naik menjadi 3,08 persen secara tahunan (yoy) dengan surplus neraca perdagangan April yang menyusut ke angka 90 juta dolar AS.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Budi Frensidy memaparkan bahwa pergerakan indeks ke depan masih dibayangi oleh sentimen makro global.

“Dalam jangka pendek, IHSG masih berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan tertekan karena sentimen global dan arus keluar dana asing yang masih besar,” ujarnya kepada Kontan.

Peluang terjadinya technical rebound dinilai tetap terbuka setelah indeks saham terkoreksi hingga lebih dari sepertiga nilai puncaknya.

“Setelah koreksi lebih dari 36% dari ATH, peluang rebound juga semakin terbuka, terutama jika tekanan jual mulai mereda,” tambahnya.

Faktor penyesuaian nilai pasar emiten dipengaruhi secara langsung oleh peningkatan biaya pendanaan korporasi akibat kebijakan moneter ketat.

“Suku bunga tinggi membuat alternatif investasi di deposito dan obligasi lebih menarik, sementara biaya pendanaan perusahaan juga meningkat. Ini mendorong valuasi saham mengalami penyesuaian,” jelasnya.

Ia memproyeksikan perbaikan arus modal masuk yang konsisten membutuhkan waktu hingga indikator ekonomi makro dalam negeri menunjukkan tren penguatan.

“Investor global saat ini lebih selektif terhadap emerging markets. Arus masuk yang lebih konsisten kemungkinan baru terjadi jika sentimen global membaik, rupiah stabil, dan kepercayaan terhadap pasar domestik meningkat,” katanya.

Para pelaku pasar diimbau untuk membatasi instrumen transaksi berbasis utang dan margin selama volatilitas perdagangan berjalan tinggi.

“Fokus sebaiknya pada kualitas emiten, bukan sekadar harga yang sudah turun dalam,” tegasnya.

Di luar pasar saham, BEI bersama Kementerian Keuangan mencatat nilai transaksi Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) untuk Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) mencapai Rp602,9 triliun hingga 29 Mei 2026, atau melonjak 114,3 persen dibandingkan tahun lalu.

Pengembangan infrastruktur pasar modal juga dilanjutkan melalui kegiatan literasi bursa karbon di Surabaya oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama pelaku industri, sementara rilis data cadangan devisa periode Mei dijadwalkan keluar pada hari Senin.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed