Argentina Tekuk Mesir Melalui Kebangkitan Dramatis di Piala Dunia 2026
Tim nasional Argentina berhasil memastikan diri lolos ke babak perempat final Piala Dunia 2026 setelah menumbangkan Mesir dengan skor 3-2 di Atlanta pada Selasa sore, 7 Juli 2026.
Kemenangan dramatis skuad asuhan Lionel Scaloni tersebut diraih setelah mereka sempat tertinggal dua gol terlebih dahulu sebelum membalikkan kedudukan dalam sebelas menit terakhir pertandingan babak 16 besar.
Berdasarkan data statistik pertandingan yang dilansir as.com, Argentina mendominasi penguasaan bola hingga 63,6 persen berbanding 36,4 persen milik Mesir.
Tim Albiceleste juga mencatatkan angka perkiraan gol (xG) sebesar 2,80 yang jauh melampaui Mesir dengan 0,98 xG, serta melepaskan total 19 tembakan di sepanjang laga.
Mesir mengejutkan sang juara bertahan melalui gol sundulan Yasser Ibrahim pada menit ke-15 dan penyelesaian akhir Mostafa Zico pada menit ke-67 yang memanfaatkan serangan balik cepat.
Argentina sempat berada dalam situasi kritis setelah Lionel Messi gagal mengeksekusi penalti pada babak pertama akibat penyelamatan gemilang dari penjaga gawang Mesir, Mostafa Shobeir.
Model probabilitas kemenangan dari Opta bahkan sempat menunjukkan peluang Argentina untuk bangkit hanya sebesar 0,6 persen saat mereka tertinggal dua gol.
Kebangkitan Argentina dimulai pada menit ke-79 ketika Cristian Romero mencetak gol lewat sundulan kepala setelah menerima umpan silang akurat dari Lionel Messi.
Tiga menit berselang, Lionel Messi menyamakan kedudukan melalui tembakan keras kaki kiri yang sempat menyentuh kiper dan mistar gawang sebelum melewati garis gol.
Kemenangan Argentina dipastikan pada menit ke-92 setelah Enzo Fernandez berhasil mengonversi umpan silang dari Lautaro Martinez menjadi gol ketiga melalui sundulan.
Keberhasilan membalikkan situasi ini memicu reaksi luas dari media internasional, termasuk jurnalis James Horncastle yang menulis laporan untuk The New York Times melalui bagian olahraga The Athletic.
Horncastle menyoroti intensitas emosional yang dirasakan oleh para pendukung Argentina dalam menjalani pertandingan tersebut.
"Cuando ves jugar a Argentina, entiendes por qué. Después de cada partido, necesitas hablar con alguien. Tienes que compartir lo que has vivido. ‘¿Me estoy volviendo loco? ¿Es esto normal? ¿Cómo lo afronto?’.
En un momento estás por los suelos, abatido y deprimido; al siguiente, estás en el cielo, eufórico. La adrenalina. La dopamina.
Es un psicodélico natural. No es de extrañar que los argentinos sigan a su selección a todas prema partes. Esto es más que patriotismo.
Es una adicción. Todo el mundo te dice que no es sano. Sabes que deberías dejarlo.
Pero nada te ha hecho sentir así antes y ansías volver a sentir esa sensación una y otra y otra vez", tulis James Horncastle.
Dia juga menambahkan bahwa atmosfer turnamen ini dipenuhi oleh kejutan, namun performa Argentina tetap menjadi representasi utama dari dinamika tersebut.
"Puede que todos necesitemos descansar. ¿Dónde está el número de uno de esos terapeutas de Buenos Aires?", tambah James Horncastle.
Pelatih tim nasional Argentina, Lionel Scaloni, mengungkapkan perasaan emosionalnya secara langsung dalam sesi konferensi pers setelah pertandingan berakhir.
"Me hice entrenador para tener estas emociones, las emociones que te da un partido de fútbol, que nos da a los argentinos, es inigualable. Volver a recrear esa emoción... Soy entrenador por esto", ujar Lionel Scaloni.
Mantan pemain sepak bola Amerika, Tom Brady, turut memberikan komentar mengenai jalannya pertandingan melalui sebuah unggahan di media sosial X.
"Esto podría superar el 28-3", tulis Tom Brady.
Langkah Argentina kini berlanjut ke babak delapan besar, sementara Mesir harus tersingkir dari turnamen setelah performa kompetitif mereka di Atlanta.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow