Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan untuk Stabilkan Rupiah
Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada Selasa (9/6/2026) setelah nilai tukar rupiah mengalami depresiasi tajam hingga menembus angka Rp18.000 per dolar AS. Langkah moneter ini diambil di tengah ketidakpastian global yang memicu arus modal keluar dari pasar keuangan domestik.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan bahwa keputusan pengetatan moneter tersebut didorong oleh penurunan nilai mata uang rupiah yang melampaui proyeksi awal bank sentral. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang rupiah sempat ditutup menguat 129 poin ke level Rp18.058 per dolar AS pada hari Selasa setelah sebelumnya bertengger di posisi Rp18.187.
Selain terhadap dolar AS, penurunan performa rupiah juga terjadi terhadap sejumlah mata uang di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur. Di tengah gejolak pasar finansial tersebut, Bank Indonesia berupaya meningkatkan daya tarik aset domestik dengan menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk tenor enam, sembilan, dan 12 bulan.
Evaluasi internal Bank Indonesia menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang nasional diperparah oleh tingginya permintaan valuta asing di dalam negeri dan berlanjutnya aksi jual portofolio asing pada periode April hingga Mei.
"Dalam evaluasi terbaru kami, kami menemukan bahwa depresiasi rupiah telah melebihi proyeksi kami sebelumnya," kata Perry Warjiyo.
Penurunan nilai tukar ini memicu penyesuaian kebijakan moneter agar target inflasi nasional tetap berada pada kisaran 2,5 persen plus minus satu persen untuk periode 2026 dan 2027.
"Karena rupiah telah melemah melampaui apa yang kami proyeksikan sebelumnya, kami mengambil langkah-langkah tambahan untuk menstabilkan nilai tukar," ujar Perry Warjiyo.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal International Economic Association Lili Yan Ing menilai pelemahan rupiah terhadap mata uang regional menunjukkan adanya penurunan kepercayaan dari para pelaku pasar dan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
"Nilai tukar adalah tentang kepercayaan. Investor dan pelaku usaha tidak lagi menaruh kepercayaan mereka pada rupiah Indonesia dan memilih mata uang serta tujuan investasi lain sebagai gantinya," kata Lili Yan Ing.
Ekonom tersebut juga menyoroti posisi kurs rupiah yang telah melampaui level psikologis penting dan membandingkannya dengan situasi krisis finansial masa lalu.
"Sejak tahun lalu, saya sudah memperingatkan bahwa patokan kita adalah Rp17.000. Mengapa Rp17.000? Karena saat krisis keuangan Asia, rupiah mencapai sekitar Rp16.800 per dolar.
Banyak orang, termasuk mereka yang di pemerintahan, berpendapat bahwa itu bukan perbandingan yang setara. Namun dalam pandangan saya, itu adalah tingkat kepercayaan pasar ketika Indonesia menghadapi kondisi terburuknya," ujar Lili Yan Ing.
Penurunan indeks nilai tukar rupiah terlihat nyata saat disandingkan dengan mata uang seperti won Korea Selatan, dolar Singapura, baht Thailand, dan ringgit Malaysia.
"Jika kita membuat indeks, rupiah juga mengalami penurunan relatif terhadap won Korea, dolar Singapura, baht Thailand, dan ringgit Malaysia. Mengapa? Sesederhana itu: kepercayaan," kata Lili Yan Ing.
Kondisi pasar saat ini memaksa para pelaku usaha untuk merespons dinamika kurs yang terus bergerak secara fluktuatif dibanding negara-negara tetangga.
"Itu berarti investor dan pelaku usaha memilih mata uang lain dan tujuan investasi lain daripada Indonesia. Itulah mengapa nilai tukar merupakan ukuran kepercayaan, dan kita harus melihatnya relatif terhadap negara lain," ujar Lili Yan Ing.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow