Argentina Tundukkan Aljazair di Piala Dunia 2026

Smallest Font
Largest Font

Tim nasional Aljazair menelan kekalahan telak 0-3 dari Argentina dalam pertandingan pembuka Grup J Piala Dunia 2026 di Stadion Arrowhead, Kansas City, pada Rabu, 17 Juni 2026 pagi WIB.

Tiga gol kemenangan Argentina seluruhnya diborong oleh kapten Lionel Messi, yang sekaligus menjadikannya pemain pertama yang mencetak hat-trick di turnamen ini, sementara penjaga gawang Aljazair Luca Zidane mendapat sorotan tajam.

Kekalahan ini menempatkan Aljazair di posisi juru kunci Grup G tanpa poin, sementara Argentina memimpin klasemen di atas Austria yang mengalahkan Yordania dengan skor 3-1.

Pascapertandingan, performa Luca Zidane memicu gelombang kritik dari para penggemar sepak bola di media sosial karena dinilai tampil kurang maksimal dalam mengawal gawang Aljazair.

"Apakah kita heran kalau Luca Zidane tidak bisa menahan tendangan Messi? Dia benar-benar takut setengah mati sama bola," ujar salah satu penggemar di media sosial X seperti dilansir dari sport.detik.com.

Kritik dari netizen terus mengalir deras mengingat beberapa gol dinilai terjadi akibat kesalahan antisipasi pertahanan.

"Messi memang yang terbaik, tapi jujur saja, tadi dia mendapat bantuan dari Luca Zidane dan strategi pertahanan yang tenang dari Aljazair," tutur penggemar lainnya.

Kekecewaan publik atas hasil minor di pertandingan perdana ini disuarakan secara terbuka oleh pendukung Pejuang Gurun.

"Luca Zidane menjadi penyebab kekalahan Aljazair dalam pertandingan tadi malam," kata seorang penggemar yang kesal.

Sebelum gelaran turnamen, Luca Zidane sempat membagikan kisah kedekatannya dengan budaya Aljazair serta perjalanannya memilih tim nasional ini kepada media The Athletic.

"We’ve lived in an Algerian culture since we were small," kata Luca Zidane, Penjaga Gawang Aljazair.

Keputusan membela negara asal kakek dan neneknya tersebut diakui Luca mendapat dukungan penuh dari seluruh anggota keluarga besarnya.

"It’s an honour to play for Algeria. The final decision was mine, but I spoke with my family, my parents, my brothers, my grandfather. My father was happy, he knew it was something I wanted to do. To be able to play in a World Cup is a dream for any kid." ujar Luca Zidane, Penjaga Gawang Aljazair.

Kiper berusia 28 tahun itu juga menceritakan bagaimana ia memandang momen bersejarah ketika ayahnya mendapat kartu merah pada final Piala Dunia dua dekade silam.

"What happened happened. Football is like that," tutur Luca Zidane, Penjaga Gawang Aljazair.

Sebelum menghadapi Albiceleste, ia menyadari sepenuhnya kualitas besar yang dimiliki oleh sang kapten lawan namun tetap optimistis dengan kekuatan timnya.

"Messi is one of the greatest players in history," ungkap Luca Zidane, Penjaga Gawang Aljazair.

Ia meyakini Aljazair memiliki potensi besar untuk memberikan kejutan berkat kehadiran beberapa pemain kunci di lini serang mereka.

"But Algeria is a big football nation. We can surprise people. And we have our own threats: (Riyad) Mahrez is a great player too." jelas Luca Zidane, Penjaga Gawang Aljazair.

Menyandang nama besar sang ayah di dunia sepak bola diakui Luca membawa konsekuensi tersendiri berupa perhatian ekstra dari publik.

"When you’re called Zidane, everything you do has more of an impact," ucap Luca Zidane, Penjaga Gawang Aljazair.

Tekanan dari media dirasakannya sejak usia dini, namun ia memilih fokus untuk terus berkembang sebagai penjaga gawang profesional.

"People are waiting for something bad to happen, so they can talk about it. But I’ve had to deal with it since I was small, so it’s natural for me. I’m always trying to improve every day, to be as good a goalkeeper as I can be." kata Luca Zidane, Penjaga Gawang Aljazair.

Luca juga mengenang masa remajanya di Spanyol yang dihabiskan dengan berlatih sepak bola secara kompetitif bersama saudara-saudaranya.

"Ever since we were very small we’d all go to (Real Madrid’s) Valdebebas (academy) to train," tutur Luca Zidane, Penjaga Gawang Aljazair.

Aktivitas bermain sepak bola di rumah menjadi memori masa kecil yang sangat berkesan bagi kiper klub Granada tersebut.

"We’d also play the whole day at home: two against two in the garden." ujar Luca Zidane, Penjaga Gawang Aljazair.

Persaingan ketat di antara sesama saudara laki-laki terkadang menimbulkan perdebatan kecil yang mewarnai keseharian mereka.

"There’d be some rows too, we’re all competitive. My mum used to get a bit tired of it, but they’re really good memories." jelas Luca Zidane, Penjaga Gawang Aljazair.

Ia pun menceritakan dinamika profesional ketika sang ayah, Zinedine Zidane, bertindak sebagai pelatih kepala selama dirinya berada di skuad utama Real Madrid.

"At home he’s your father, but when you go to Valdebebas he’s just the coach," ungkap Luca Zidane, Penjaga Gawang Aljazair.

Sikap disiplin tinggi diterapkan oleh sang ayah demi membentuk mentalitas bertanding yang kuat pada dirinya.

"He could be a bit harder on you than on the other players, but it didn't bother me. At that age, whoever is your coach, you have to work hard every day to get to the highest level possible." ucap Luca Zidane, Penjaga Gawang Aljazair.

Persaingan ketat memperebutkan posisi utama di Real Madrid akhirnya membuat Luca memutuskan pindah ke beberapa klub lain demi menit bermain reguler.

"Navas was there, Kiko Casilla and then (Thibaut) Courtois was signed," kenang Luca Zidane, Penjaga Gawang Aljazair.

Keputusan bergabung dengan Racing Santander menjadi langkah krusial untuk menjaga kelangsungan karier sepak bolanya secara mingguan.

"I went to Racing to play every week, which is the most important thing." kata Luca Zidane, Penjaga Gawang Aljazair.

Hingga kini, kebiasaan dan tradisi Aljazair tetap dipertahankan dengan kuat oleh keluarga besar Zidane yang menetap di Marseille.

"In Marseille, we eat Algerian food, speak the language," papar Luca Zidane, Penjaga Gawang Aljazair.

Nilai-nilai kehidupan yang diajarkan oleh sang kakek diwariskan secara turun-temurun sebagai prinsip dasar dalam bekerja keras.

"My grandfather taught my father Algerian values, and my father taught them to us. Above all, to respect people, to work hard, that nobody gives you anything for free. Also to be serious, and to be ambitious, which" tutur Luca Zidane, Penjaga Gawang Aljazair.

Sementara itu, legenda Prancis Zinedine Zidane dilaporkan berada di tribun stadion untuk menyaksikan pertandingan dan sempat berbincang dengan staf teknis Aljazair guna memberikan dukungan moral setelah laga usai.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed